
Di perusahaan, Clovis tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Gue bener-bener bingung harus bagaimana. Gue khawatir dengan keadaan Diana, tapi dia malah nggak terima perhatian dari gue." Clovis mengacak rambutnya yang sudah tertata rapih itu.
"Itulah perempuan, makanya gue nggak mau pacaran lagi." Dengan santainya Tio menjawab. *Pembicaraan dua pria yang tidak paham perasaan perempuan 😣😊
"Ciiih, jangan samakan gue sama lo. Lo nggak ada ketertarikan sama perempuan kan? Atau jangan-jangan lo suka sama gue?" Clovis memeluk tubuhnya ketakutan.
"Gila lo, gue masih normal. Tubuh gue masih tegang tiap liat cewek-cewek seksi di internet." Tio membelalakkan matanya.
"Cepetan kawin lo, entar lo dikira gay lagi. Hahaha." Clovis tertawa.
"Bukannya selama ini lo yang dianggap gay?" Tio menyeringai.
"Sialan lo, berani bilang gue gay. Gue normal, bahkan gue bisa menaklukan Diana dalam satu malam." Clovis membanggakan dirinya sendiri.
"Tapi, lo udah beneran suka sama Diana kan? Lo pernah bilang kalau pernikahan lo hanya..." Tio menghentikan pembicaraannya saat Clovis melemparnya dengan sebuah kertas yang digulung.
"Itu dulu, sebelum gue bener-bener mencintainya. Lagian lo tau kan kalo gue menikah dengannya karena merasa terjebak." Clovis mengingat kembali kejadian waktu itu, dimana dirinya tertidur di apartemen Diana dan tercyduk oleh kedua orang tua Diana melalui video call.
"Padahal lo emang naksir Diana kan dari sebelumnya? Gue kenal lo, mana mungkin lo mau anterin perempuan yang bukan siapa-siapa lo?" Tio tertawa.
Clovis terdiam, dia mengingat kejadian beberapa tahun lalu. Clovis selalu menolak saat Vina mengajaknya ke apartemen miliknya, bahkan Clovis selalu menggunakan jasa supir untuk mengantar jemput mereka saat tengah berkencan.
Sejak saat itu, Clovis dikenal sebagai pria yang tidak menyukai perempuan. Clovis lebih nyaman pergi bersama Tio dibanding Vina, seorang model ternama.
"Oh ya, bagaimana perkembangan Rachel?" Clovis tampak serius.
"Sepertinya ada orang dibalik Rachel. Tidak mungkin dia bisa bersembunyi begitu saja." Tio tampak berpikir.
"Selidiki Keno, kita pasti akan segera mendapatkan informasi melalui dirinya."
"Keno?" Tio tampak bingung.
"Dulu si brengsek itu menyatakan perasaannya kepada Diana, mereka bahkan berteman baik. Tapi tidak lama kemudian, dia bertunangan bersama Rachel dan bahkan menikah." Clovis tampak geram.
"Bisa jadi Keno terlibat dengan dengan semua ini." Tio menganggukkan kepalanya.
"Tapi kita tidak boleh gegabah. Karena itu bisa jadi jebakan untuk kita, perusahaan Keno salah satu perusahaan pesaing." Clovis mengepalkan tangannya.
Diana tengah duduk di ruang tengah, pikirannya tampak kosong.
Bi Wida menghampiri Diana, "Non, makanan sudah siap."
"Tuan pergi pagi lagi Bi?" Diana masih tampak termenung.
"I...Iya Non, bahkan lebih pagi dari yang kemarin." Bi Wida menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Bi? Kenapa Tuan berubah sangat drastis, apa karena dia tidak mencintai ku?" Air mata Diana mengalir begitu saja di pipinya.
Bi Wida tampak bingung, dia benar-benar tidak mampu mengatakan apapun tentang tuannya. Namun dia juga tidak tega melihat Diana yang bersedih seperti ini.
"Non jangan bersedih." Bi Wida menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak ada nafsu makan Bi." Diana menghapus air matanya.
"Ta...Tapi Non, Tuan Clovis akan marah kalau Non Diana tidak makan." Bi Wida tampak ketakutan.
"Tuan tidak akan peduli kepada ku, dia hanya menjadikan ku tawanan di rumah ini." Diana bangkit dari duduknya dan pergi menuju kamar.
Bi Wida tampak panik, dia meraih ponsel miliknya dan segera menghubungi Clovis.
"Kenapa Bi?" Clovis menjawab panggilan dari Bi Wida.
"Maaf Tuan, Nona Diana mogok makan lagi. Bibi sudah membujuknya, tapi..."
Clovis seketika mengakhiri panggilannya, Bi Wida tampak panik.
