Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Bisa Tidak Berhenti Menghantui Pikiranku


__ADS_3

“Mario. Kamu nglamunin apa?’’ Ucap Bu Darmi seketika membuyarkan lamunan Mario.


“Oh nggak kok Bu. Agak sedikit pusing aja.’’ Ucap Mario.


Jihan yang mendengar percakapan Mario dan Bu Darmi seketika terusik tidurnya.


“Ibu.’’ Ucap Jihan lirih ia masih belum sepenuhnya tersadar.


“Iya Ji. Ibu disini. Kamu nggak papa kan?’’ Tanya Bu Darmi cemas.


“Nggak ko Bu. Jihan cuma dehidrasi sama kurang makan aja kok hehe.’’ Ucap Jihan.


“Syukurlah. Ini Ibu bawain makanan kesukaan kamu sejak kecil. Opor paha ayam. Makanan rumah sakit kan rasanya hambar. Ibu juga bawa lebih buat kamu juga Mario.’’ Ucap Bu Darmi


“Terimakasih Bu.’’ Ucap Jihan dan Mario bersamaan.


Jihan dan Mario seketika terkejut. Mereka langsung bertatapan. Perasaan canggung mendominasi mereka.


Bu Darmi yang melihat itu hanya tersenyum kecil sembari menyiapkan makanan.


“Saya makannya nanti saja ya. Karena Bu Darmi sudah ada disini saya izin permisi sebentar.’’ Ucap Mario.


Jihan dan Bu Darmi mengiyakan permintaan Mario. Jihan langsung melahap masakan favoritnya apalagi yang buat Bu Darmi.


“Ibu ini kenapa bisa enak banget sih. Sehari nggak makan sekalinya makan langsung makan masakan Bu Darmi yang spesial ini.’’ Ucap Jihan.


“Udah-udah. Nanti aja mujinya. Habiskan dulu makanannya nanti baru ngomong.’’ Ucap Bu Darmi.


 


 


Di sisi lain, Rendy yang sudah berada di rumah ia merasa ada yang kurang dalam dirinya.


Ia mencoba memejamkan mata untuk beristirahat sejenak namun entah mengapa bayang-bayang Jihan menghantui pikirannya.


Ahh sialan. Kenapa sih wajah dia selalu aja muncul. Ganggu aja. Gumam Rendy.


“Kenapa Ren?’’ Tanya Bu Laras.


“Oh enggak kok Bu. Rendy nggak kenapa-kenapa. Rendy mau mandi dulu aja biar segeran.’’ Ucap Rendy.


“Nanti setelah mandi langsung makan ya Ren. Ibu udah siapin makanan kesukaan kamu tuh. Opor paha ayam. Baru aja mateng’’ Ucap Bu Laras. “Makasih ya Bu.’’ Ucap Rendy.


Ahh segernya. Gumam Rendy saat membasahi sekujur tubuhnya. Tiba-tiba bayangan Jihan terlintas kembali di pikiran Rendy.


Aarrgghh kenapa dia lagi muncul sih. Sialan. Umpat Rendy. Langsung buru-buru ia mempercepat mandinya.


“Tumben mandi kamu cepat Ren?’’ Tanya Bu Laras.

__ADS_1


“Iya Bu.’’ Jawab Rendy datar.


Aneh nggak seperti biasanya Rendy kaya gitu. Apa efek pukulan di lehernya ya jadi kaya gitu si Rendy. Gumam Bu Laras.


 


Setelah selesai berganti pakaian Rendy langsung menyantap makanan yang telah ibunya siapkan.


“Wah opor paha ayam. Udah lama banget kayaknya ibu nggak masak ini. Apa harus nunggu Rendy sakit dulu baru Ibu masakin ini buat Rendy.’’ Ucap Rendy.


“Bisa aja kamu Ren. Ren omong-omong kamu udah ada calon belum? Tangan Ibu udah gatel nin pengen cepet-cepet nimang cucu. He he he.’’ Ucap Bu Laras menggoda.


“Uhuk uhuk.’’ Rendy tersedak mendengar perkataan dari ibunya.


“Alah. Pakai batuk segala. Nggak usah sok jaim-jaim deh kamu sama Ibu.’’ Imbuh Bu Laras.


“Bukan gitu Bu. Emang Rendy tersedak kok. Lagi pula Rendy kan baru 29 tahun. Masih jauh lah mikirin soal pernikahan.’’ Ucap Rendy.


“Ih kamu tuh ya. Umur segitukan udah waktunya nikah Ren. Apa kamu mau Ibu yang nyariin jodoh buat kamu?’’ Tanya Bu Laras.


“Paan sih Bu.’’ Jawab Rendy malas.


“Galuh aja sebentar lagi nikah masa kamu belum ada calon.’’ Ucap Bu Laras yang terus memancing Rendy.


“Bu sekali lagi Ibu ngomongin itu Rendy berhenti makan nih.’’ Ucap Rendy yang mulai kesal dengan tingkah ibunya.


“Maaf ya Bu. Bukan maksud Rendy menyinggung perasaan Ibu.’’ Ucap Rendy.


