
Via dan Rara membelalakkan matanya saat Diana menceritakan semuany, mulai dari pakaian, berangkat bersama bahkan saat Diana mencium tangan Clovis.
"Gila gilaaa, suami idaman itu Di" Via memegang pipinya.
"Gue mau punya suami kaya gitu, baper gue Di"
"Gila lo ya, guee tersiksa"
"Tersiksa apanya Di, dia baik banget sama lo. Dia perhatian Di, dia nggak pengen orang lain melihat badan lo yang sempurna"
"Bener Di, lo harusnya bersyukur dan berterimakasih kepada Keno"
"What? Keno? Yang baik ke Diana kan Tuan Clovis, kenapa berterimakasih kepada Keno sih Vi?"
"Iya, setelah badai terbitlah teraaang"
"Udah lah, gue nggak mau dianggap sebagai pelakor. Lo tau kan kalo Tuan Clovis udah punya cewek?"
"Lo yakin? Ko gue nggak yakin ya? Kalo Tuan Clovis punya pacar, dia pasti akan membawanya ke pestanya Keno dan Rachel. Terus dia juga terkenal sebagai laki-laki yang nggak suka sama lawan jenis"
"Iya bener Di, kayanya itu akal-akalan Tuan Clovis aja deh"
"Tapi Kita kan nggak tau kebenarannya kaya gimana. Bisa aja apa yang dia katakan emang bener. Pacarnya kan di luar negeri"
"Tapi lo mulai nyaman kan Di? Kalo Tuan Clovis nggak punya pacar, lo bakalan cinta kan sama dia?"
"Entahlah"
Tiba-tiba beberapa orang terlihat bergerumul, mereka berbisik dan membicarakan sesuatu "Nona Vina datang lagi"
__ADS_1
"Iya benar, apa mereka sudah berbaikan?"
"Ada apa sih?" Rara memasuki kerumunan orang-orang, ternyata mereka tengah menatap seorang perempuan cantik bak seorang putri. Dilihat dari sisi manapun dia nampak sempurna.
"Siapa dia? Kenapa dia datang kemari? Apa dia akan memesan perhiasan Kita?"
"Itu pacarnya Tuan Clovis"
Diana membelalakkan matanya, matanya mulai memanas, nafasnya terasa sesak. Via segera merangkul bahu Diana, "Sabar Di..."
"Gue baik-baik aja Vi" Diana meninggalkan kerumunan dan pergi ke toilet.
"Lo inget Nona Vina? Perempuan cantik kekasih Tuan Clovis. Sepertinya mereka kemari karena pertunangan yang tertunda"
"Iya benar, mereka pasangan cocok. Tuan Clovis begitu setia menantikan dia kembali, bahkan dia rela dibilang laki-laki yang menyukai sesama jenis demi menunggu Nona Vina kembali"
Diana mendengar beberapa percakapan dari karyawan kantor. Matanya kembali memanas dan air mata tiba-tiba mengalir begitu saja.
"Kenapa Aku menangis? Bukankah Aku sudah tau semuanya? Lagipula Aku tidak mencintainya. Tenanglah Diana, tinggal sembilan puluh hari lagi"
Kantor kembali sepi ketika Clovis memberikan peringatan melalui Tio. Mereka kembali bekerja di ruangan masing-masing. Tidak ada yang berani membicarakan hubungan Clovis dan Vina. Bahkan yang terdengar hanya suara mesin dari komputer yang mereka gunakan.
Kriiing... Ponsel Diana berbunyi menandakan pesan masuk.
"Aku akan sedikit terlambat. Pulanglah duluan. Clovis"
Diana hanya membacanya dan tersenyum kecut. Dia kembali bekerja dan melupakan pesan tersebut.
Di ruangan Clovis, Vina tengah duduk di atas sofa. "Ada apa Kamu kemari?"
__ADS_1
"Babe, Kamu tidak merindukanku? Aku begitu merindukanmu" Vina hendak memeluk Clovis namun ditolaknya.
"Ini kantor"
"Kalau begitu Kita bisa keluar"
"Kamu datang kemari untuk membicarakan masalah pribadi?"
"Aku, Aku ingin minta maaf. Aku menyesal karena telah mengkhianatimu. Ferdian seorang buronan dan kini Aku ditinggalkan bersama anak Kami"
"Bukankah Aku sudah memperingatkan mu?"
"Kamu benar Babe, Aku menyesal. Sekarang Aku mempunyai seorang anak, anakku membutuhkan kasih sayang seorang Daddy"
"Aku sudah menikah"
"What? Hahaha Kamu lucu sekali sih Babe. Mereka bilang kalau Kamu setia menungguku"
"Kamu percaya?"
"Tentu saja" Vina mendekati Clovis dan memeluknya. "Bahkan parfum yang Kau pakai adalah parfum yang aku pilihkan"
"Menjauh dariku"
"Kamu pikirkan baik-baik Babe, Aku masih sangat mencintaimu"
......................
Hai-hai Kakak Zheyeeeng... Ada salam nih dari Tuan Clovis, katanya "Happy New Years" 🥳🥳🥳
__ADS_1