
Via dan Rara akhirnya memeutuskan untuk mengikuti Diana dan Clovis.
"Honey... Maaf aku pergi tanpa meminta ijin darimu." Diana melingkarkan lengannya di tangan kekar milik Clovis.
"Kamu membuat ku gila. Aku pikir kamu benar-benar pergi. Jangan lakukan itu lagi, atau aku akan benar-benar mengurung mu." Clovis meraih pinggang Diana, perkataannya tersengar bercanda namun mampu membuat bulu kuduk Diana berdiri.
"Ish... Apaan sih, gitu amat. Memangnya ada apa sih? Kenapa semua jadi terasa aneh?" Diana mendongakkan kepalanya menatap wajah Clovis.
Clovis hanya menatap tajam Diana, "Lebih baik kamu ikuti perintah ku, sebelum hal buruk terjadi kepada mu."
Diana mengubah pandangannya menjadi menunduk, hatinya terasa sangat sakit. Kata-kata Clovis begitu menusuk hatinya.
Via dan Rara yang menyaksikan hal tersebut hanya terdiam, mereka tau kalau Diana sakit hati, namun mereka tidak bisa melakukan apapun.
Diana sudah tidak fokus dengan keadaan sekitar, "Kita pulang."
Clovis menatap Diana, "Pulang? Jadi kamu keluar rumah hanya untuk seperti ini? Kamu hanya menjadikan tugas akhir mu sebagai alasan kan? Oke, mulai saat ini katakan apa yang kamu butuhkan dan aku akan mengantarkannya ke rumah. Bahkan kamu tidak perlu kuliah lagi, kamu sudah menjadi istri ku. Apa yang kamu butuhkan akan aku siapkan."
Diana menatap tajam Clovis, "Apa maksud mu? Kenapa kamu melakukan ini kepada ku? Seekor burung pun bahkan akan kabur dari sangkar emasnya."
"Tapi kamu bukan seekor burung, kamu istri ku. Sudah seharusnya seorang istri mematuhi perintah suaminya." Clovis berjalan di depan Diana.
Air mata mengalir begitu saja di pipi Diana. Via dan Rara menghampiri Diana dan memberikan pelukan kepadanya.
"Sabar ya Di, mungkin Tuan Clovis sedang banyak pikiran. Atau mungkin pekerjaannya sedang tidak baik-baik saja." Via mencoba menenangkan Diana.
__ADS_1
"Tapi nggak seharusnya dia memperlakukan gue seperti itu. Apa menurutnya gue layak diperlakukan seperti itu?" Diana menahan emosinya. Diana menyadari kalau kini mereka berada di keramaian. Walaupun Clovis tidak membentaknya atau memarahinya, namun hatinya terasa sangat sakit.
"Kalo lo mau cerita, lo bisa hubungi gue kapan pun." Rara mempererat pelukannya.
Clovis menghentikan langkahnya, dia membalikkan badannya dan menatap Diana. "Mau sampai kapan berpelukan seperti itu? Orang-orang akan mengira kalau kalian itu aneh."
Diana, Via dan Rara mengedarkan pandangannya. Benar saja beberapa orang tengah melihat ke arah mereka. Bahkan ada beberapa yang tampak berbisik.
"Udahan yuk pelukannya." Via melepaskan pelukannya.
"Lo baik-baik ya Di, mending untuk saat ini lo ikutin kemauan suami lo." Rara menghapus air mata Diana.
Dengan berat hati, Diana menganggukkan kepalanya.
Diana pun mengikuti Clovis menuju mobilnya. Sedangkan Via dan Rara menaiki mobil yang dikendarai oleh Tio.
"Jahat apaan? Tuan Clovis itu sayang banget sama Diana, dia bahkan meninggalkan pekerjaan pentingnya hanya untuk menyusul kalian kemari. Lagian kenapa perempuan itu susah banget dibilangin sih?" Tio tampak berceloteh.
"Apaan sih? Sayang itu nggak bakalan kaya gitu." Via tampak protes.
"Terus kaya gimana? Ngebiarin ceweknya pergi begitu aja dan kemana aja? Nggak peduli dia mau ngapain aja? Ntar dibilangnya nggak peka lagi, nggak perhatian. Ribet banget sih." Tio fokus dengan setirnya, namun mulutnya tidak berhenti mengomel.
"Bang Tio romantis banget sih, beruntung banget cewek yang jadi pacar Bang Tio." Rara menjawab dari kursi belakang.
"What? Beruntung? Beruntung apaan? Buktinya dia jomblo terus sejak terakhir pacaran zaman SMA." Via tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Nggak usah dijelasin juga kali dek. Jahat banget lo sama abang sendiri." Tio mengacak rambut Via.
"Beneran jomblo bang? Sama dong." Rara tampak tertawa.
Via membelalakkan matanya, "Heh, jangan macem-macem lo. Gue nggak mau punya kakak ipar kaya lo."
Rara tertawa, "Sepertinya penyebab Bang Tio jomblo itu karena adek nya galak deh."
Tio tertawa, "Bener, pinter banget sih lo."
"Iyaa dong, makanya Bang Tio mau nggak jadi pacar aku?"
Via dan Tio membelalakkan matanya tidak percaya.
...****************...
Happy New Years...
Maaf yaa, aku lama banget hiatus nya.
Jadi ceritanya, aku udah punya draft buat cerita ini. Tapi file nya lenyap entah kemana, entah kehapus atau lupa simpan.
Jadi intinya, file nya kehapus dan aku males banget bikin draft lagi.
Hiatuslah sekian purnama hingga akhirnya aku sendiri lupa alur ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
Aku coba terusin lagi, semoga kalian masih suka dengan cerita ku. Kalau lupa lagi alur, yuk baca lagi bareng-bareng 🥰🥰