Presdir I'M In Love

Presdir I'M In Love
Episode 67 Jebakan


__ADS_3

Diana tampak panik, "Bi... Bi Wida..."


Bi Wida terpogoh-pogoh dari arah dapur, "Iya Non, ada apa?"


"Apa ada korsleting listrik lagi di rumah ini?" Diana tampak menggoyang-goyangkan ponselnya.


"Tidak Non, lampu semua pada nyala." Bi Wida melihat sekitar.


"Maksud ku, kenapa internet di ponsel ku mati? Wifi mati, data seluler juga tidak bisa digunakan. Tidak mungkin kan ada alien di rumah ini." Diana mendumel.


"A...Anu Non, Bibi... Bibi tidak tahu." Bi Wida tampak ketakutan.


Satu jam sebelum Diana menemui Bi Wida, Clovis lebih dulu menghubunginya. "Bi, jangan biarkan Diana mengakses internet. Aku akan menyuruh seseorang untuk menonaktifkan internet di ponsel Diana. Jadi, jangan biarkan Diana meminjam ponsel siapapun."


"Baik Tuan." Bi Wida menganggukkan kepalanya seolah sedang berhadapan langsung bersama Tuannya.


"Jangan biarkan Diana keluar dari rumah, atau aku tidak akan memaafkan kalian semua." Clovis mengakhiri panggilannya tanpa mendengarkan jawaban Bi Sumi, itu menandakan kalau apa yang diucapkan Clovis harus diikuti dan tidak ada negosiasi ataupun bantahan.


Suara Clovis mampu membuat bulu kuduk Bi Sumi berdiri, Bi Sumi pun memberikan peringatan kepada seluruh penjaga rumah untuk lebih ketat mengawasi rumah.


"Bi...." Diana setengah berteriak, dan itu membuat Bi Wida tersadar dari lamunannya.


"I...Iya kenapa Non?" Bi Wida tampak gugup.


"Mana ponsel Bibi? Aku mau coba, siapa tau ponsel ku rusak?" Bi Wida mengulurkan tangannya.


"Ponsel Bibi? Tapi ponsel Bibi kan..."


Tanpa menunggu jawaban Bi Wida, Diana meraih tangan Bi Wida yang tengah menggenggam ponsel miliknya.


"Mana ponsel Bi Wida?"


Tanpa pikir panjang, Bi Wida membuka genggaman tangannya. Dilihatnya ponsel keluaran lama.


"Ponsel Bibi tidak bisa mengakses internet Non." Bi Wida memberikan ponsel yang sedang digenggamnya.


"Memang ponsel seperti ini masih digunakan di negara ini?" Diana mengembalikan ponselnya kepada Bi Wida.


"Kalau begitu, aku pinjam punya siapa saja deh yang bisa mengakses internet." Diana mulai kesal.


"Semua sama Non."

__ADS_1


"Sama apanya?" Diana tampak bingung.


"Sebenarnya, ponsel ini pemberian Tuan Clovis. Bukan hanya kepada bibi, tapi kepada semua pesuruh di rumah ini." Bi Wida mencoba menjalaskan. Sesaat setelah Clovis menelpon Bi Wida, Clovis juga mengirimkan beberapa ponsel untuk digunakan seluruh pegawai di rumahnya.


"Apa? Tapi kenapa?" Diana tampak terkejut.


"Sebenarnya, ada peraturan yang Tuan Clovis terapkan di rumah ini. Salah satunya kami dilarang mengambil gambar di rumah ini, maka dari itu selama kami berada di lingkungan kediaman Tuan Clovis, kami hanya diperbolehkan menggunakan ponsel ini." Bi Wida ingat betul amanat dari Tuannya, alasan yang harus diberikan ketika Diana meminta penjelasan mengenai ponsel tersebut.


"Bagaimana mungkin dia menerapkan peraturan seperti itu, dia kira dia artis atau pejabat yang harus dijaga privasinya." Diana tampak mengomel.


"Tuan Clovis kan memang pengusaha muda terkaya di negeri ini Non. Jadi lebih privasi dari pada artis ataupun yang lainnya." Bi Wida tampak membanggakan Tuannya itu.


"I...Iya sih, tapi kan... Aaarrrggghh ya sudah bi." Diana meninggalkan Bi Wida dan kembali ke dalam kamarnya.


"Masa hand phone gue nggak bisa digunakan sama sekali. Gilaaaa.... Ini pasti ulah Om-om itu." Diana menghentakan kedua kakinya di atas kasur.


Di tempat lain, Clovis tengah mengawasi anak buahnya yang sedang bekerja mencari keberadaan Rachel.


Namun betapa terkejutnya Clovis saat melihat Rachel keluar dari dalam mobil dalam keadaan sangat baik-baik saja, bahkan seluruh anak buahnya tampak memberikan salam kepadanya.


Tio yang juga ikut bersama Clovis tampak sangat geram.


