
Sepanjang hari Diana hanya bermalas-malasan di dalam kamar, tak jarang Clovis menggodanya.
"Kita harus merencanakan bulan madu untuk kita Honey" Clovis memeluk tubuh Diana sambil menghirup aroma yang keluar dari rambut Diana.
"Bulan madu? Bukankah saat ini perusahaan sedang sibuk? Dan sebentar lagi Aku akan disibukkan dengan skripsiku"
"Jadi maksudmu Kita harus menunggu bayi dalam perutmu keluar?" Clovis mengelus bagian perut Diana.
"Ih apa sih Mas, dalam perutku belum ada bayi"
"Iya kalau Kita menunggu perusahaan tidak sibuk dan skripsimu selesai, mungkin Kita sudah punya tiga anak"
Diana memukuli tubuh Clovis, sepertinya dia mempunyai hobby terpendam, menggoda Diana.
"Ngawur Kamu Mas, Kamu pikir perutku mesin pencetak anak apa?"
"Bukan begitu Hon, tapi Aku ingin mempunyai banyak anak dari perut ini" Clovis menyuurkkan wajahnya ke bagian perut Diana. Seketika Diana tertawa terbahak, Diana merasa geli.
Triiing... Ponsel Diana berdering, menandakan pesan masuk. Dilihatnya ponsel tersebut dan ternyata itu adalah pesan dari Via.
Via : "Di, Lo dimana?"
Diana : "Kenapa Lo nyari gue Vi?"
__ADS_1
Via : "Emang harus ada apa-apanya ya Gue nyari lo? Gue sama Rara di depan apartemen milik lo nih"
Diana : "Emm gue nggak lagi di sana Vi, Sorry"
Via : "Lo di rumah Tuan Clovis?"
Diana : "Enggak Vi"
Via : "Terus?"
Diana : "Gue lagi di hotel QJ Vi"
Via membelalakkan matanya "Coba lo liat Ra, Diana lagi di hotel"
"Nggak, lo aja sana. Diana di hotel QJ, bareng Tuan Clovis"
"Apa? Beneran Vi?" Via menganggukkan kepalanya.
"Diana?" Via kembali menganggukkan kepalanya.
"Tuan Clovis?" seketika mereka terdiam. "Aaaarrrrggghhhh" Mereka berdua menjerit sambil berpelukan. "Kita akan punya keponakan" Via lompat kegirangan begitupun Rara.
"Kabar baik ini Rara. Apa Kita perlu video call Diana untuk memastikan?"
__ADS_1
"No, jangan Vi" Rara meraih ponsel Via. "Jangan ganggu mereka kalo lo masih betah di Queens Jewellery"
"Oh betul lo Ra, gue seneng banget Ra. Akhirnya sahabat Kita"
Seorang perempuan cantik yang tak lain adalah Vina menghampiri Via dan Rara. "Jadi kalian sahabat Diana?"
"Maaf, Nona siapa ya? Kenal Diana?"
"Saya Vina, tunangan Clovis" Via dan Rara membelalakkan matanya, fikirannya kembali kepada saat mereka melihat Vina di area kantor dan beberapa pegawai membicarakannya.
"Ada perlu apa Anda kemari?"
"Saya ingin bertemu Diana, apa dia ada di dalam?"
"Diana sedang bersama Tuan Clovis..." Rara menutup mulut Via.
"Jadi mereka benar-benar menikah? Aku merasa kasihan kepada Diana. Gadis cantik, pintar, tapi dibodohi oleh Clovis. Clovis sudah bertunangan denganku, dia bukan laki-laki baik-baik. Kamu lihat anak yang ada di taman itu?" Vina menunjuk bayi yang berada di dalam stroller yang sedang bersama pengasuhnya. Via dan Rara mengikuti arah telunjuk Vina.
"Gadis kecil itu adalah anakku dan Aku rasa kalian pasti tau siapa ayah dari anak itu" Via dan Rara membelalakkan matanya, Via menutup mulutnya untuk menahan jeritan yang mungkin keluar dari mulutnya.
"Anda jangan bercanda Nona, Diana dan Clovis saling mencintai. Jadi tidak mungkin..."
"Dulu Kami pun saling mencintai, hingga terlahirlah putri cantik itu." Vina melambaikan tangannya kepada bayi tersebut, terlihat bayi berusia kurang lebih enam bulan itu sangat bahagia karena melihat ibunya.
__ADS_1
"Tolong kalian jaga sahabat kalian. Aku tidak ingin dia bernasib sama denganku" Vina pergi meninggalkan Via dan Rara. Air mata Via dan Rara mengalir begitu saja.