Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Aku Juga Tidak Percaya


__ADS_3

"Maafkan Ayah Mario. Ayah sangat menyesal." Ucap Michael meminta maaf


Namun Mario mengacuhkan permohonan maafnya. Ia lebih memilih mendampingi Kimora untuk segera di mandikan dan di makamkan.


"Apa kau akan memakamkan Kimora di samping makam Ibumu?" Tanya Michael sekali lagi.


"Bukan urusanmu. Urus saja urusanmu sendiri. Sejak kepergianmu waktu itu aku sudah tidak memiliki seorang Ayah lagi." Ucap geram Mario.


Keesokan harinya pemakaman Kimora dilangsungkan. Tubuh lemas Mario menghantarkan tempat peristirahatan terakhir Kimora.


Kau sekarang pastinya bahagia Kimora. Kau bisa bertemu dengan Ibu sosok yang sangat kau rindukan selama ini. Kau sedang bersenang-senang bersama Ibu bukan? Bahagia lah selalu disana Kimora. Kakak akan selalu merindukanmu disini.


"Mario. Kehidupan akan terus berlanjut. Hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah mendoakan Kimora." Ucap Jihan


"Baru pertama kali bertemu dengan Kimora tapi aku sudah tahu Kimora adalah gadis yang baik. Selamat beristirihat dengan tenang Kimora cantik." Ucap Claudya.


"Yang sabar ya Mario. Ada ibu disini. Kau boleh menganggap Ibu sebagai Ibu mu." Imbuh Bu Darmi.


Sementara Michael hanya memandangi pusara Kimora dari jauh. Ia merasa malu untuk berdekatan dengan makam Kimora.


***


Seminggu setelah kepergian Kimora membuat luka dalam bagi Mario. Kimora baginya adalah harta satu-satunya setelah ibu dan neneknya yang merawat ia dan Kimora sejak kecil pergi meninggalkan dunia indah ini.


Ditambah dengan satu fakta yang membuatnya tak kalah terkejut ialah terkuaknya keberadaan ayah kandungnya.


Bahkan yang membuatnya ia semakin membenci ayahnya adalah selama ini ia sudah berhubungan dengannya melalui cara yang sangat menjijikkan.


"Mulai sekarang perjanjian kita batal. Aku berpihak pada Jihan. Anggap saja kita tidak pernah bertemu." Ucap Mario kepada Michael di ruangan Direktur Utama.


Michael hanya terdiam. Ia tak ada keberanian dan nyali yang besar untuk menjawab pernyataan dari Mario. Andai saja jika ia tahu lebih dulu mungkin tanpa adanya perjanjian itu dengan suka rela ia membiayai biaya pengobatan rumah sakit Kimora.


"Anda tenang saja. Itu akan tetap menjadi sebuah rahasia." Imbuh Mario lalu bergegas meninggalkan Michael yang hanya terdiam di ruangannya.


Jarak kita sangatlah dekat, namun hati kita sangatlah jauh. Gumam Michael.

__ADS_1


"Hei Bro turut berduka cita ya." Ucap Rendy kepada Mario.


"Thanks." Jawab singkat Mario.


"Aku mengetahui dari Jihan. Jika kamu selama ini merupakan anak kandung dari Pak Michael." Ucap Rendy


"Bagiku ayahku telah lama meninggal. Cukup itu saja yang perlu kau tahu." Ucap Mario datar dan pergi meninggalkan Rendy.


Jihan yang melihat dan mendengar percakapan antata Rendy dan Mario menghampiri Rendy.


"Sebaiknya kita lebih berhati-hati dulu dalam berucap. Dia sedang berduka." Ucap Jihan


Sebuah pesan di ponselnya. Rupanya Mario yang mengirimkannya sebuah pesan.


Isi pesan Mario.


Jihan pun bergegas menuju ke kantin dengan berlarian kecil


"Kau tidak perlu berlari seperti itu." Ucap Mario kepada Jihan setelah Jihan sampai di kantin dan menemuinya.


"Aku resign hari ini. Tugasku sudah selesai." Ucap Mario.


"Kau bersungguh-sungguh Mario? Aku kira kau hanya sedang dalam keadaan terpuruk saja. Aku akan menunggumu hingga pulih." Ucap Jihan yang menyayangkan sikap Mario ingin mengundurkan diri.


"Aku akan membuka sebuah warung kopi. Jika kau suntuk kau bisa mengunjungi ku kapan pun kau mau." Ucap Mario.


