Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Lebih Dari Sekedar Mengagumi..


__ADS_3

Seminggu kemudian bertepatan dengan acara rapat pimpinan direksi pemegang saham Pratama Foods Group di gelar.


Para petinggi berkumpul di ruang rapat VVIP. Pilihan mereka akan menentukan keberlangsungan Pratama Foods Group lima tahun mendatang.


“Jihan Pratama. Pewaris tunggal dari Pratama Foods Group. Beberapa kali bekerja paruh waktu di Inggris sebagai penjaga toko buku, bar tender di kafe, lalu sebagai sales sebuah perusahaan retail. Ada yang tertarik dengan pewaris tunggal Pratama Foods Group.” Ucap Tuan Hans. Pemegang saham terbanyak untuk PFG.


“Michael Purwadinata. Sudah bergabung menjadi bagian PFG selama 23 tahun. Dedikasi pekerjaannya tak dapat lagi di ragukan. Mengawali karir sebagai security pastinya orang awam akan menganggap ini sebuah lelucon. Namun bagi PFG ini sebuah awal permulaan yang bagus. Sikap tegas dan disiplinnya sudah terlahir dari seorang penjaga keamanan. Saya rasa tidak ada yang tidak tertarik dengannya. Pilihan anda menentukan PFG kedepannya. Melesat terbang jauh atau bahkan jatuh tersungkur ke tanah lalu di injak-injak dengan remehnya oleh perusahaan lain.” Imbuh Tuan Hans.


Beberapa pimpinan direksi pun saling berbisik mengungkapkan pilihannya.


Plok. Plok. Plok.


“Sudah cukup. Silahkan vote pilihan anda sekarang.” Ucap Tuan Hans.


isi pesan dari Pak Michael.


Balas Tuan Hans di sela-sela peraihan suara.


 


Sementara Jihan di ruangan Rendy hanya bisa memasrahkan diri. Ia telah berjuang keras selama ini untuk kemajuan PFG. Namun entah itu menjadi penilaian tersendiri bagi dirinya atau tidak.


“Tenang dan tetap fokus.” Ucap Rendy sembari menepuk bahu Jihan.


“Aku hanya berharap keajaiban menghampiriku.” Balas Jihan.


“Apapun keputusannya terima dengan objektif.” Ucap Rendy.


 


Di belahan benua Amerika. Seorang Abdi masih berbaring di kasur sebuah rumah sakit.


“Sayang. Apa kau tidak merindukan kami. Kau tak merindukan perusahaan yang dengan susah payah kau dirikan. Apa kau tak merindukan omelanku setiap harinya. Apa kau tak merindukan semua itu?” Ucap Roshinta sembari menatap sayu suaminya.

__ADS_1


“Kak Joe bilang hari ini rapat pimpinan direksi. Pratama Foods Group sedang berada dalam ombak yang terombang-ambing oleh keadaan. Entah kapal milik Jihan atau kapal milik orang yang dulu sangat kita andalkan rupanya musuh dalam selimut.


Aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Karena bagiku kesembuhanmu adalah segalanya bagiku sayang. Harta bisa dicari namun pasangan seperti dirimu entah aku bisa menemukannya atau tidak. Aku merindukanmu.” Imbuh Roshinta menangis terisak dengan menundukkan kepalanya. Di sudut ruang itu hatinya merasakan kehampaan yang sangat menusuk relung jiwanya.


 


Bandung. Di sebuah rumah yang sangat asri. Diana menatap sebuah album foto. Dirinya, Abdi dan Roshinta tengah menyantap makanan di restoran. Abdi, apa hasil kerja keras kita akan sia-sia. Segeralah kembali. Gumam Diana. Butiran air mata membasahi album foto itu.


 


“Kopi?” Tanya Rendy kepada Mario.


“Boleh.” Jawab Mario.


Mario menerima satu cup coffee dari Rendy. Keduanya tengah duduk di ruangan Rendy. Rendy sengaja memanggil Mario.


“Jihan? Kau menaruh hati kepadanya?” Tanya Rendy tiba-tiba yang membuat Mario terkejut. Namun ia  berusaha tenang. Jihanpun tak diruangan Rendy, ia bersama Claudya sedang ke kantin. Jihan menginginkan jus orange saat dirinya tengah gugup menanti hasil rapat pimpinan direksi.


“Aku melemparkan sebuah pertanyaan, mengapa aku juga yang harus menjawabnya.” Ucap Rendy kesal.


“Baru sebatas mengagumi. Kau sendiri?” Tanya Mario balik.


“Lebih dari sekedar mengagumi.” Jawab singkat Rendy.


