
Pagi hari Diana terbangun, dilihatnya jam menunjukkan pukul delapan. "Waaaaa Aku kesiangan" Diana berlari ke kamar mandi. Dia bergegas bersiap untuk pergi ke kantor.
"Gawat, udah pasti kesiangan ini. Gimana nasib Via, Rara dan Tomi? Tuan Clovis pasti akan memarahiku lagi?"
Kruuukkk, perut Diana berbunyi. "Perutku lapar sekali, sepertinya Aku belum makan sejak kemarin siang" Diana mencari sesuatu di dapur. Namun dia terkejut saat melihat beberapa piring kotor di atas meja. "Siapa yang makan disini? Jangan-jangan ada penyelundup?" Diana mencari ke bawah meja. Namun tidak menemukannya. Diana berjalan menuju ruang tamu, dia terkejut saat melihat Clovis tengah tidur di atas sofa.
"Tuan Clovis? Kenapa dia ada disini?"
Clovis terbangun karena sinar matahari tepat mengenai wajahnya, Diana begitu takjub melihat pemandangan indah di depan matanya. Jantungnya berdegub kencang namun mata Clovis langsung terkunci pada Diana, Diana segera mengalihkan pandangannya.
"Kenapa Anda disini Tuan?"
"Aku sudah berjanji kepada orangtuamu untuk menjagamu. Jadi tentu saja Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian"
"Tapi orangtua ku tidak ada disini dan Anda tidak perlu repot-repot menjagaku"
"Aku khawatir Kamu kembali pingsan, seperti saat itu"
"Karena pancar Anda kembali?"
"Iya mungkin saja"
"Saya tidak ingin pacar Anda salah paham kepada Saya. Saya pikir Anda membawa pacar Anda ke rumah dan..."
"Saya bukan laki-laki yang seperti itu. Ketika seorang perempuan menjaga kehormatannya, maka tidak menutup kemungkinan seorang laki-laki pun melakukan hal yang sama"
Padangan Diana tiba-tiba menjadi buram karena air mata yang tiba-tiba keluar dari persembunyiannya. "Saya... Saya permisi, Saya tidak ingin terlambat dan mengorbankan nasib sahabat-sahabat Saya"
Clovis melihat jam di dinding "Ini sudah terlambat, tunggulah sebentar. Aku akan mandi dulu, Kita akan berangkat bersama"
"Tapi..."
__ADS_1
"Atau Kamu akan benar-benar mendapat masalah" Clovis meninggalkan Diana dan pergi menuju kamar mandi. Diana melihat pakaian Clovis yang digantung di dekat sofa. Diana mengambil dan merapihkannya, Diana menyimpan pakaian tersebut di atas tempat tidurnya kemudian kembali duduk di ruang tengah.
Tak lama kemudian Covis keluar dari kamar mandi, lagi-lagi Diana begitu terpesona melihat tubuh Clovis yang sempurna. "Kenapa?"
"Emm tidak, pakaian Anda di dalam kamar"
Clovis meninggalkan Diana dan pergi ke dalam kamar. Diana memegangi dadanya yang berdegub kencang "Bisa terkena serangan jantung Aku kalau terus seperti ini"
Diana memainkan ponselnya, dia menghubungi Via dan Rara melalui sebuah grup sosmed.
Diana : "Gue bakalan telat banget"
Via : "Lo dimana Di? Kak Shella udah nanyain lo terus ni"
Diana : "Gue masih di apartemen, sama Tuan Clovis"
Rara : "What? Udah ngapain lo berduaan?"
Diana : "Udah deh kerja yang bener, nanti Gue berangkat sama Tuan Clovis. Kalo ada yang nanyain, bilangin aja Gue ada keperluan dulu"
Via : "Wah Nyonya Clovis nyuruh Kita kerja yang bener. Oke deh lo hati-hati ya Di, ntar lo beneran cinta loh sama Tuan Clovis"
Rara : "Udah cinta woii"
Diana menggeleng-gelengkan kepalanya dan memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya. Diana melihat pintu kamar yang masih tertutup. "Belum beres?"
"Sebentar"
"Udah jam setengah sembilan"
Clovis keluar dengan pakaian rapihnya, Diana menatap Clovis dengan aneh.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Kemana dasinya?"
"Ketinggalan kayanya, Aku cari pun nggak ada" Diana hanya menganggukkan kepalanya. Diana dan Clovis menaiki mobil milik Clovis.
"Apa sebaiknya Kita menggunakan mobil masing-masing? Supaya mudah untuk pulang"
"Tidak"
Diana hanya diam saja mendengar penolakan Clovis. Mobil melaju perlahan padahal jalanan cukup lancar. Di pertengahan jalan, Clovis membelokkan mobilnya ke area parkir sebuah mall.
"Kemana dulu?"
"Makan, emang Kamu nggak lapar?"
"Sedikit"
"Jelas sedikit, semalam makanmu banyak sekali"
"Semalam? Saya tidak makan"
"Kamu pikir siapa yang menghabiskan makanan di meja dapur?"
Diana menutup mulutnya, dia menyadari kebiasaannya ketika sedang tidur.
"Anda... Anda tidak bertanya yang aneh-aneh kan selama Saya tidur?"
"Aku bertanya, apa Kamu mencintaiku? Kamu jawab iya. Kamu pulang ke apartemen karena cemburu"
Diana membelalakkan matanya, Clovis merasa puas karena sudah mengerjai Diana. Bibirnya menggambarkan sedikit senyuman, dan tak ada orang yang menyadarinya.
__ADS_1
......................