
Diana menatap Vina dengan penuh tanda tanya. Clovis meraih pinggang ramping Diana.
"Berhenti membuat kegaduhan. Berani-beraninya Kamu menjadikan anak yang tidak berdosa ini sebagai alat untuk menjatuhkanku"
"Babe, ini anakmu. Anak Kita" Vina menghampiri Clovis dan meraih tangannya.
"Lepaskan suami Saya Nona. Bukankah Anda sudah dengar sendiri penjelasan suami Saya?"
"Saya prihatin denganmu Diana. Muda, cantik, berpendidikan tapi mau menikah dengan Clovis?"
Diana merasa geram, "Saya lebih prihatin dengan Anda Nona. Muda, cantik, berbakat tatapi kurang berpendidikan"
"Jaga ucapan Anda Nona Diana" Vina mendorong bahu Diana.
"Dan tolong jaga sikap Anda Nona Vina" Diana membalas mendorong bahu Diana.
"Stop... Keluar dari sini Vina, atau Aku akan menelpon scurity"
"Awas Kamu..." Vina menunjuk wajah Diana.
"Aku peringatkan Kamu. Jangan pernah datang kemari dan jangan pernah berpikir untuk menyakiti istriku. Atau Kamu akan menyesal" Clovis menyeret Vina keluar ruangan.
Diana duduk di atas sofa, tubuhnya terasa sangat lemas. Pandangannya kosong dan pikirannya menjadi berantakan.
"Sayang"
"Kenapa Kamu cinta sama perempuan begitu sih?"
"Aku? Aku nggak cinta sama dia, kan Aku cintanya sama Kamu Honey"
__ADS_1
"Iya masa Kamu sekarang masih cinta perempuan itu. Maksudku kenapa dulu Kamu cinta sama dia"
"Itu... Itu kan dulu Sayang" Clovis duduk di samping Diana.
"Jauh jauh, Aku lagi kesal sama Kamu"
"Kenapa?"
"Aku tadi mau jambak dia, mau pukul dia. Kenapa Kamu stop sih?"
"Honey, ini kantor"
"Kalau begitu, di luar kantor boleh kan?"
"Tidak, bukan begitu maksudku"
"Apa Kamu takut Aku akan menyakitinya?"
"Mau ngapain?"
"Tau nggak Aku jadi lebih bergairah kalau liat Kamu kaya gini"
"Iiiihhh dasar mesuuum" Diana melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah Clovis. Clovis hanya tertawa.
Diana kembali menuju ruangannya, semua mata tertuju padanya. "Di... Sini..." Rara menarik lengan Diana.
"Kenapa?"
"Lo... Lo berantem sama Nona Vina?"
__ADS_1
"Baru mau, lo mau ikut?"
"Mau mau... Ajak Via juga. Eh bukan itu maksud gue, gue dengar Nona Vina marah-marah karena katanya lo rebut tunangannya"
"Dia yang mau rebut suami gue. Enak aja, gue udah ditidurin eh malah direbut"
"Yaudah pokonya kalo Nona Vina datang lagi, hubungi Kita. Dan masalah anak dia, gue sama Via udah selidiki. Dia anak Nona Vina sama selingkuhannya. Tapi gue nggak tau pasti ceritanya gimana sih"
"Hah, lo curi start dari gue?"
"Bukan gitu, gue hawatir kejadian ini bakalan terjadi sama lo. Karena sebelumnya, dia datang ke apartemen lo da ngancam Kita"
"Gila tuh nenek sihir... Yaudah gue balik dulu ya. Masalah rumor gue, lo abaikan aja. Toh tiga hari lagi Kita disini, dan Gue istri presdir QJ. Iya nggak?" Diana dan Rara tertawa hingga suaranya terdengar ke seluruh ruangan.
"Woii kerja"
"Iya iya Kak, maaf" Diana ngacir ke meja kerjanya.
"Lo baik-baik aja kan Di?"
"Aman Vi, nanti gue ceritain semuanya. Beresin dulu ini yu" Diana dan Vina kembali mengerjakan beberapa tugas yang terbengkalai.
Jam pulang Diana meminta ijin kepada Clovis untuk pergi makan bersama teman-temannya. "Baiklah, jangan pulang malam atau Aku akan menjemputmu"
"Iya Honey" Diana mengecup pipi Clovis dan berlari ke arah mobil yang dikendarai Rara. Dari kejauhan Via dan Rara hanya menganggukkan kepalanya kepada Clovis.
"Jadi mau kemana Kita?"
"Ke Mall..." Diana dan Via berteriak.
__ADS_1
Terlihat dua orang pegawai memperhatikan mereka dari jauh dan mulai mengikuti mobil Rara.