
Perlahan Diana menghampiri pintu yang tertutup rapat itu, dengan ragu dia memegang gagang pintu dan perlahan membuka pintu tersebut.
Clovis tampak sangat terkejut, dia membalikkan badannya dan melihan tubuh mungil Diana yang begitu dia rindukan.
Clovis terdiam, Diana pun tampak mematung menatap Clovis.
Perlahan air mata Diana mulai membasahi pipinya, Clovis segera menghampirinya dan merangkul tubuh kecil itu.
"Ssstt, jangan menangis honey." Clovis mengusap air mata di pipi Diana.
"Ke... Kenapa ka... Kamu... Baru kesini?" Suara Diana terdengar terputus-putus akibat tangisnya.
"Aku di sini sejak hari pertama honey, aku hanya tidak berani menghampiri mu karena kamu tampak begitu marah kepada ku." Clovis menuntun tubuh Diana menuju tempat tidur.
"Harusnya kamu membujukku." Diana tampak merajuk.
"Maafkan aku, harusnya aku membujuk mu. Bukan malah bersembunyi seperti ini." Clovis mencium tangan Diana.
"Iya, harusnya begitu. Kenapa kamu sangat tidak peka." Diana memukul pelan bagian lengan Clovis.
Clovis tersenyum dan memeluk Diana. "Jangan marah-marah, kasian anak kita."
Diana melepaskan pelukan Clovis, "Apa maksud mu?"
Clovis mengelus pelan bagian perut Diana, "Di sini, dia ada di dalam sini."
"Aku masih belum mengerti." Diana tampak bingung.
"Kami hamil honey, kamu sedang mengandung anak kita." Clovis mencium kembali tangan Diana.
"Bagiamana kamu tau? Aku bahkan tidak tau?" Diana masih tampak tidak percaya.
"Aku meminta dokter dan grand ma untuk merahasiakannya, saat itu kamu begitu marah kepada ku. Aku takut kamu tidak menginginkan kehadiran dari anak kita ini." Clovis menunjukkan rasa bersalahnya.
"Apa? Kamu pikir aku sejahat itu? Tega kamu berpikiran seperti itu kepada ku. Aku akan tetap menyayangi anak ini walaupun kamu tidak menemui ku lagi." Diana memeluk perutnya.
"Mana mungkin aku tidak menemui mu lagi, aku hanya memberikan mu waktu untuk sendiri. Aku tidak mau kehadiranku malah akan berdampak buruk bagi kesehatan mental mu." Clovis mencoba menjelaskan.
"Tetap saja kamu berprasangka buruk kepada ku." Diana masih tampak merajuk.
Clovis menarik nafas panjang, "Maafkan aku, honey. Aku bersalah."
"Baiklah, aku memaafkan mu. Tapi apa aku benar-benar hamil? Aku masih tidak percaya." Mata Diana tampak berbinar.
"Dokter sedang menuju kemari, kamu bisa menanyakannya langsung." Clovis mengusap kepala Diana.
"Dokter? Bagaimana mungkin? Aku baik-baik saja." Diana tampak bingung.
"Dari tadi kamu muntah-muntah, honey. Bagaimana mungkin hal seperti itu bisa dikatakan baik-baik saja?" Clovis tampak khawatir.
__ADS_1
"Itu... Itu mungkin bawaan hamil, sekarang aku merasa baik-baik saja." Diana tersenyum.
"Anak kita hebat, dia ingin dekat-dekat dengan Daddy nya." Clovis mengusap perut Diana dan menciumnya.
"Apa? Bagaimana bisa kalian sudah bersekongkol seperti ini?" Diana tertawa.
Grand ma yang mendengar suara tawa Diana tampak tersenyum, "Aku tidak salah pilih memilih Nak Clovis, dia bisa menjaga cucu ku dengan sangat baik."
Seorang dokter tengah memeriksa keadaan Diana, Diana tampak tersenyum dan menggenggam tangan Clovis.
"Bagaimana keadaan anda? Apa saat ini ada keluhan?"
"Tidak, semua tampak baik-baik saja." Diana tersenyum senang.
Dokter tersebut menatap Clovis, "Bukan kah anda bilang tadi kalau Nona Diana mual parah?"
"Itu kan tadi." Clovis hanya tersenyum menatap Diana.