"Bagaimana bisa dia melakukan ini kepada anak buah gue?" Clovis mengepalkan kedua tangannya.


"Gue harus memastikannya sendiri." Clovis hendak menghampiri mereka, namun Tio menahannya.


"Cari mati lo? Anak buah lo ada di pihak Rachel, lo mau ngapain dengan tangan kosong seperti ini?" Tio mencengkeram tangan Clovis.


"Kalo lo nggak mau ikut sama gue, lo bisa pulang sekarang juga." Clovis melepaskan tangan Tio dan tangannya.


Clovis keluar dari mobil dan menghampiri Rachel.


"Aaarrrghhh kenapa lo nggak percaya sama gue? Gue takut lo kenapa-kenapa b*d*h." Tio pun menghampiri Clovis.


"Wah wah wah, kerja bagus. Kalian sudah menemukan orang yang aku cari." Clovis bertepuk tangan, sontak saja itu membuat beberapa anak buahnya terkejut, namun tidak dengan Rachel.


Rachel hanya tertawa, "Hahaha lama nggak ketemu. Bagaimana kabar Diana?"


"Berani-beraninya lo menyebut nama Diana dengan mulut kotor mu." Clovis tampak geram. Namun beberapa anak buahnya juga orang-orang suruhan Rachel menahan Clovis dan Tio.


"Selamat datang, Tuan Muda. Maaf kalau penyambutannya kurang gereget. Seharusnya kamu mengabari ku terlebih dahulu, mungkin istri tersayang lo bakal turut menyambut lo di sini." Rachel menyilangkan tanggannya di atas dadanya.

__ADS_1


"Jangan berani menyentuh Diana, dan lo pecund*ang berani-beraninya lo mengkhianati gue." Clovis berusaha melepaskan tubuhnya, namun semuanya nihil.


"Wah wah, rupanya kalian saling kenal ya. Gue kira, gue perlu memperkenalkan lo sama paman gue yang ini." Rachel menggandeng salah satu anak buah Clovis. Mereka tertawa bersama.


"Jadi, lo mengkhianati gue karena perempuan rubah ini?" Clovis menatap tajam anak buahnya itu.


"Hahaha, maafkan saya Tuan Muda. Perempuan yang Anda sebut perempuan rubah itu adalah keponakan saya tercinta. Anda tidak bisa menyentuhnya sama sekali."


"Terima kasih paman." Rachel memeluk pria bertubuh besar itu.


"Sama-sama kelinci kecil ku."


"Hahahaha... Pertunjukkan yang sangat bagus, Aku tidak menyangka kalau kalian sama-sama rubah licik. Lalu apa tujuan mu menyakiti Diana?" Clovis tampak sangat geram.


"Diana... Diana... Diana... Gue muak tiap dengar namanya. Kenapa orang-orang yang gue sayangi selalu membanggakan perempuan j*l*ng itu?" Rachel berteriak tepat di wajah Clovis.


"Apa maksud Kamu Rachel?" Clovis tampak bingung. "Siapa orang yang kamu maksud?"


"Hahaha jangan pura-pura bodoh Clovis, kamu tau kalau sejak lama aku menyukai mu. Tapi kamu malah terus memberikan perhatian mu kepada gadis bodoh itu. Bahkan di pesta pertungan ku." Air mata Rachel mulai keluar dari pelupuk matanya.


"Apa maksud mu? Bukankan kamu yang memutuskan untuk menikah bersama Keno? Lalu dimana letak kesalahan ku?" Clovis menggelengkan kepalanya tidak percaya.


"Yang paling menyakiti ku adalah, Keno mencintai Diana. Pria yang menikah dengan ku ternyata mencintai Diana." Rachel semakin berteriak.


"Bukan hanya itu, Diana sudah menyakiti perasaan adik ku. Diana adalah perempuan murahan yang mau berhubungan dengan banyak pria hanya demi harta."


"Tutup mulut mu Rachel." Rahang Clovis tampak mengeras, bahkan matanya tampak memerah. Clovis benar-benar sangat marah.


"Kamu tidak percaya?" Rachel mengusap dada bidang milik Clovis.


"Lepaskan tangan mu." Clovis masih tampak marah.


"Kenapa?" Rachel menyentuh bagian rahang Clovis yang mengeras.


"Aku tidak akan memaafkan mu Rachel." Clovis mengeratkan giginya.


Tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar dari arah belakang, sontak saja Clovis dan Tio mengalihkan pandangannya.


"Jadi Anda pria yang sangat tidak beruntung karena terpaksa menikahi Diana? Perkenalkan, aku Riko. Mantan Diana, aku tidak menyesal putus dari perempuan matre itu." Riko menghampiri Clovis kemudian mendekatkan wajahnya dan berbisik, "Karena aku sudah sering mencicipi istri anda Tuan Muda."


...****************...

__ADS_1


Wkwk kumpulan pria dan wanita yang sakit hati.


Tapi, apa Clovis akan percaya dengan perkataan Riko?


__ADS_2