
Hari penikahan pun tiba, Diana ditemani oleh Via dan Rara. "Di, lo yang kuat ya"
"Gue nggak tau harus gimana lagi Vi, Daddy tidak mau merubah keputusannya. Sepertinya nasibku akan berakhir menjadi seorang janda" Diana nampak sedih.
"Menurut gue, ini udah terlanjur Di. Lo harus bisa membuat Tuan Clovis jatuh cinta sama lo"
"Tapi Ra, lo tau kan kalo Tuan Clovis mempunyai pacar. Laki-laki yang Kita kira gay ternyata punya pacar. Lebih mudah bagi gue menggoda laki-laki yang tidak suka perempuan, daripada menggoda kekasih orang lain"
"Lo bener Di"
Pintu diketuk, nampak Nyonya Alexander yang sudah berdandan cantik menghampiri Diana. "Ayo Sayang, Daddy sudah menunggumu" Diana nampak sangat cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, makeup pengantin yang digunakannya sangat cocok. Rambut yang ditata dengan rapih membuatnya sangat sempurna. Diana keluar dari kamar diapit oleh Via dan Rara kemudian disambung oleh Tuan dan Nyonya Alexander.
__ADS_1
"Kamu cantik sekali sayang, Kamu harus bahagia" Diana hanya menganggukkan kepalanya tanpa tau apakah dia akan benar-benar bahagia atau sebaliknya.
Terlihat Clovis yang menggunakan pakaian senada. Clovis menunggu Diana di atas mimbar pernikahan. Rasanya ingin sekali Diana kabur, namun benar kata Rara. Semua sudah terlanjur.
Dengan lancar Clovis mengucapkan janji pernikahan, semua orang terharu. Bahkan tidak sedikit yang turut mengeluarkan air matanya. Begitupun Diana, Diana mempunyai impian untuk dinikahi oleh laki-laki yang sangat mencintainya. Bukan pernikahan seperti ini yang dia inginkan. Bahkan Diana merasa terancam dalam waktu 100 hari. Diana merasa hatinya hancur, merasa begiu dipermainkan. Setelah selesai mengucapkan janji, Diana dan Clovis melakukan sesi foto terlebih dahulu. "Ayo peluk pinggang istri Anda Tuan" Seorang fotografer mengarahkan. Dengan ragu Clovis memeluk pinggang ramping milik Diana. Diana merasa ada yang tidak beres dengan jantungnya, kenapa jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
"Semakin mendekat Tuan" Clovis mendekatkan tubuhnya. Diana merasakan detang jantung yang begitu cepat pada tubuh Clovis. Diana berfikir mungkin Clovis menahan marahnya karena tak ingin berdekatan dengannya. Diana menundukkan kepalanya. "Pandang suami Anda Nona" Diana terlihat gugup, bagaimana mungkin. Diana bahkan tidak pernah memandang wajah Clovis secara detail, dan jika harus jujur Diana tidak bisa membayangkan wajah Clovis sama sekali.
Dengan perlahan Diana mengangkat kepalanya, pandangannya kini saling beradu. Dilihatnya mata hitam pekat milik Clovis, bulu mata yang sempurna menghiasi dan bulu alis yang tersusun rapih.
Dilihatnya banyak sekali tamu undangan yang hadir. "Apa mereka tamu Anda Tuan?"
__ADS_1
"Tidak, Aku tidak mengundang siapapun"
"Pantas saja Saya tidak melihat orang kantor disini kecuali Tuan Tio"
"Apa Kamu berharap orang kantor datang dan mengucapkan selamat karena Kamu sudah menjadi istri dari presdir mereka?"
"Tidak, tentu saja tidak Tuan. Saya akan merahasiakannya dari orang kantor"
"Pintar" Clovis mengusap kepala Diana dan menghampiri beberapa rekan kerjanya yang juga kenalan dari Tuan Bramantio.
Diana kini mematung di atas pelaminan sendirian. Terlihat Keno dan Rachel datang untuk mengucapkan selamat. "Selamat ya Diana, Kamu berhasil menaklukan sahabatku" Rachel memeluk Diana. "Padahal sudah bertahun-tahun Kami dekat, tapi dia tidak pernah mencintaiku" Rachel tertawa, mungkin maksud dia adalah bercanda. Namun Diana hanya menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba seseorang mengagetkan Rachel. Ternyata itu adalah sahabatnya "Baby, Aku kesana sebentar ya" Rachel meninggalkann Keno bersama Diana.
__ADS_1
Diana nampak malas melihat Keno, namun Keno mengulurkan tangannya. Diana pun dengan terpaksa menerima uluran tangan Keno. "Selamat Di, Aku tidak menyangka Kamu menikah secepat ini. Aku kira kemarin saat Kamu tidak menemuiku kembali karena Kamu sakit hati melihatku bertunangan dengan Rachel"
"Lepaskan tangan istriku. Tidak baik terlalu lama menggenggam tangan istri orang lain" Clovis menarik tangan Diana dan menggenggamnya. Diana begitu tercengang.