
Diana kembali menuju kamar tanpa menghabiskan sisa makanannya.
Bi Wida yang melihat kronologi kejadiannya hanya mengelus dada, "Kasian Non Diana."
Di perusahaan, Clovis tampak tergesa-gesa.
Tio yang melihat kedatangan Clovis kedatangan Clovis segera menghampirinya.
"Bagaimana ini Tuan? Bahkan berita ini sudah sampai di telinga karyawan kantor." Tio mendapat beberapa laporan dari tiap divisi.
"Gila. Benar-benar gila. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Clovis membaca surat peringatan plagiatisme yang dikeluarkan untuk perusahaan QJ.
"Sepertinya kambing hitamnya ada di perusahaan ini." Tio turut geram.
Di surat pernyataan ditegaskan bahwa design yang dibuatkan oleh Diana dikatakan memplagiat hasil dari perusahaan lain. Bukan hanya meminta perusahaan Queens Jewellry untuk menarik barang-barangnya, namun mereka juga menuntut Diana untuk dipidanakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.
"Aaarrrghhhhh dasar b*ngs*t, berani-beraninya dia bermain kotor seperti ini." Clovis memukul meja kayu yang ada di hadapannya.
"Aku nggak bakalan maafin siapapun dalang di balik semua ini." Nafas Clovis tampak tidak beraturan.
Di luar ruangan, desas desus mulai terdengar di seluruh penjuru perusahaan.
"Beneran? Anak magang itu? Lagian nggak biasanya Tuan Clovis mau menerima anak magang." Tampak beberapa orang tengah mengobrol di kantin saat jam makan siang.
"Gila ya, sepertinya dia jual hasil karyanya ke perusahaan lain." Seseorang menambahkan.
"Udah deh, orang seperti itu memang pantas dihukum. Biarkan dia dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku." Salah satu dari mereka tampak geram.
"Benar. Selain merugikan perusahaan, dia juga mencoreng nama baik perusahaan. Aku yakin kalau Tuan Clovis akan segera menangkap rubah kecil itu dan memenjarakannya."
Yang lain tampak setuju dan menganggukkan kepalanya.
"Diana tidak seperti itu, Aku sangat yakin kalau Diana mahasiswa yang bertanggung jawab." Shella tampak membela.
"Jangan tertipu dengan wajah polosnya, yang polos itu lebih menyeramkan." Mereka tertawa bersama.
Di dalam ruangan, Clovis tengah mengadakan pertemuan dengan beberapa orang penting di perusahaan.
"Tuan, bagaimana kalau kita buat surat permintaan maaf dari yang bersangkutan. Mungkin saja itu akan meringankan beban perusahaan kita." Salah satu dari mereka memberikan pendapatnya.
__ADS_1
Tio tampak membelalakkan matanya, dia menggelengkan kepalanya, seolah memberi kode untuk tidak meneruskan pendapatnya.
"Benar, anak itu harus bertanggung jawab. Perusahaan kita tidak akan seperti ini kalau dia tidak membuat masalah seperti ini."
"Bagaimana pun kita harus menemui anak itu dan meminta penjelasan darinya."
Tio tampak menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gadis itu adalah tanggung jawab ku, kalau kalian ingin membuatnya berada dalam masalah maka kalian akan berhadapan dengan ku." Clovis tampak sangat geram.
Semua orang tampak bingung dan saling menatap satu sama lain.
"Maaf Tuan, apa maksud anda?"
Clovis menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam, "Gadis itu adalah istri ku, dan dia adalah gadis yang selalu ingin aku lindungi."
Semua orang tampak membelalakkan matanya, "I...Istri anda? Anda sungguh sudah menikah?"
Clovis mengangkat tangannya dan memperlihatkan jarinya, terdapat cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
Semua orang tampak terkejut, "Kalau begitu, ini adalah manipulasi. Ada orang yang memang menargetkan anda Tuan."
