
Saat Diana, Via dan Rara sampai di tempat parkir, Diana melihat orang yang tidak asing lagi baginya.
"Di, itu Tuan Clovis kan?"
Diana nampak terkejut juga takut, dia benar-benar takut kalau Clovis akan marah karena sikapnya yang tidak menghargai Clovis.
Untuk sesaat Diana duduk dan menarik nafas panjang, dirasa sudah siap, dia pun segera turun dari mobil yang dikendarai oleh Rara tersebut.
Saat Diana menutup pintu mobil, Clovis menghampirinya. Jantung Diana berdegup kencang saat Clovis menatapnya. Diana tidak berani menatap Clovis yang kini jaraknya sudah sangat dekat dengannya.
Tiba-tiba badannya terasa sesak saat seseorang memeluknya dengan sangat erat.
"Maafkan Aku, maafkan Aku honey. Aku terlalu egois, tapi Aku mohon. Jangan pernah menghindari ku"
Diana membelalakkan matanya, dia sudah berfikir kalau Clovis akan marah dan menyeretnya untuk pulang.
"A...Aku hanya pergi ke kampus untuk menyelesaikan tugas akhir ku. Aku tidak bermaksud untuk menghindari. Bi Wida bilang Kamu pergi pagi sekali dengan terburu-buru. Jadi... Aku tidak ingin mengganggu aktivitas mu yang Kamu sendiri tidak ingin Aku ketahui"
Clovis menahan kedua pipi Diana dan ******* bibirnya begitu saja. Diana membelalakkan matanya apalagi saat Via dan Rara terlihat tersipu malu. Tio yang menyadari itu membalikkan tubuh kedua sahabat Diana. Walaupun ada sedikit penolakkan namun akhirnya Mereka terpaksa membalikkan badannya.
Clovis melepaskan lumatannya kemudian menatap Diana dengan tatapan penuh cinta.
"Maafkan Aku honey, Aku akan menceritakan semuanya. Tapi berikan Aku waktu untuk menyelesaikannya terlebih dahulu"
Diana menganggukkan kepalanya, belum sempat mengucapkan apapun, bibir mungilnya sudah kembali dilumat oleh Clovis.
Diana tidak melakukan penolakkan apapun namun tidak juga meresponnya. Hal ini karena Diana benar-benar tidak pernah melakukan hal semacam ini di tempat terbuka.
__ADS_1
Clovis tersenyum saat melihat Diana yang terlihat sangat tegang. "Sekarang Kamu mau kemana?"
"A...Aku akan pergi ke toko buku untuk membeli beberapa buku referensi"
"Aku antar" Clovis menggenggam tangan Diana dan pergi menuju toko buku yang dimaksud.
Via dan Rara juga Tio membelalakkan matanya.
"Mereka sama sekali tidak merasa bersalah setelah mencemari mataku"
"Oh mataku, apa yang sudah Kamu lihat?"
Via dan Rara terus saja mengomel sambil mengikuti Diana dan Clovis dari kejauhan.
"Kenapa Kalian tidak langsung berbicara kepada Tuan Clovis?"
"Kalau begitu tutup mulut Kalian" Tios berlalu menuju mobil yang dia parkirkan tak jauh dari tempat tersebut.
"Bang, kemana?"
"Kemana? Terus gue harus ngikutin Kalian gitu?"
"I...Iya sih"
"Kalian ikuti saja sahabat Kalian, dan jangan ganggu Mereka"
Via dan Rara membelalakkan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Kita kesini itu ide Diana, dan sekarang dia mencampakkan Kita"
Via dan Rara seperti orang yang sedang menguntit dua orang yang sedang jatuh cinta. Clovis tidak melepaskan Diana sama sekali. Tangannya bahkan melingkar pada pinggang ramping milik Diana.
Diana meminta Via dan Rara untuk bergabung dengannya, namun Mereka menolaknya dengan alasan ingin melihat buku yang lainnya.
"Honey, bukankah ini berlebihan? Mereka jadi menghindariku"
"Asal Kamu yang tidak menghindariku semuanya baik-baik saja" Clovis sesekali menempelkan hidungnya di pipi milik Diana.
"Ya ampun coba lihat, Tuan Clovis benar-benar dibuat bucin oleh Diana"
"Kamu benar"
Via dan Rara berbisik dari kejauhan.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...Yang bucin yang bucin......
...Hayoo mana yg udah tegang dari kemarin? Ngira Clovis bakalan murka 🤭🤭...
...Ayoo tinggalkan jejak ❤ dan Komentar Kalian...
__ADS_1
...Komentar ceritanya ya, jangan "Lanjut" aja. Karena komentar seperti itu nggak bikin mood ku naik 🤭🤭🤭...