
Via dan Rara mendatangi apartemen Diana. Dipanggilnya Diana namun tak kunjung ada jawaban. "Apa Diana nggak ada di dalam? Tapi kemana ya?" Via menelpon Diana dan akhirnya pintu pun terbuka. Terlihat penampilan Diana yang kusut, mata sembab.
"Di, kenapa? Lo kenapa Di?"
"Keno nyakitin lo nyampe segininya?" Diana kembali menuju kamar dan diikuti oleh sahabatnya.
"Di, lo cerita sama Kita. Lo kenapa Di?"
Diana kembali menangis, kini tangisannya kembali pecah. "Gue... Gue difitnah"
"Difitnah? Sama siapa? Berani-beraninya dia fitnah sahabat Gue. Ayo Di bilang, Gue datengin orang itu" Via terlihat marah.
"Sama Mommy dan Daddy Gue"
"What????"
Diana menceritakan kejadian saat kedua orangtuanya menggerebeknya tadi pagi, Via dan Rara begitu terkejut. "Tuan Clovis bilang mau nikahin lo?"
"Niat banget dia, Gue kira dia beneran nggak suka perempuan. Kayanya ini akal-akalan dia deh Di"
"Iya bener. Lagian kenapa dia tidur di apartemen lo? Kenapa dia nggak langsung pulang?"
"Sebenarnya... Gue sakit hati banget pas liat Ken dan Rachel tunangan. Tanpa sengaja Gue minum banyak banget kayanya, nyampe gue ngga sadarkan diri. Lagi-lagi Tuan Clovis anterin gue. Sesampainya disini, kayanya gue memuntahkan semuanya di pakaian dia. Jadi..."
__ADS_1
"Diana... Kenapa lo bisa salah bawa minuman sih? Dan untung saja Tuan Clovis menyelamatkan lo lagi. Lo pantes nikah sama dia Di, lo harus berterimakasih sama dia"
"Tapi nggak nikah juga kan, kenapa hidup gue gini banget. Udah ditinggal tunangan sama Keno, sekarang harus nikah sama laki-laki yang...."
"Mungkin jiwa lelakinya muncul setelah nikah sama lo Di"
"Tugas lo itu harus bisa membuat Tuan Clovis tertarik sama lo"
"Ih apaan sih, mesum banget kalian. Gue lagi sedih..." Diana kembali menangis.
"Cup cup cup... Beruntung lo digerebek sama Tuan Clovis. Coba kalo lo lagi sama cowok lain"
***
"Udah, gue nggak mau ambil pusing"
"Bagus, itu baru Diana"
Telpon di ruangan Shella tiba-tiba berdering. "Hallo... Baiklah..."
"Diana, Kamu dipanggil ke ruangan Tuan Clovis"
"A...Aku sendiri Kak?"
__ADS_1
"Iya, cepatlah. Tuan Clovis tidak suka menunggu"
Diana segera berlari menuju lift, jantungnya berdegub dengan begitu cepat. "Ayolah hati, kenapa Kamu seperti ini?"
Ting... Diana keluar dari lift dan menuju meja Cindy. "Nona Cindy"
"Kamu sudah ditunggu oleh Tuan Clovis"
"Baik Nona Cindy, terimakasih" Diana memasuki ruangan Clovis.
"Duduklah" Clovis sudah duduk di atas sofa.
"Baik Tuan"
"Kenapa Kamu masih bekerja?"
"A...Apa?"
"Saya tau Kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga Saya. Saya mempunyai pacar yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Tapi Saya tidak terima dikatakan sebagai laki-laki tidak bertanggung jawab"
"Saya... Saya minta maaf Tuan. Anda tidak perlu melakukan hal itu. Saya akan membicarakannya kepada orangtua Saya"
"Saya sudah bertemu mereka semalam. Sepertinya demi menjaga nama baik Saya, Saya tetap harus menikahi Kamu. Tapi Kamu tenang saja, Saya tidak akan pernah menyentuh Kamu dan setelah seratus hari Kita akan bercerai. Jadi sembunyikan pernikahan ini"
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Diana terasa menggigil, badannya bergetar dan air mata mengalir di pipinya. "Baiklah jika itu keinginan Anda. Sekali lagi Saya minta maaf karena melibatkan Anda dalam masalah ini" Diana berbalik dan hendak meninggalkan ruangan Clovis. Namun Clovis menahannya dengan menggenggam tangannya, Diana begitu terkejut. Dengan perlahan dia membalikkan badannya, "Kamu bisa menggunakan kamar mandi disana, Aku tidak ingin Cindy berpikiran macam-macam" Clovis melepaskan tangannya dan kembali duduk di meja kerjanya.