"Temukan orang itu segera." Clovis berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
Tio menghampiri Clovis, Clovis berjalan menuju mobilnya. "Kita harus merahasiakan ini dari Diana. Jangan sampai dia tau kalau kita sedang mengalami hal seperti ini."
"Benar Tuan, ini akan berdampak buruk bagi mentalnya." Tio tampak setuju.
"Aku harus mencegah Diana mengakses internet, atau dia akan segera mengetahui berita ini. Juga jangan sampai media tau tentang masalah ini. Jadikan masalah ini sebagai masalah intern." Clovis terus berjalan, beberapa orang tampak menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan Clovis.
"Baik, Saya akan segera memberi peringatan kepada seluruh karyawan perusahaan ini." Tio mengerti apa yang harus dilakukan.
Di dalam mobil, Clovis tampak menghubungi seseorang, "Cari tau segera."
Tio tampak menggelengkan kepalanya, "Saran gue, jangan ceroboh dalam bertindak. Lo inget kan Rachel bisa lolos begitu saja? Bisa saja orang yang menargetkan lo sama Diana itu sudah merencanakan ini sejak lama."
"Gue tau, gue bakalan segera tangkap si br*ngs*k itu." Clovis tampak sangat kesal. "Lo kasih tau Via sama Rara buat nggak buka mulut sama Diana."
"Beres, mereka sayang banget sama Diana. Gue bakalan urus mereka." Tio menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Tio mengingat kejadian kemarin, dimana dengan terang-terangan Rara meminta Tio untuk menjadi kekasihnya.
"Gila lo Ra." Via tampak tidak percaya.
"Restui gue Vi, gue pengen nyobain pacaran. Tapi gue takut di apa-apain, kayanya abang lo nggak bakalan apa-apain gue." Rara tampak mendumel.
"Apa maksud lo takut di apa-apain? Kalo nggak mau di apa-apain ya nggak usah pacaran." Via tertawa.
Tidak dapat dipungkiri, jantung Tio kini berdegub sangat kencang. Namun Tio tetap fokus dengan setir mobil yang sedang dikendalikannya.
"Tunggu Vi, apa maksud lo kalau nggak mau di apa-apain ya nggak usah pacaran? Jangan-jangan lo..."
Via membelalakkan matanya, "Apaan? Lo tau kan kalo gue nggak pernah pacaran, palingan pas waktu SD aja sekali."
"Jangan-jangan pas SD lo di apa-apain? Nyampe lo bilang kaya gitu. Atau lo yang apa-apain cowok itu lagi, sampai-sampai nggak ada cowok yang deketin lo. Hahaha." Rara tampak tertawa.
"Awas ya lo Ra, bukannya prihatin lo malah ngetawain gue." Via mendumel.
"Hahaha, maksud gue itu gue pengen pacaran kaya Diana. Pacaran dapet segala macam tapi nggak ada satupun pria yang pernah menyentuhnya." Rara menjelaskan.
"Jadi lo matre dong?" Tio angkat bicara.
"Realistis bang, cewek mana yang nggak mau dimanjakan dengan kekayaan." Rara tertawa.
Seketika hati Tio yang belum sempat berbunga itu hancur berkeping-keping.
"Tetep aja matre. Nggak jadi deh gue mau sama lo." Tio tampak kecewa.
"Lah terus kalo gue nggak matre, lo mau pacaran sama gue bang?" Rara menatap Tio dari arah belakang.
"Bu...Bukan gitu sih, maksud gue... Bisa aja dipertimbangkan, yang antre bukan lo aja." Tio tampak salah tingkah.
"Diiih geer banget lo bang." Via tampak mencibir.
...****************...
Diana mau dipenjarakan? Kira-kira siapa dalang di balik semua ini ya? 😠😠
BTW, jodohin Tio sama Rara jangan nih? 😄😄
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus karya ku yaa 🤍🤍