
Clovis duduk di samping Diana. Dia mengambil sendok yang dipegang Diana dan memakan makanan yang ada di meja. Beberapa pegawai menatap heran, "Itu Tuan Clovis kan?" Mereka berbisik.
"Kenapa ada disini? Dan kenapa makan itu?"
"Aku kelaparan, Aku menunggumu di ruanganku tapi Kamu malah makan disini ya"
"Ah, maaf Tuan. Saya..." Diana kehabisan kata-kata. Dia hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kenapa kalian berhenti? Lanjutkan kegiatan makan Kalian. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Aku hanya ingin makan bersama istriku yang tidak peduli padaku" Clovis mengedarkan pandangannya.
Diana membelalakkan matanya.
"Siapa istri Tuan Clovis?"
"Dia sudah menikah? Kapan?"
"Istrinya kan Nona Vina? Lalu kenapa dia disini?"
"Diana istri Tuan Clovis?"
"Anak magang itu?"
"Cantik sih, pantas saja Tuan Clovis menikahinya"
"Palingan Diana yang deketin Tuan Clovis"
Diana menarik tangan Clovis dan mengajaknya ke ruangannya. Di dalam lift Diana hanya diam. "Kita kemana Honey? Aku belum selesai makan"
Tiing... Diana masih menarik lengan Clovis, Cindy yang melihat itu menatap aneh.
Sesampainya di ruangan, Diana menangis. "Sayang, kenapa? Apa ada yang menyakitimu?"
Diana semakin mengisakkan tangisnya "Tadi Vina dari sini?"
"Tidak, kenapa?"
"Tadi ada beberapa pegawai yang membicarakan kalian"
__ADS_1
"Benarkah? Yang mana orangnya? Tio akan mengurus semuanya"
"Tidak, jangan Mas"
"Tapi dia sudah menyakitimu. Aku baru selesai meeting Sayang. Sudah ya jangan menangis lagi"
Diana mengangguk seperti anak kecil yang menuruti perintah orangtuanya. Clovis memeluk tubuh Diana "Aku janji tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi"
"Aku lapar" Diana mengusap perutnya yang masih kosong.
"Bukannya tadi Kamu makan?"
"Kamu memakan makananku"
"Oke Kita pesan aja ya" Clovis meminta Cindy untuk memesankan makanan. Cindy yang kebingungan menuruti perintah Clovis.
Di tempat lain, Via dan Rara sedang diintrogasi oleh puluhan pegawai termasuk Tomi.
"Sebenernya ada apa Ra?"
"Aduuh gue nggak tau, beneran deh"
"Tom, bukan gitu."
"Lalu?"
"Nanti lo tanyain langsung sama Diana deh"
"Jadi Diana beneran istrinya Tuan Clovis?" Shella menghampiri Via dan Rara.
"Aduh Kak, beneran Kita nggak tau"
Begitu banyak pertanyaan orang-orang yang memenuhi pendengaran Via dan Rara. Via dan Rara memutuskan untuk pergi meninggalkan kantin.
"Aduh serasa jadi artis deh. Diana malah enak-enakan disana. Kita yang jadi korban"
"Awas lo Di, gue laper"
__ADS_1
"Sama..."
Tio datang menghampiri Via "Kenapa rame banget? Ada apa sih?"
Via menceritakan semuanya kepada Tio, "Hahaha lagian gaya-gayaan sih mau nikah diem-diem. Dikira netizen nggak tau apa"
Terlihat dua orang dengan jarak yang cukup jauh namun memasang pendengarannya.
"Gue kira ada demo apa"
"Bang tunggu, Kita laper. Belum makan malah keburu diserang"
"Ayo ikut gue" Tio mengajak Via dan Rara ke restoran terdekat.
Sementara di tempat lain dua orang yang sedang dimabuk cinta kini saling memberi perhatian lebih "Makan lagi"
"Udah sayang"
"Kenapa nggak diabisin?"
"Honey, Kamu pesan makanan sekontainer dan minta Aku habiskan?"
"Biasanya Kamu makan banyak"
"No..." Diana menutup mulutnya.
"Oh ya Sayang, gimana Aku menghadapi para karyawan kantor?"
"Memang kenapa?"
"Kenapa? Kamu pasti membuat Via dan Rara dalam masalah"
"Masalah? Kamu liat ini" Clovis melihatkan layar ponsel yang menunjukkan gambar Via dan Rara tengah makan di sebuah restoran.
"Apa? Mereka nggak ngajak Aku" Diana memeluk Clovis. "Nanti Kita kesana ya Mas. Sudah lama Aku tidak makan disana"
"Baiklah Honey. Cium Aku dulu" Diana mencium bibir Clovis sekilas.
__ADS_1
Brak, pintu dibuka. "Kamu beneran udah nikah? Gimana nasib anak Kita?" Vina berdiri di ambang pintu.