
Sore hari Via, Rara dan Tomi datang ke kediaman Clovis.
"Beneran Diana tinggal disini?"
"Bener Tom, kan udah gue jelasin kalo Diana beneran nikah sama Tuan Clovis"
"Masih nggak nyangka aja gue. Lo duluan" Tomi berjalan di belakang Via dan Rara.
"Permisi Bi, apa Diana ada?"
"Oh, ada Non. Maaf, Non dan Tuan siapanya Nona Diana?"
"Saya teman kampusnya Bi, Saya sudah bilang pada Diana akan datang hari ini"
"Baik Non, Tuan. Silahkan tunggu di dalam" Bi Wida membukakan pintu dan membiarkan Via, Rara dan Tomi di ruang tamu.
"Beneran Diana nikah sama Tuan Clovis" Tomi melihat beberapa foto pernikahan Diana dan Clovis terpasang di ruang tamu.
"Iya beneran, lo pikir Diana ngehalu apa?"
Diana menghampiri Via, Rara dan Tomi di ruang tamu.
"Di, lo nggak kenapa-kenapa?"
"Ngga Vi, tapi gue dilarang buat ke kantor lagi"
"Kebetulan Di, gue dapet info. Besok lusa dosen Kita ada rapat fakultas. Jadi kemungkinan penutupan magang Kita dilaksanakan besok"
"Serius? Laporan belum beres"
"Tenang Di, Kita selesaikan hari ini"
"Oke gue bawa laptop dulu ya"
Diana meninggalkan Via, Rara dan Tomi. Terlihat Clovis keluar dari ruang kerja, Via dan Rara nampak ketakutan. Mereka merasa telah lalai mengawasi Diana.
Clovis mengabaikan keberadaan mereka, "Tuan Clovis nampak lebih muda dengan pakaian kaya tadi. Pantes Diana mau nikah sama dia" Tomi bergumam. Via dan Rara masih tidak berani mengangkat kepalanya.
Diana datang dengan membawa laptop. "Di, gue minta file nya aja deh. Biar Kita kerjakan di rumah Via. Lo kan lagi sakit"
"Loh kenapa? Gue baik-baik aja ko"
__ADS_1
"Lo harus istirahat Di, Kita cuma mau kasih kabar itu aja sama lo dan Kita seneng kalo lo baik-baik aja"
"Iya Di, Kita minta file ya"
"Oh oke"
Diana mengcopy beberapa file dan memberikannya kepada Via. "Beneran nggak apa-apa nih?"
"Beneran Di, kalo gitu Kita pamit ya"
Via, Rra dan Tomi bergegas untuk pulang. "Kenapa buru-buru sih?"
"Ujan Tom, ayo cepet" Rara dan Via segera masuk ke dalam mobil. Tomi tidak mempunyai pilihan selain mengikuti mereka.
"Heran gue sama Kalian. Tadi buru-buru pengen ketemu Diana sekarang lo pada buru-buru ninggalin dia. Kalo cuma file kan bisa kirim lewat email"
"Udah deh Tom jangan banyak komen, mending lo bantuin Kita selesaikan laporan minggu ini"
Clovis mendapati Diana sedang duduk menonton tv di ruang tengah. "Loh bukannya beresin laporan?"
"Nggak tau tuh, Via sama Rara pengen ngerjain di rumah Via. Oh ya Mas, besok Kita jadi penutupan magang, serah terima tugas"
"Tio udah telpon Aku tadi"
"Loh, itu urusan kantor. Kalo masalah pribadi, mungkin Aku akan cerita. Aku nggak mau urusan kantor ada di rumah ini"
"Iya iya, presdir menyebalkan"
Di rumah Via, Tomi dan Rara sedang mengerjakan laporan. Via memberikan beberapa cemilan untuk mereka.
"Ra, gue ngerasa nggak enak sama Tuan Clovis"
"Sama, gue jadi penasaran siapa ya yang melakukan itu sama Diana?"
"Gue ketinggalan info, ada apa sih?"
"Ah udah deh lo nggak usah tau, ribet"
Tomi tidak ambil pusing, dia memakan beberapa cemilan dan merebahkan tubuhnya, tidak butuh waktu lama dia sudah berada di alam mimpinya.
"Dia tidur?"
__ADS_1
"Udah deh lebih baik dia tidur, bangun pun nggak membantu kan"
"Menurut lo siapa pelakunya?" Rara mengambil beberapa cemilan dan memakannya.
"Vina lah, siapa lagi?"
"Lo yakin? Tapi Kita belum punya bukti"
"Diana itu orangnya cantik, baik, ramah. Jadi nggak mungkin dia punya musuh begitu saja. Siapa lagi coba yang bermasalah dengannya?"
"Bener juga. Pokonya Kita jangan sampai lengah lagi"
Di kediaman Clovis, Diana dan Clovis sedang menonton film yang direkomendasikan oleh Diana. Clovis beberapa kali menguap, Diana sedang asik menonton dengan posisi tiduran di atas pangkuan Clovis.
"Honey, film apaan sih ini?"
Tidak ada jawaban sama sekali, Clovis menundukkan kepalanya dan melihat Diana yang sudah terlelap.
"Dia saja tidur, bagaimana denganku?"
Kliiikk... Tiba-tiba seluruh penerangan di rumah Clovis padam, Clovis mencari ponsel untuk penerangan namun tidak berhasil karena kakinya ditindih oleh Diana.
Diana mengerjapkan matanya, namun sekeliling terasa sangat gelap. "Sayang, Kamu dimana? Sayaaaang..." Diana menangis saat menyadari tidak ada pencahayaan sama sekali.
"Ini Aku, tenanglah Sayang. Sepertinya terjadi korsleting listrik" Clovis mencari ponselnya kemudian menelpon petugas listrik.
Tiga puluh menit kemudian lampu pun kembali menyala, Diana masih tetap memeluk Clovis dengam posisi wajah yang ia tutup.
"Sayang, lampunya sudah menyala" namun Diana terlihat menggigil, air mata masih terus mengalir dan ia enggan untuk membuka matanya.
"Sayang, are you okey? Honey? Bi... Bi Wida, panggilkan Sean. Suruh dia kemari sekarang juga" Sean merupakan sahabat sekaligus dokter keluarga Bramantio.
"Baik Tuan" Bi Wida segera menelpon.
Clovis menyelimuti tubuh Diana dan terus memeluknya. "Honey, Aku tidak ingin Kamu seperti ini" Clovis terus mengusap air mata yang mengalir di pipi Diana.
...****************...
Hallow Kakak Zheyeeenk...
Maaf nih kalo ada yg komen "Lama up nya, keburu lupa alurnya"
__ADS_1
Saran Saya, kalian bisa baca ulang dari awal Zheyeenk 🤗🤗
dan untuk yang merasa tidak cukup dg 1 episode, Aku minta maaf. Aku nggak bisa menjamin bisa up dengan episode yang panjaaang dan rutin. Sekarang sekolah daring sudah mulai, jadi tolong dimaklum yaa Zheyeenk kuuu 😘😘😘