
Siang hari seluruh anggota keluarga kembali ke kediamannya masing-masing. Keluarga Alexander dan keluarga Bramantio mengantarkan Diana ke kediaman Clovis.
"Kamu baik-baik disini ya sayang" Mommy memeluk dan mencium kedua pipi putrinya.
"Daddy titip Diana ya Clovis. Maaf kalau dia sedikit manja, Daddy percaya sama Kamu" Daddy menepuk pundak Clovis.
"Baik Daddy, Clovis akan menjaga Diana dengan sangat baik"
"Diana, Kamu sekarang adalah istri dari Clovis. Kamu harus menurutinya dan jangan membantah. Jadi istri yang baik ya. Daddy menyayangimu" Diana hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalian beneran mau kembali ke Jerman?" Diana merengek kepada Mommy.
"Daddy tidak bisa meninggalkan pekerjaan terlalu lama sayang. Nanti kalau kalian punya bayi, Mommy sama Daddy pasti kesini untuk menengok"
"Uhuuukk... Aku, Aku ke kamar mandi dulu Mom"
"Sayang, jangan bilang kalau Kita akan mempunyai cucu secepat ini" Seluruh anggota keluarga tertawa kecuali Diana. Dia membelalakkan matanya dan segera berlari meninggalkan mereka.
"Nak Clovis, Mommy titip Diana ya. Kami harus segera kembali ke Jerman. Kalau ada apa-apa tolong jangan marahi Diana apalagi menyakitinya. Kamu cukup kembalikan saja dia kepada Kami. Kami siap menerima dia kembali. Namun jika Kamu menyakitinya, Kami tidak bisa memaafkanmu"
"Iya Mommy, Clovis akan menjaga Diana dengan sangat baik. Kalian bisa mempercayakan Diana kepada Clovis."
"Wah lihat Daddy, anak Kita sudah dewasa" Tuan dan Nyonya Bramantio begitu bahagia melihat perubahan sikap Clovis. Selama ini Clovis merupakan type anak yang menyendiri, dia tidak cukup dekat dengan orangtuanya. Bahkan sejak Clovis kuliah di luar negeri, mereka jarang sekali bertemu.
"Kamu selalu menganggap Clovis anak kecil. Dia sudah menjadi seorang presdir. Semua orang di kantor menyeganinya. Oh iya Daddy tidak melihat karyawan kantor di pesta pernikahan kalian?"
__ADS_1
"Oh itu, sebenarnya di kantor sedang sibuk karena pemesanan yang begitu tinggi. Jadi hampir seluruh karyawan kantor melakukan kerja lembur"
"Jangan terlalu ketat mempekerjakan mereka sayang. Itu adalah moment spesialmu. Mereka berhak menikmatinya"
"Tidak Mommy, Clovis presdir yang baik"
"Bohong..." Diana keluar dari kamar mandi.
"Bohong apanya?" Clovis terlihat terkejut.
"Dia presdir yang dingin, karyawannya pada takut, bahkan dia terkenal dengan sifatnya yang super nyebelin"
"Loh bukannya itu bagus. Masa Aku harus senyum-senyum nggak jelas ke mereka, yang ada itu aneh"
Kriiing... Kriiing...
"Hallo..." Tuan Alexander mengangkat ponselnya.
"Kami pamit sekarang ya, mobil dari bandara sudah menjemput"
"Loh, Diana kira kalian akan pulang nanti malam"
"Malam di Jerman sayang" Mommy memeluk putri semata wayangnya. "Mommy masih kangen, udah lama Mommy nggak bertemu Kamu"
"Diana juga kangen banget sama Mommy"
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik ya" Daddy mengusap kepala Diana dan memeluknya. Kemudian dia juga memeluk Clovis serta Tuan Bramantio.
"Kami pamit dulu"
"Diana antar ke bandara Mom?"
"No sayang, kalian pasti lelah. Jadi istirahatlah. Mommy akan menghubungimu sesampainya di Jerman"
"Iya Mom" Diana sekali lagi memeluk perempuan paruh baya yang telah melahirkannya dua puluh satu tahun yang lalu.
Diana melambai-lambaikan tangannya saat mobil jemputan pergi membawa Tuan dan Nyonya Alexander.
"Kalau begitu Mommy dan Daddy akan pulang juga ya. Kalian baik-baik disini"
"Iya Mommy" Diana memeluk Nyonya Bramantio dan mereka pun pergi meninggalkan pekarangan rumah diantar oleh sopir keluarga.
"Tuan Clovis?" Diana melihat Clovis dengan tajam.
"Kenapa? Apa yang akan Kamu lakukan?"
"Saya benar-benar tidak mengerti dengan motif Anda. Via dan Rara bilang kalau Anda yang mendesain kamar pengantin Kita"
"A..Apa? Itu... Aku hanya melakukan yang orang lain biasa lakukan. Aku tidak ingin dibilang sebagai suami yang super nyebelin" Clovis melewati Diana dan meninggalkannya di halaman rumah.
"Dasar... Orang tua gengsian" Diana terlihat kesal.
__ADS_1