Dokter tersebut hanya menggelengkan kepalanya, "Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Pulanglah dan istirahatlah, kamu terlalu sibuk bekerja hingga lupa untuk berkencan." Clovis mengelus kepala Diana.
Dokter tersebut tampak geram, bagaimana tidak? Tadi Clovis memintanya untuk segera datang bahkan mengancam akan memutuskan kontrak dengan keluarganya, dan sekarang dia menyuruhnya pulang dan berkencan.
"Hahaha... Honey, kamu keterlaluan. Terima kasih dokter, aku akan segera menghubungi mu jika ada keluhan. Terima kasih sudah memeriksa ku dan bayi ku." Diana tersenyum senang.
"Baiklah Tuan, Nona. Saya permisi." Dokter itu lebih memilih pergi dari pada harus berurusan dengan seekor singa yang tengah lapar itu.
Waktu terus berlalu, kini perut Diana tampak membesar.
"Honey, maafkan aku telah membuat mu kelelahan." Clovis menyelimuti tubuh polos Diana dan mengecup keningnya.
"Entahlah, tapi aku suka itu." Diana tersenyum nakal.
"Honey, jangan berekspersi seperti itu. Aku tidak bisa mengendalikan diriku." Clovis kembali masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Diana itu.
"Biarkan aku yang mengendalikan dirimu honey." Diana menyentuh area sensitif milik Clovis, tentu saja Clovis tidak bisa menahan dirinya.
"Aku tidak akan melepaskan mu." Clovis kembali melangsungkan aksinya.
"Yaa honey, jangan lepaskan aku." Diana kembali menikmati setiap sentuhan Clovis.
"Saat hamil, kamu tampak lebih seksi dan menggairahkan honey."
"Apa maksud mu sebelumnya aku kurang seksi dan kurang menggairahkan?"
Kegiatan itu berlangsung hampir setiap malam, setelah beberapa waktu lalu dokter baru saja memperbolehkan Clovis melakukan aksinya lagi.
Hari itu pun tiba, Diana berada di sebuah rumah sakit ternama.
__ADS_1
Clovis tampak mondar mandir tidak karuan. "Apa kita pergi ke rumah sakit singapura saja? Supaya penangannya lebih baik dan kamu tidak kesakitan."
"No honey, its okey. Aku baik-baik saja, semua akan baik-baik saja." Diana tengah bersiap untuk menjalani operasi caesar.
"Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa?" Clovis tampak sangat khawatir.
"Aku akan baik-baik saja honey." Diana mengecup pipi Clovis.
"Tapi aku tidak baik-baik saja." Clovis memeluk Diana.
Grandma yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, "Semua akan baik-baik saja nak Clovis. Percayakan kepada tim medis dan kepada Tuhan."
"Tapi grandma..."
Seorang dokter datang menghampiri Diana dan membawa Diana menuju ruang operasi.
"Silahkan ikuti kami Tuan." Seorang perawat membuyarkan lamunan Clovis. Clovis tampak mematung saat melihat Diana pergi menuju ruang operasi.
Di ruang operasi, Clovis tampak menggenggam tangan Diana.
"Tenanglah honey." Diana menenangkan Clovis.
"Aku takut honey." Clovis mengusap kepala Diana.
Suara bayi terdengar memenuhi ruangan, otomatis Clovis menatap bayi tersebut. Namun saat melihat bagian tubuh Diana yang berdarah, Clovis kembali mematung.
"Honey..." Air mata Clovis membasahi pipinya. Ini pertama kali Diana melihat Clovis menangis.
"Aku juga ingin melihat anak kita. Pasti tampan seperti mu." Diana tersenyum.
"Cukup... Cukup satu kali saja kamu melahirkan." Clovis mengusap kepala Diana.
Diana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Namun satu tahun kemudian...
Diana tengah mengusap perutnya yang sudah kembali membesar, sedangkan putra pertamanya yang bernama Clody tengah belajar berjalan.
"Honey, aku membawa pesanan mu." Clovis menghampiri Diana dan menciumi perut buncitnya itu.
"Anak-anak kita hari ini tidak rewel kan?" Clovis mengusap perut Diana yang tengah mengandung anak kembar.
"Mereka baik-baik saja."
Clody menghampiri Clovis, "Didy..."
"Hallo jagoan Daddy. Kamu jaga Mommy dengan baik kan?" Clovis menggendong tubuh mungil putranya itu.
Ya seperti itulah kehidupan keluarga bahagia itu.
__ADS_1