"Apa ini ada hubungannya dengan Pak Michael? Aku sendiri sangat terkejut Pak Michael memiliki seorang anak. Tapi yang membuatku lebih terkejut dia tak mau mengakui keberadaan kalian." Ucap Jihan


"Entahlah. Yang jelas aku tak ingin lagi mengenal dan melihat wajahnya lagi. Sampaikan salamku untuk Paman Joe. Aku harap kalian bisa menerima keputusanku. Kau bisa mencari pengawal baru." Ucap Mario lalu meninggalkan Jihan sendiri di kantin.


Sebenarnya ini adalah hal yang sulit ia pilih. Satu sisi ia tak ingin lagi melihat Michael namun satu sisi ia juga tak mau berjauhan dengan Jihan yang rupanya sudah mendapatkan posisi di ruang hatinya.


"Kau harus tetap fokus pada rapat final mendatang. Keputusannya ada pada itu." Ucap Rendy tiba-tiba menghampiri Jihan.


"Kau membuntutiku?" Tanya Jihan

__ADS_1


"Kebetulan aku ingin meneguk segelas kopi dan melihat serta mendengar kalian disini." Ucap Rendy


"Hidup itu terlalu rumit ya." Ucap Jihan.


"Tergantung sih menurutku." Balas Rendy


"Tergantung? Apa maksudnya?" Tanya Jihan tak mengerti dengan maksud Rendy.


"Ya tergantung bagaimana seseorang itu menanggapinya. Jika kita terlalu banyak mengeluh ya sudah pasti akan terasa sulit, rumit , susah. Tapi kalau kita menanggapinya dengan bahagia meski hidup yang kita jalani memang berat yang kita rasakan aku yakin akan mudahnya kita menjalani hidup." Ucap Rendy sembari meneguk kopi dingin yang sudah ia pesan sedari tadi.


"Aku anak tunggal. Aku tak punya saudara untuk mencurahkan isi hati dan pikiran." Ucap Jihan sendu.


"Me too. Anak tunggal dan langsung di hadapkan pada kenyataan saat ayahnya meninggal dunia ia memiliki hutang yang sangat banyak kepada saudara-saudaranya dan lebih mengejutkan lagi mengatasnamakan Ibu ku sebagai jaminannya. Perih sedih itu pasti. Tapi lihat aku bisa menghadapinya dari hutang 650 juta sekarang tinggal 250 juta." Ucap Rendy


"Ternyata kita sama. Hanya soal ujian saja yang berbeda." Ucap Jihan


"Bukan hanya kita berdua saja yang sama. Semua manusia yang masih bernafas akan memiliki ujian hidup yang sama hanya berbeda tempat, waktu dan seperti yang kau sebutkan tadi. Soalnya." Ucap Rendy


"Aku ingin sepertimu. Tapi apa mungkin aku bisa." Ucap Jihan


"Aku manusia kamu juga manusia. Aku yakin kamu juga pasti bisa. Apa iya kau meragukan dirimu sendiri? Jika ia itu hal yang sangat memalukan." Ucap Rendy


"Apa rencana mu selanjutnya setelah hutang-hutang itu lunas?" Tanya Jihan


"Aku akan membuat Ibuku bahagia. Entah liburan atau semacamnya. Barangkali memberikannya seorang cucu yang sangat menggemaskan untukknya." Ucap Rendy


"Ide yang sangat cemerlang. Kau sudah ada kekasih?: Tanya Jihan


"Belum." Jawab Rendy


"Aku tidak percaya. Hehe." Ucap Jihan sembari tertawa kecil


"Ya kau benar. Aku sendiri juga tidak percaya kepada orang yang saat ini tengah ku perjuangkan. Kau tahu ternyata perjuangan dalam berkarir tak sebanding dengan memperjuangkan cinta kita. Saat hati dan pikiran sudah merencanakan sedemikian rupa ingin mengungkapkan rasa cinta namun lidah ini tak mampu berucap. Rasanya sangat konyol sekali bukan. Kadang ingin rasanya mengutuk diri sendiri." Ucap Rendy yang sebenarnya ia sedang memaki dirinya sendiri.


"Aku yakin siapapun itu dia adalah wanita yang beruntung." Ucap Jihan dan meninggalkan Rendy sendirian di meja kantin.

__ADS_1


Dan kau orang yang beruntung itu Jihan. Gumam Rendy.


__ADS_2