
Pagi hari Diana merasa sangat segar. Dia bisa tidur nyenyak karena tidak ada Clovis di kamarnya. Mereka memang memutuskan untuk tidur di kamar terpisah.
Diana sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Dia menggunakan kemeja ketat dan rok pendek. Diana mendatangi ruangan dapur dan meminum segelas susu. Clovis menatap heran Diana.
"Kenapa?" Diana balik menatap Clovis.
"Apa pakaian mu seperti ini setiap kali ke kantor?"
"Ya, memangnya kenapa? Ada yang salah?" Diana memperhatikan penampilannya, tidak ada yang salah. Badannya terlihat sempurna. Clovis hanya menggelengkan kepalanya.
"Mobilmu belum dibawa kemari"
"Apa? Terus bagaimana Saya bisa berangkat?"
"Pesan saja taxi" Clovis menghabiskan sarapannya.
"Bisa telat, Anda tau kan kalau bos Kami sangat menyebalkan"
"Tidak ada toleransi untukmu" Clovis pergi meninggalkan Diana dan menuju mobil.
"Aaarrrgghhh bagaimana ini? Via... Rara..."
Diana mengambil ponselnya dan menelpon Via. "Hallo Vi, lo udah berangkat?"
__ADS_1
"Udah Di, Gue sama Rara baru aja nyampe. Lo dimana Di?"
"Gue masih di rumah"
"What? Lo bisa telat Di, atau Lo berangkat sama Tuan Clovis?"
"Dia udah berangkat barusan. Aduuuh gimana dong?"
"Yaudah lo naik taxi aja Di"
"Aduh lama dong Vi... Yaudah Gue mau nyari tumpangan dulu ya. Bye" Diana mengotak-ngatik handphone nya.
"Bi, apa mobil disini hanya satu?" Diana menghampiri Bi Wida, asisten rumah tangga Clovis yang setia menemani.
"Ada kunci Bi?"
"Ada non, sebentar" Bi Wida memberikan beberapa kunci.
"Memangnya ada berapa mobil sih Bi? Kenapa kuncinya banyak begini?" Diana menghampiri ruang parkir. Disana berjejer beberapa mobil sport milik Clovis. "Apa? Bagaimana mungkin Aku harus ke kantor dengan mobil-mobil ini?" Diana memilih mobil yang tidak terlalu mencolok. Diana menggunakan mobil sport berwarna jingga.
Diana melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi, dilihatnya jam tangan menunjukkan pukul tujuh lebih empat puluh menit. "Sepertinya Aku benar-benar akan terlambat"
Benar saja, pukul delapan lebih sepuluh menit Diana baru memasuki loby kantor. Beberapa karyawan yang terlambat dikumpulkan di loby. Seperti biasa Clovis memeriksa setiap ruangan. Saat Diana memarkirkan mobilnya di lobby, Clovis membelalakkan matanya. "Mobilku? Beraninya dia"
__ADS_1
"Hei, apa yangsedang Kamu lakukan?" Clovis menghampiri Diana.
"Maaf Tuan, Saya tidak mendapat tumpangan. Teman-teman Saya sudah berangkat dan suami Saya tidak mau mengantar Saya, jadi Saya datang terlambat"
"Maksud Saya, kenapa Kamu berani memakai mobil ini? Bagaimana bisa?"
"Oh ini? Ini milik suami Saya Tuan, apa Anda keberatan?"
"Awas Kamu Dianaa" Clovis meninggalkan Diana dan menghampiri beberapa karyawan yang terlambat.
"Saya beri peringatan sekali lagi, jika Kalian sudah tidak betah bekerja disini, Kalian bisa meninggalkan kantor ini kapanpun. Semua kembali ke ruangan, Saya sudah mendapat catatan nama Kalian. Termasuk Kamu, bocah magang" Clovis menunjuk Diana. Semua mata tertuju padanya.
Seluruh karyawan pergi menaiki lift menuju ruangannya, tidak sedikit bisikan yang Diana dengar "Baru magang sudah berani telat, bagaimana nanti kalau sudah menjadi karyawan tetap?"
"Kamu lihat mobilnya? Sepertinya dia anak orang kaya, makanya datang seenaknya"
"Cantik sih, mungkin dia simpanan Om Om, makanya mobilnya bagus"
Diana mendelikkan matanya. "Kalian benar, Aku anak orang kaya dan Aku simpanan Om Om. Kalian puas?" pintu lift terbuka, Diana pergi meninggalkan mereka.
"Dasar tidak tau malu. Dia pikir suatu kebanggaan menjadi simpanan Om Om?" Clovis yang sedang berkeliling ruangan mendengarnya, kemudian matanya tertuju pada Diana.
"Beraninya dia menyeberkan gosip seperti itu. Kita lihat saja nanti Diana"
__ADS_1