“Ku pikir setiap pria yang bertemu dengan Jihan akan langsung menaruh hati. Mustahil jika tidak.” Ucap Mario.


“Bahkan temanku yang sendiri baru bertemu pertama kali sudah tergila-gila.” Ucap Rendy.


“Ehhmm.” Ucap Mario.


“Jihan gadis yang sangat berbeda. Ia terlahir dari keluarga berada namun sikapnya selalu rendah hati. Di samping kecantikannya yang membuat laki-laki pasti akan terpana setiap kali menatapnya.” Ucap Rendy menyanjung Jihan di hadapan Mario.


“Ehhmm.” Ucap Mario.

__ADS_1


Melihat Mario yang sepertinya tak menanggapi ucapannya, Rendy merasa kesal.


“Apa kau tidak punya pendapat lain selain ‘ehhmm’.?” Tanya Rendy.


“Bagiku rasa mengagumi tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Perasaan itu adalah perasaan tanpa sebuah alasan. Begitulah rasa yang sesungguhnya. Tanpa butuh pengakuan dan alasan. Ia buta, tuli dan bisu. Namun dapat mengerti apa yang kita rasakan. Jika rasa itu tak buta maka tak mungkin seorang  pangeran menikahi pembantunya sendiri, jika rasa itu tak tuli maka mana mungkin Romeo mau mendengar pernyataan cinta dari Juliet, jika rasa itu tak bisu mana mungkin ikatan dua manusia akan saling berhubungan meski tanpa bersua. Tidak semua hal harus ada alasan, penyebab untuk kita mengakuinya.” Ucap Mario panjang lebar.


Rendy terkejut dengan penuturan Mario. Ia pikir Mario adalah sosok orang yang introvert. Rupanya dugaannya salah. Seseorang extrovert sedang menyamar dalam diri introvert.


“Yatim piatu?” Tebak Rendy.


Mario menganggukkan kepala sebagai jawaban.


“Ayahku meninggal saat keuangan ekonomi keluargaku sedang baik-baiknya. Tanpa ada firasat dan gejala ia meninggalkan satu orang istri dan satu orang anak. Kukira ia meninggal dengan tenang karena meninggalkan banyak harta untuk anak dan istri yang ia tinggalkan. Namun rupanya kekayaan yang aku rasakan saat itu tidak berlangsung lama. Ia meninggalkan banyak hutang dan lebih parahnya ia menggunakan nama ibuku sebagai jaminannya tanpa sepengetahuan ibuku. Ku kira ayahku benar-benar ayah terbaik rupanya aku yang keliru. Tidak, bukan ayahku yang salah. Tapi aku yang keliru menilai. Aku terlalu gegabah menilai.” Ucap Rendy.


 


“Itu belum seberapa. Ibuku meninggal sesaat melahirkan adikku. Lebih parahnya lagi ayah yang menjadi satu-satunya tempat untukku mengaduh justru pergi meninggalkan kami. Saat itu usiaku baru 7 tahun. Dalam waktu yang bersamaan kedua orang tuaku meninggalkanku. Hanya beda jalan saja yang mereka tempuh. Saat ini adikku dalam perawatan, ia mengalami penyakit genetik. Hidupnya bergantung dengan alat. Dulu sebelum separah ini penyakit yang harus adikku derita aku tak begitu terlalu membenci ayahku. Namun setelah aku melihat adikku merasa kesakitan ketika tubuhnya harus berulang kali disuntik, raut wajah kesakitannya lah yang membuatku membenci ayah kandungku sendiri.” Ucap Mario terhenti. Ia menyeka butiran air mata.


 


“Jangan khawatir. Jika kau mempunyai perasaan untuk Jihan. Karena bagiku sekarang yang terpenting adalah keselamatan adikku. Ia satu-satunya harta yang berharga untukku. Tidak ada yang lainnya.” Imbuh Mario.


“Kau benar. Kau memiliki adik yang menjadi semangat dalam hidupmu. Sedangkan aku memiliki seorang ibu yang juga menjadi penyemangat hidupku.” Ucap Rendy.


“Kita sama-sama melikiki perempuan yang menjadi semangat dalam hidup kita. Tapi kita juga menaruh hati untuk perempuan lain. Apa kita serakah?” Tanya Mario.


“Entahlah.” Ucap Rendy.


 


Tanpa mereka sadari, Claudya menguping pembicaraan mereka sedari awal. Jika saja Jihan tak menyuruhnya untuk mengambilkan ponsel yang ketinggalan, dia tak akan bisa mendapatkan sebuah rahasia besar.


Beruntungnya dirimu Jihan. Gumam Claudya.

__ADS_1


__ADS_2