Presdir I'M In Love

Presdir I'M In Love
Episode 36


__ADS_3

"Tadi Diana dari kampus Kak, kata Tuan Clovis ada beberapa berkas yang harus dibetulkan"


"Kampus? Tuan Clovis mengantarmu ke kampus? Aneh sekali, biasanya itu urusan Tuan Tio"


"Entahlah, mungkin Bang Tio sedang malas"


"Bang Tio?"


"Eh maksudku, Tuan Tio. Dia abangku Kak"


"Abangmu? Wah beruntungnya punya abang ganteng, pasti nggak bosen tinggal di rumah"


"Dih apaan Kak, males Aku ketemu dia"


"Mulai deh Vi, lo ngga ada baik-baiknya sama abang lo"


"Udah ah gue mau kerja lagi" Via, Diana dan Shella kembali bekerja.


Jam istirahat tiba, ketiga sahabat mulai berkumpul di kantin. Tomi lebih sering menghabiskan waktu bersama karyawan laki-laki. "Lo tadi kemana Di?"


"Kemarin...." Diana menceritakan semuanya.


"Jadi tadi lo jalan sama Tuan Clovis? Wah ada kemajuan"


"Lo udah ehm ehm belum Di?"


"Ih apaan sih kalian? Tuan Clovis punya pacar"


"Mantan pacar Di, tadi kan dia bilang gitu ke lo"


"Tapi Gue ragu kalau mereka beneran nggak ada hubungan lagi, kemarin dia kan datang kemari?"


"Iya mungkin aja silaturahim Di, atau Nona Vina ngasih kartu undangan"

__ADS_1


"Bisa aja dia minta balikan" Diana menyeruput minuman yang ada di depannya.


"Mungkin sih, tapi Tuan Clovis kan bisa nolak"


"Gue nggak tau, udahlah mending sedikit tau dari pada banyak tau dan bikin sakit hati"


"Bener lo Di, segera layarkan kapal lo dengan Tuan Clovis" Via terlihat semangat.


Jam istirahat telah usai, seperti biasa Rara kembali ke ruangannya. Begitupun Via dan Diana.


"Di, nanti pulangnya lo bareng Kita aja deh. Daripada lo kabur lagi ke apartemen lo naik taxi"


"Duh nggak tau deh Vi, gimana nanti aja ya"


Jam pulang pun telah tiba, Diana segera menemui Cindy untuk menanyakan keberadaan Clovis.


"Tuan Clovis sedang meeting, mungkin tiga puluh menit lagi. Ada apa Di?"


"Oh begitu, tunggu saja disini"


Diana menghubungi Via dan Rara


Diana : "Gue nggak jadi pulang bareng kalian, Tuan Clovis memintaku menunggunya disini"


Via : "Oke Di, hati-hati ya"


Diana duduk di atas kursi tunggu di depan ruangan Clovis, tak lama kemudian terlihat perempuan cantik yang Diana yakini bahwa itu adalah Vina datang menghampiri Cindy.


"Anda belum mebuat janji Nona, lebih baik Anda tunggu di ruang tunggu"


"Aku tunangan Clovis, jadi biarkan Aku masuk"


Jantung Diana bergetar hebat, disisi lain Clovis menyebutkan bahwa mereka sudah putus sejak satu tahun lalu. Sedangkan perempuan itu berkata bahwa dia adalah tunangan Clovis. Tidak mungkin perempuan secantik itu mengaku-ngaku sebagai tunangannya. Pasti banyak laki-laki lain yang menginginkannya menjadi istrinya.

__ADS_1


"Maaf Nona..."


"Ada apa?" Clovis keluar dari lift khusus presdir.


"Babe, Aku merindukanmu. Sekretarismu sudah melarangku masuk ke ruanganmu. Kamu pecat saja dia Babe" Vina menghampiri Clovis dan menggelayutkan tubuhnya dengan manja.


"Maaf Tuan, Saya hanya..." Clovis mengangkat tangannya. Clovis melihat Diana yang tengah menatapnya. Clovis mendorong tubuh Vina dan menghampiri Diana.


"Kenapa Kamu di luar? Masuklah"


"Maaf Tuan..." Diana menundukkan kepalanya.


"Mahasiswa magang ya? Ada perlu apa?" Vina menatap Diana dengan tatapan tidak suka.


"Saya..."


"Masuklah Diana" Diana mengikuti Clovis dan Vina menyerobot menggandeng lengan Clovis.


"Kenapa Kamu datang kemari?" Clovis melepaskan tangan Vina.


"Babe, bukankah Kamu yang menyuruhku datang kemari?"


Diana membelalakkan matanya, "Maaf Tuan, kalau begitu Saya permisi"


"Tunggu dulu. Kemarin Aku sudah jelaskan ke Kamu kalau Aku sudah menikah. Diana adalah istriku"


Vina membelalakkan matanya, Diana menatap Clovis dengan pandangan tidak percaya. "Tidak, ini tidak lucu Babe. Mana mungkin perempuan ini adalah istrimu? Kamu berbohong kan Babe?"


Vina menghampiri Diana, ditatapnya Diana dari atas sampai bawah. "Dia memang cantik, tapi Aku lebih cantik daripada dia. Kamu berbohong kan Babe?"


"Tapi Aku lebih mencintainya" Clovis menarik Diana ke dalam pelukannya.


Diana membelalakkan matanya, dia benar-benar tidak percaya kalau Clovis tega menjadikannya alat untuk memanasi mantan kekasihnya. Air mata mengalir di pipi Diana.

__ADS_1


__ADS_2