
"Oh maaf Tuan Clovis. Diana adalah sahabatku, bahkan Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Sekali lagi selamat ya" Keno meninggalkan Diana dan Clovis.
Diana melepaskan tangannya dari Clovis kemudian menghampiri Via dan Rara. Diana nampak sangat nyaman berada bersama Via dan Rara, mereka berbincang bersama dan beberapa saat kemudian tertawa. Clovis melihat itu dari kejauhan. Dia merasa menyesal telah menikahi Diana, "Aku akan segera melepaskanmu Diana" Clovis bergumam.
Pesta berakhir tepat tengah malam. Rara dan Via tidur di salah satu kamar hotel, begitupun keluarga Alexander dan keluarga Bramantio.
Diana kini tengah berada di salah satu kamar termewah di hotel itu. Kamar itu sudah disulap menjadi taman bunga. Kasur yang ditempati Diana penuh dengan kelopak bunga berwarna putih, sedangkan lantainya penuh dengan kelopak bunga berwarna merah. Diana masih duduk termenung, bagaimana dia harus satu kamar bersama Clovis?
Nampak pintu kamar yang tiba-tiba terbuka. Clovis datang dengan jas yang sudah berada di tangannya. Dia langsung memasuki kamar mandi tanpa melihat Diana sama sekali. Diana merasakan sakit hati, bagaimana mungkin dia transparan di mata suaminya pada malam pertamanya. Tapi Diana kembali kuat "Ini salahku, ini resiko yang harus terima. Mungkin setelah Tuan Clovis membebaskan ku, Aku bisa mencari laki-laki yang mencintaiku dan menikah sesuai impianku" tanpa sengaja Clovis mendengar semua ucapan Diana. Clovis hanya mencuci tangannya di kamar mandi, dia berniat menemui Diana dan meminta maaf karena sudah memaksanya menikah. Namun dia kembali mengurungkan niatnya. Clovis langsung membersihkan badannya dan mengguyur tubuhnya di bawah shower.
__ADS_1
"Setengah jam kemudian Clovis keluar menggunakan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek. Dia menaiki kasur dan tidur membelakangi Diana. Diana pun pergi menuju kamar mandi untuk menghapus semua riasan di wajahnya, juga membersihkan tubuhnya. Namun Diana kesulitan saat membuka gaun pernikahannya. Satu jam kemudian Diana masih berada di dalam kamar mandi, Clovis mendengar suara tangis Diana. Dengan segera dia mendekati pintu kamar mandi "Diana?"
Diana membuka pintu kamar mandi dengan gaun yang masih terpakai, Clovis melihat mata Diana yang begitu sembab. "Aku... Aku akan tidur di kamar sebelah. Jadi berhentilah menangis dan mengganggu tidurku" Clovis hendak meninggalkan Diana, namun Diana mencegahnya. "Emm Saya... Saya... Saya kesulitan membuka gaun ini. Bantu Saya membuka resleting ini"
"Apa? Jadi karena ini Kamu menangis? Dasar tukang ganggu, Kamu mengganggu tidurku hanya untuk membuka gaun ini?" Clovis nampak kesulitan membuka resleting gaun tersebut. "Kenapa Mommy memilihkan gaun yang begitu jelek" resleting masih tidak terbuka, rupanya resleting yang digunakan gaun Diana memang rusak.
"Aku akan mensobeknya" Clovis hendak merobek pakaian Diana.
"Kamu bisa membelinya lagi bersama laki-laki pilihanmu nanti" Diana merasa sangat sakit saat Clovis mengucapkan itu.
__ADS_1
"Baiklah, terserah Anda Tuan. Kamu boleh merobeknya bahkan membuangnya"
Clovis mencari gunting namun tidak menemukannya, dia tidak mungkin menelpon salah satu karyawan pada pukul dua dini hari hanya untuk meminta gunting. Dengan sekuat tenaga Clovis merobek pakaian Diana dengan tangan kosong. Namun karena terlalu bersemangat, gaun Diana robek sangat besar hingga menampakkan punggungnya. Diana yang tidak menyadari masih saja memunggungi Clovis. "Apa sudah robek Tuan?"
"Su... Sudah"
Diana meraba pakaian bagian belakangnya. "Aaaarrrrgghhhh kenapa Anda melihat punggungku Tuan?"
Clovis nampak terkejut, wajahnya begitu merah. Diana menyembunyikan punggungnya dan jalan mundur.
__ADS_1
"Apa yang barusan Aku lihat?" Clovis masih tercengang di depan kamar mandi.