
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih hampir 4.5 jam karena sedikit macet di jalan akhirnya Rendy dan Jihan tiba di kantor. Mereka langsung mulai bekerja tanpa istirahat terlebih dahulu jangankan untuk istirahat untuk pulang saja tidak bisa.
Hari ini Rendy harus mengerjakan pekerjaan nya sendiri mengingat dirinya sebagai Manager Markating hal itu tak bisa di wakilkan oleh siapapun.
Di sisi lain Jihan lebih memilih beristirahat sejenak di tempat istirahat khusus perempuan yang memang perusahaan menyediakan tempat istirahat bagi karyawan dan karyawatinya jika mereka merasakan tidak enak badan mereka bisa beristirahat sejenak di tempat yang nyaman.
Jihan berbaring di kasur dan membalut tubuhnya dengan selimut. Ahhh nyaman sekali ini. Gumam Jihan. Tak berselang lama ada dua orang yang juga beristirahat di samping basal Jihan. Dua orang itu salah satunya ada Sandra. Sekretaris Pak Michael Direktur Utama Pratama Foods Group.
Mereka tak menyadari keberadaan Jihan yang kebetulan Jihan tidur di kasur atas. Sepatu dan tas nya ia letakkan di loker. Sehingga sama sekali tak terlihat ada orang lain selain mereka berdua.
“Sandra. Apa kamu masih menaruh hati sama Pak Rendy?’’ Tanya Tina. Tina sendiri bekerja di divisi accounting.
Jihan yang sedari tadi memerhatikan kedatangan mereka terkejut nama Rendy di sebut.
“Masih lah Tin. Bahkan aku udah menyatakan perasaanku sama Pak Rendy.’’ Ucap Sandra lesu.
“Terus?’’ Tanya Tina. “Sepertinya tipe Pak Rendy bukan aku Tin.’’ Ucap Sandra beriringan dengan butiran air mata yang mulai membasahi kedua pipi Sandra.
Melihat itu Tina langsung memeluk erat tubuh Sandra. Memberikan semangat untuk teman nya itu. Sandra dan Tina dulunya satu kampus hingga akhirnya mereka bertemu lagi di perusahaan yang sama dan menjalin ikatan persahabatan.
“Apa kamu butuh bantuanku?’’ Tanya Tina lalu melepaskan pelukannya dari Sandra.
“Ma-maksud kamu?’’ Jawab Sandra yang masih belum tahu maksud dari pertanyaan Tina.
“Gimana kalau kita jebak Pak Rendy aja. Kalau dengan cara yang benar tidak berhasil mendapatkan hati Pak Rendy apa salahnya kalau kita mencoba opsi kedua.’’ Ucap Tina.
“Maksudnya? Aku nggak ngerti.’’ Tanya Sandra penasaran. “Ya ampun Sandra kamu cantik-cantik kok lola banget sih. Jadi gini setelah kamu menyatakan perasaan kamu ke Pak Rendy lalu Pak Rendy menolak cintamu sedangkan kamu masih terus mencintai Pak Rendy meski kamu tahu cinta mu itu bertepuk sebelah tangan, maka langkah selanjutnya kita harus menempuh cara yang lebih berani lagi.’’ Jelas Tina menggebu-gebu. “Ngerti?’’ Tanya Tina gregetan. Sandra menggelengkan kepala pertanda ia sama sekali memang tidak tahu apa maksud Tina. “Astaga. Ok memang sebaiknya aku harus ngomong to the point aja.’’ Ucap Tina.
“Jadi dari tadi kamu belum ngomong to the point?’’ Tanya Sandra dengan lugunya.
__ADS_1
“Huft. Kita jebak Pak Rendy buat tidur sama kamu. Dengan begitu mau nggak mau Pak Rendy pasti akan menerima cintamu. Dan kalian akan menjadi pasangan suami istri.’’ Ucap Tina dengan menampilkan senyuman smriknya.
“Aaaaaa Tina. Memangnya aku segila itu apa?’’ Kesal Sandra. Jihan yang sedari tadi menguping pembicaraan antara Sandra dan Tina merasa tidak terima atas apa yang mereka bicarakan.
Ingin rasanya Jihan menjambak rambut mereka berdua dan melempar tubuh mereka dari jendela. Tak sadar Jihan juga meremas selimut yang ia pakai. Dirinya dikuasai perasaan yang aneh. Apa mungkin rasa cemburu?
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Di tengah pembicaraan mereka Pak Michael menelpon Sandra untuk segera menuju ke ruangan nya.
Dengan terpaksa mereka menghentikan diskusinya kali ini. Setelah Sandra dan Tina meninggalkan ruangan istirahat, Jihan turun dari kasur atasnya sembari menghembuskan nafas yang tersengal-sengal. Jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya.
Lantas Jihan segera merapikan pakainnya dan sedikit polesan make up lalu ia menuju ke ruangan Marketing. Entah mengapa ia ingin sekali berada di samping Rendy.
