
Sesampainya di rumah sakit, Clovis berteriak meminta beberapa dokter untuk berkumpul dan memeriksa keadaan Diana.
"Periksa istriku. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya. Kalau sampai dia kenapa-napa, Aku tidak akan memberi ampun kalian"
"Dia istri lo bro? Cantik juga"
"Tutup mata lo"
Dokter muda bernama Sean itu tertawa saat melihat reaksi Clovis.
"Jadi ini istri lo, sorry bro gue nggak dateng. Waktu itu ada jadwal operasi, lagia lo nikah ngebet banget. Kenap tiba-tiba?"
"Periksa dia dengan benar, atau gue nggak bakalan ampuni lo"
"Tenang bro, dia hanya pingsan biasa. Sepertinya dia mengalami trauma atau semacamnya. Emang dia kenapa?"
"Gue nggak tau pasti siapa pelakunya, tapi gue nggak bakalan kasih ampun. Diana terjebak dalam lift, dan berdasarakan info yang gue dapat, dia phobia dengan gelap"
"Wah bahaya itu bro. Itu bisa menyebabkan tekanan mental bahkan bisa berujung kematian. Lo jaga dia dengan baik, kayanya ada yang berniat nyakitin istri lo"
"Mungkin aja itu Vina?"
"Vina? Dia balik? Terus kenapa dia nyakitin Diana?"
"Dia datang dan minta gue balik lagi sama dia. Lo tau kan gimana gue kecewanya sama dia"
"Gue aja ogah, apalagi lo. Secara Kita liat pake mata kepala kita sendiri gimana dia berhubungan sama laki-laki itu"
"Dan laki-laki itu mencampakkan dia dan anaknya. Vina datang dan mengatakan kalau anak itu anak gue"
__ADS_1
"Jadi dia dicampakkan? Pantesan dia berani nyakitin Diana"
"Tapi gue beljm punya bukti"
"Tapi kalo bener ini ulah Vina, nekad banget dia"
Diana mengerjapkan matanya kemudian menangis.
"Sayang, ini Aku. Buka matamu"
"Tolong... Tolong Aku... Aku takut..." Diana masih memejamkan matanya.
Dokter Sean menghampiri dan memberikan rangsangan berupa cahaya.
"Diana..."
Seketika Diana terbangun dengan posisi duduk, jantungnya berdegub sangat kencang.
Diana menatap sekeliling, saat matanya menangkan sosok Clovis, dia langsung menghamburkan pelukannya.
"Aku takut... Aku takut..."
"Tidak akan ada yang menyakitimu lagi, maafkan Aku" Clovis memeluk erat tubuh Diana.
"Tunggu sampai keadaan Diana stabil, saat ini takanan darahnya masih belum stabil. Kalau sudah stabil dia bisa dibawa pulang"
"Thanks bro. Gue bener-bener takut dia kenapa-kenapa."
"Tenang aja, dia baik-baik aja" dokter Sean meninggalkan Clovis dan Diana di ruangannya.
__ADS_1
"Minumlah..."
"Iya Mas"
Ponsel Diana berdering, terlihat nama Rara di layar ponsel "Biar Aku angkat telponnya Mas" Clovis memberikan ponsel tersebut kepada Diana.
"Hallo"
"Di, lo nggak kenapa-kenapa kan? Lo dimana?"
"Gue baik-baik aja Ra, lo nggak usah khawati"
"Nggak mungkin gue nggak khawatir Di, lo terjebak dalam lift sendirian dan lo takut gelap"
"Makasih Ra, tapi sekarang gue udah baikan. Sebentar lagi juga gue balik kantor"
"No..." Clovis menyanggah ucapan Diana. Kita akan pulang.
"Tuan Clovis bener Di, lo pulang aja. Lo harus istirahat. Pulang nanti gue mampir ke rumah lo ya"
"Iya Ra, thanks ya"
Clovis duduk di samping Diana "Maafkan Aku Honey. Sebenarnya ini yang membuatku tidak ingin mempublish pernikahan Kita. Aku terlalu takut melihat Kamu seperti ini"
"Ini hanya kecelakaan biasa Mas, jangan terlalu berpikiran negatif"
"Lampu lift tidak mungkin mati Sayang"
"Tapi bisa saja mati kan Sayang"
__ADS_1
Clovis hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin Diana masih berbaik sangka saat dirinya hampir saja mengalami kecelakaan yang begitu serius.