
Di tempat lain, Diana tengah menunggu kepulangan Clovis.
Diana memutuskan untuk pergi berkeliling taman sambil menghirup udara segar karena di dalam rumah Diana merasa sangat kesepian. Ponselnya tidak bisa digunakan sama sekali.
Diana berjalan menyusuri taman hingga kini berada di taman bagian belakang.
"Setelah menikah, baru kali ini aku pergi menyusuri rumah ini." Diana tersenyum membayangkan bagaimana dirinya pertama kali memasuki rumah ini.
Diana tidak senang berada di dalam rumah, hingga dia selalu pergi keluar bersama dua sahabatnya.
"Andai saja suami ku ada di sini, pasti sangat menyenangkan berjalan-jalan seperti ini sambil berpegangan tangan, atau tubuhnya yang kekar merangkul pundak ku. Ah membayangkannya saja sangat menyenangkan." Diana tampak berputar.
"Seharian ini kepala ku terasa pusing, aku bersyukur rasa pusing itu kini mulai menghilang." Diana duduk di kursi taman, membayangkan Clovis ada di sampingnya dan mendengarkan semua ceritanya.
"Tapi kenapa ponsel ku tiba-tiba rusak ya?" Diana kembali merenungi nasib ponselnya.
"Aku harus meminta ponsel baru, aku benar-benar bosan berada di rumah seharian. Hoaaam..." Diana tampak menguap, Diana segera bergegas memasuki rumah.
Dilihatnya jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, "Kenapa Tuan Clovis belum pulang?"
"Apa malam ini dia tidak pulang lagi? Apa aku istri keduanya sehingga aku diabaikan seperti ini?" Diana menggelengkan kepalanya. "Tidak tidak, itu tidak mungkin."
Diana membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, "Tidak terasa, pernikahan ku sudah..."
Diana membelalakkan matanya, "Tunggu dulu, sekarang kan..."
Diana meraih kalender yang ada di meja di samping tempat tidur, Diana menutup mulutnya tidak percaya.
"Seratus hari? Apa jangan-jangan karena ini dia tidak pulang?" Air mata Diana mengalir begitu saja, Diana mencoba menghapus air matanya namun air mata itu tidak kunjung juga reda.
"Aku tidak ingin mempercayai ini, tapi perjanjian itu nyata dan tidak ada pembatalan perjanjian dariku ataupun darinya. Pantas saja hari ini terasa begitu berat." Diana pun tidak menahan air matanya lagi, air mata tersebut mengalir begitu deras.
Diana merasa lelah, diapun terlelap bersama air matanya.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Clovis baru tiba di rumah. Clovis memasuki kamar dan disana terdapat Diana yang sedang terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
"Maaf honey, hari ini kamu pasti lelah ya? Sampai-sampai kamu membawa air mata mu dalam tidur mu." Clovis mengecup hidung Diana yang masih tampak memerah.
"Aku janji, setelah ini aku tidak akan membiarkan air mata mu mengalir seperti ini lagi. Kita berjuang bersama ya honey, aku menangkap pelakunya dan kamu jadilah gadis yang penurut." Clovis mengusap kepala Diana dan mengecup pipinya.
"Aku bersih-bersih dulu ya honey." Clovis menutupi tubuh Diana dengan selimutnya, dia pun pergi menuju kamar mandi.
Diana masih terlelap dalam tidurnya bahkan ketika Clovis mendekap tubuhnya.
Pagi hari telah tiba, ponsel Clovis berdering menandakan panggilan masuk.
"Siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini?" Clovis meraih ponsel miliknya kemudian dilihatnya nama Tio di layar ponsel tersebut.
"Ya? Kenapa? Gue baru aja bisa tidur dan lo udah telpon gue?" Clovis tampak mengomel.
"Sorry bro, gue cuma mau bilang kalau tim IT baru saja menghubungi gue. Katanya semua foto Diana udah selesai dihapus dari media. Bahkan seluruh berita miring tentang Diana dan perusahaan QJ sudah musnah." Tio terdengar bahagia.