Saat hendak menuju ke ruangan Marketing dimana Rendy bekerja ia tak sengaja berpapasan dengan Sandra. Sandra kemudian menyapa Jihan, dan dengan cueknya Jihan mengacuhkan Sandra.
Ada apa dengan Nona Jihan? Tidak seperti biasanya. Gumam Sandra yang merasa ada sesuatu pada Jihan. Sandra tidak tahu kalau Jihan sangat merasa marah, kecewa dan kesal terhadap dirinya.
Setibanya di ruangan Rendy, Jihan melihat Rendy yang tengah fokus menatap layar komputer lalu menanyakan apakah Rendy mau segelas kopi. “Coffee?’’ Tanya Jihan sesampainya ia di ruangan Rendy untuk mencairkan suasana hatinya. “Oh ya. Tapi itu job desk nya OB (Office Boy) untuk menawarkan kopi.’’ Balas Rendy yang merasa aneh atas sikap dari Jihan. “Lagipula kamu kan yang punya perusahaan ini. Rasanya tak pantas kamu menawari ku kopi.’’ Imbuh Rendy. “Aku kan cuma menawarkan saja. Kalau nggak mau ya sudah.’’ Balas Jihan dengan rasa kecewanya. Rendy tak menghiraukan Jihan ia lebih memilih menyelesaikan pekerjaannya segera. Karena nanti malam harus segera ia laporkan. “Aku mau ke factory. Mau ikut? Lagipula aku pikir kamu belum pernah mengunjungi factory (pabrik) kita.’’ Ucap Rendy.
“Lain kali saja aku sedang sibuk.’’ Jawab Jihan bohong. “Ayo lah pabrik kita juga butuh kehadiran dari pewaris tunggal kita. Selama ini kan kamu hanya berada di Office.’’ Imbuh Rendy.
“Huft. Iya-iya.’’ Jawab malas Jihan. Rendy tersenyum melihat tingkah Jihan yang terkadang seperti anak kecil.
“Oh ya. Tadi Pak Michael mencari mu. Dia terus menelpon mu. Tapi sepertinya kau tak menggrubis telepon darinya.’’ Ucap Rendy. “Biarlah. Nanti saja aku ke ruangannya langsung.’’ Ucap Jihan.
__ADS_1
Mereka lalu menuju ke factory pembuatan Mie Instant Qwerty yang terpisah dari Gedung Utama. Ada varian lima rasa yang mereka produksi untuk jenis mi kuah dan 3 rasa varian untuk mi goreng. Untuk mi kuah ada rasa ayam bawang, soto, kari, rawon dan juga rasa laksa. Sedangkan untuk varian mi goreng ada rasa ayam goreng, rasa sambal hijau dan ayam geprek.
Tak lupa mereka juga mengunjungi gedung pabrik yang lainnya dimana gedung satunya itu memproduksi snack.
Hanya sebentar mereka mengunjungi pabrik yang hanya berjarak 100 meter dari Gedung Utama itu.
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Panggilan masuk dari Pak Michael dari telepon Jihan. “Halo.’’ Ucap Jihan. “Bisa ke ruangan saya sebentar. Ada yang harus kita bicarakan.’’ Ucap Pak Michael. “10 menit lagi aku sampai.’’ Ucap Jihan.
“Siapa?’’ Tanya Rendy. “Mr. Michael. Ok cukup untuk hari ini sepertinya setelah menemui Pak Michael aku harus segera pulang.’’ Ucap Jihan. “Kenapa?’’ Tanya Rendy penasaran. “Aku lelah. Rasanya aku sedang tidak enak badan. Semenjak datang ke Indonesia aku belum istirahat. Apalagi perjalanan ke Bandung kemarin. Rasanya tumpukan paku sedang menancap di badanku.’’ Ucap Jihan lesu.
“Oh.’’ Ucap Rendy. “Oh? Kamu hanya bilang oh? Shiitt. Dasar playboy.’’ Ucap Jihan kesal sembari meninggalkan Rendy.
“Hei. Playboy? Apa maksudnya ? Hei.’’ Ucap Rendy yang tidak terima ia di juluki playboy oleh Jihan.
Sesampainya di depan pintu Pak Michael, Jihan tahu apa yang sebenarnya tua bangka itu inginkan. Ia mengatur pernafasannya terlebih dahulu, biar bagaimanapun yang ia hadapi saat ini adalah orang yang sangat berbahaya. Seseorang yang ingin mengambil alih Pratama Foods Group dari keluarganya.
Tok
Tok
Tok
Jihan mengetuk pintu ruangan Direktur Utama. Tak lama kemudian Sandra yang membukakan pintu. Jihan teringat akan pembicaraan Sandra di ruangan istirahat tadi. Seketika Jihan memasang wajah malas kepada Sandra. Lagi-lagi Sandra merasa ada sesuatu dengan Jihan. Kali pertamanya mereka bertemu Jihan sangatlah baik dan ramah terhadapnya. Namun kali ini sikap Jihan berubah drastis. Bahkan senyuman Sandrapun tak Jihan hiraukan.
__ADS_1