Sebelum pergi, Clovis sudah mengatakan kepada Bi Wida untuk melaporkan segala sesuatu tentang Diana.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Clovis memasuki area parkir rumah.
Clovis segera menghampiri Diana di dalam kamar.
Benar saja, Diana tengah menangis di balik selimut.
Clovis segera memeluk tubuh Diana yang tampak bergetar. "Honey..."
Diana menatap Clovis, "Kamu jahat banget."
"Maaf Honey, Aku tidak bermaksud..."
"Kalau begitu, aku mau pergi." Diana merajuk.
"A...Apa? Pergi kemana honey? Aku tidak mau kamu pergi." Clovis kembali memeluk Diana.
"Kamu aneh banget, kemarin aja marah-marah. Sekarang?" Diana menatap Clovis.
Clovis mengabaikan itu dan tetap memeluk Diana.
"Lepaskan... Aku mau pergi ke..."
Clovis menutup mulut Diana tengan bibirnya, Diana hanya membelalakkan matanya.
"Dasar mesum." Diana menatap Clovis.
"Makanya, janga coba-coba pergi dariku." Clovis kembali menempelkan bibirnya di bibir Diana.
"Aku mau pergi makan, aku lapar." Diana setengah berteriak.
Clovis membelalakkan matanya, "Jadi maksud mu, kamu mau pergi makan?"
"Iya... Aku lapar." Diana menundukkan kepalanya dan memegangi perutnya.
"Hahaha honey, kamu membuat ku takut. Ayo kita makan bersama." Clovis meraih tubuh Diana dan mengangkatnya.
"Lepaskan, aku mau jalan sendiri." Diana tampak meronta. Namun tubuhnya tidak sebanding dengan tubuh Clovis. Clovis tetap menggendong Diana sampai meja makan.
__ADS_1
Disana tampak Bi Wida tersenyum senang, sebaliknya Diana tampak malu karena tadi menolak makanan Bi Wida.
"Bi, tuan putri ingin makan. Tolong ambilkan makanan paling enak." Clovis mendudukkan Diana di atas kursi, namun Diana menahan tubuh Clovis dengan memeluknya.
"Kenapa? Mau makan di pangkuan ku?" Clovis tampak menggoda.
Namun tanpa disangka, Diana menganggukkan kepalanya.
Clovis tampak tertawa, "Hahaha, kamu beneran mau makan di atas pangkuan ku honey?"
Diana menyusupkan wajahnya di dada bidang milik Clovis, "Aku juga mau disuapi."
Clovis tampak heran namun juga bahagia, "Baiklah bayi besar ku, tapi..." Clovis mendekatkan bibirnya di telinga Diana.
"Kamu harus membayar semuanya Nona."
Wajah Diana seketika terasa memanas, Clovis tampak tertawa.
Bi Wida yang menyadari itu tampak malu, setelah menyiapkan makanannya, Bi Wida pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Diana kini tengah duduk di pangkuan Clovis, Clovis menyuapi Diana dengan penuh cinta.
"Aaaa... Buka mulut mu, pesawat akan segera masuk." Clovis mengarahkan sedok berisi makanan ke mulut Diana.
Diana langsung membuka mulutnya, "Aaaa..."
Clovis tertawa bahagia, bahkan beberapa kali Clovis mengecup pipi gembul Diana yang berisi makanan itu.
"Makan yang banyak." Clovis kembali mengecup pipi Diana.
"Bukan hanya perut ku yang akan merasa kekenyangan, tapi pipi ku juga." Diana tertawa.
"Kamu menggemaskan, aku tidak bisa melepaskan bibir ku dari pipi mu ini." Clovis mengecupnya lagi dan diikuti suara tawa Diana.
Terdengar suara ponsel berdering, "Aku angkat dulu telpon ya, aku sudah meminta Tio untuk tidak menghubungi ku kalau tidak darurat."
Diana memahami itu kemudian menganggukkan kepalanya.
Clovis pun mendudukkan Diana di atas kursi, Clovis pun menuju ruang depan.
Clobis pun menjawab panggilan Tio.
"Apa katamu?" Clovis tampak sangat terkejut.
Tidak butuh waktu lama, Clovis meraih jas miliknya dan segera pergi meninggalkan rumah.
Tanpa dia sadari, Diana berada di ambang pintu dengan wajah sedihnya.
"Padahal kamu bisa memeluk dan mengecupku sebentar sebelum kamu pergi." Air mata Diana kembali mengalir di pipinya.
...****************...
Please... Berikan dukungan kalian dalam bentuk like dan komentar ya supaya aku lebih semangat up nya. Aku butuh support kalian 🤍🤍
__ADS_1