"Iya terus? Lo hubungi gue cuma buat bilang begitu? Semalam gue nggak langsung pulang, gue datengin tim IT dan ancam mereka buat segera menyelsaikan masalah ini. Gue yakin mereka nggak tidur semalaman." Clovis tampak menguap.
"O...Oh iya, gue kira semalam lo langsung pulang. Jadi berita gue basi ya? Hahaha sorry bro gue ganggu lo..."
Tanpa pikir panjang Clovis mengakhiri panggilannya.
"Honey? Kamu dimana?" Clovis bangun dari tidurnya.
Clovis membuka kamar mandi, namun tidak ada siapapun disana.
"Diana? Bi Wida..." Clovis keluar dari kamarnya.
"Iyaa Tuan." Dengan tergesa-gesa, Bi Wida menghampiri Clovis.
"Dimana Diana?" Clovis tampak panik.
"Non Diana? Bukankah Non Diana masih di dalam kamar Tuan?" Bi Wida tampak bingung.
"Kalau Diana ada di dalam kamar, Aku nggak bakalan nanyain sama Bi Wida." Clovis mulai marah.
__ADS_1
"Ma...Maaf Tuan, Bibi akan mencarinya di halaman. Siapa tau Non Diana sedang berkeliling di taman, sudah beberapa hari ini Non Diana senang berdiam diri di taman."
"Jangan banyak bicara, cari Diana sekarang juga." Clovis kembali ke dalam kamar, dengan cepat Clovis mengganti pakaiannya.
Clovis keluar rumah dan melihat beberapa pegawai tampak sibuk berlarian.
Clovis langsung menuju parkiran dan mengendarai mobilnya.
Clovis tau kalau Diana sudah tidak ada di rumahnya, malam hari ponsel Clovis menampilkan sebuah notifikasi yang mengingatkan kalau pernikahan mereka genap seratus hari.
Melihat Diana terlelap di atas tempat tidur membuat Clovis tenang. Namun tidak disangka kalau Diana pergi disaat pagi hari.
Mungkin Diana belum jauh dari kediaman Clovis, dengan kendaraannya Clovis mencari sekitar. Berharap dia akan segera menemukan Diana.
"Honey, kenapa kamu seperti ini? Kamu dimana?" Clovis tampak sangat khawatir.
Setiap ada seorang gadis yang berdiri di pinggir jalan, Clovis memastikannya apakah itu Diana atau bukan.
Clovis mencoba menghubungi nomor Diana, namun nomornya tidak aktif.
"Dasar bodoh, bukankah Aku sendiri yang mematikan akses menuju Diana?" Clovis melempar ponselnya.
Clovis terus mencari, sesekali dia mengepalkan tangannya.
"Honey, apa setidak nyaman itu kamu bersama ku hingga kamu pergi begitu saja? Aku minta maaf honey." Clovis terus berbicara berharap Diana mendengar semua ucapannya.
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu kepada mu." Clovis terus mencari hingga menuju pusat kota.
"Oh ya Tio, mungkin Via tau dimana Diana?" Clovis memutuskan untuk pergi menuju rumah Tio.
Namun Clovis menghentikan niatnya, "Tidak, Via pasti akan sangat marah kalau dia tau Diana menghilang. Ayolah bodoh, pikirkan baik-baik. Kemana istri mu pergi?" Clovis memukul kepalanya pelan.
Di tempat lain, Diana tengah terlelap dalam tidurnya. Wajahnya tampak sangat pucat, bahkan tubuhnya tampak menggigil kedinginan.
...****************...
__ADS_1
Makanya teruntuk para lelaki, jangan lupakan istri kalian apapun yang terjadi. Alangkah baiknya jika dibicarakan terlebih dahulu apapun masalahnya 🤭🤭
Jangan lupa dukung terus karya ku yaa 🥰🤍