“Nggak apa-apa kok Ren. Lagian Ibu juga nggak ngerasa kamu nyakitin perasaan Ibu. Justru Ibu yang dari tadi menggoda kamu buat segera nikah. He he he.’’ Ucap Bu Laras. Sebenarnya dari hati yang paling dalam ia merasa menyesal sudah membuat Rendy yang harus membayar semua perbuatan Ayahnya semasa masih hidup.


“Oh ya Bu. Beberapa waktu lalu Rendy bertemu dengan Bu Diana. Katanya dia kenal dekat sama Ayah. Ibu tahu?’’ Tanya Rendy


“Diana? Diana yang penemu resep itu?’’ Tanya Bu Laras


“Iya Bu. Pas Rendy nginep di Bandung itu lho. Rendy ketemu sama Bu Diana. Karena memang tujuannya itu. Bos Rendy ngebet banget pengen ketemu sama Bu Diana. Terus kita akhirnya bercerita panjang lebar dan Bu Diana bertanya keluarga Rendy. Ee nggak tahunya dia kenal sama Ayah.’’ Jelas Rendy panjang lebar.


“Ya iya lah dia kenal dekat sama almarhum Ayah kamu Ren. Kan Diana itu temen sekolah ayah kamu dulu. Dulu Ayah sempet cerita ke Ibu kalau temennya ada yang bekerja di pabrik mie instant. Penemu resep lagi. Soalnya kata Ayah dia itu emang dari kecil udah pinter masak.’’ Jawab Bu Laras.


“Dunia itu emang sempit ya Bu.’’ Ucap Rendy.


“Iya Ren. Tapi inget ya omongan Ibu tadi kamu pikirin. Soal rejeki kita pasrahkan aja sama Tuhan Ren. Siapa tahu kamu dapat anak orang kaya yang bisa ngebantu kamu buat lunasih hutang bank. He he he.” Canda Bu Laras


“Ibu nih ada-ada aja.’’ Jawab Rendy yang entah mengapa ia langsung kepikiran dengan Jihan.


ARRRGHHH kenapa sih dia lagi dia lagi. Seharian muncul terus di pikiranku.


Gara-gara Ibu nih. Gumam Rendy kesal.


“Ren kalau udah selesai makannya jangan lupa obat nya diminum. Ibu mau ke pasar sebentar.’’ Teriak Bu Laras.

__ADS_1


“Siap Komandan.’’ Jawab Rendy.


 


Kayaknya enak nih abis makan minum obat terus istirahat. Besok harus udah mulai kerja lagi pokoknya. Gumam Rendy.


Dari tadi kepikiran sama Jihan terus apa aku telepon dia aja ya. Gimana sekarang keadaannya. Eh iya tapikan ponselnya hilang pas di culik. Ah bodo amat lah mending tidur bae lah. Gumam Rendy.


 


Di sisi lain masih di rumah sakit yang sama Mario diam-diam mendatangi Kimora, adiknya yang tengah terbaring lemas tak berdaya.


“Kak Mario. Kakak dari mana saja. Kimora kesepian nggak ada kakak.’’ Ucap lirih gadis kecil itu.


“Iya Kimora sayang. Kakak kan musti kerja buat bayar rumah sakit ini. Nah kebetulan bosnya kakak tu lagi di rawat juga disini.’’ Ucap Mario.


“Kak nanti kalau Kimora udah sembuh Kimora mau di beliin boneka yang lucu-lucu ya Kak.’’ Pinta Kimora.


“Iya. Apa sih yang enggak buat adik kakak yang paling cantik sedunia ini.’’ Ucap Mario sembari memeluk hangat Kimora.


Setelah beberapa saat Mario memeluk Kimora. Mario berpamitan.


“Kimora kakak harus kembali kerja dulu ya. Nanti pasti kakak nemuin kamu lagi disini. Pokoknya kamu harus nurus sama perawat ya.’’ Ucap Mario kepada Kimora sembari mengusap kening adiknya itu.


“Iya Kak. Kimora sayang kakak. Kakak jangan pernah ninggalin Kimora ya.’’ Ucap Kimora sedih.


Tanpa di sadari Claudya menghamipiri Mario dan adiknya.


“Mario?’’ Sapa Claudya


Mario langsung terkejut mengetahui Claudya saat ini di hadapannya.


“Ini adik kamu?’’ Tanya Claudya.


“Hai nama aku Claudya Handoko. Kalau nama kamu siapa?’’ Ucap Claudya dengan antusias.


“Nama aku Kimora Kakak cantik.’’ Jawab Kimora.


Claudya yang di panggil dengan sebutan kakak cantik pipinya langsung warna merah jambu.


“Kakak ini temennya Kak Mario ya?’’ Tanya Kimora.


“Iya. Kebetulan Bos kami lagi di rawat di rumah sakit ini juga. Terus tadi kakak lihat Kak Mario berjalan kearah sini langsung aja Kak Claudya ngikutin Kak Mario. He he he’’ Jawab Claudya


“Kak Claudya lucu. Masa ngikutin Kak Mario. Harusnya kan Kak Claudya bisa aja nyapa langsung Kak Mario.’’ Timpal Kimora.


“Oh iya ya. Kok pinteran kamu sih daripada kakak. He he he.’’ Ucap Claudya


Mario hanya terdiam melihat keakraban antara Claudya dan Kimora. Claudya ini akrab juga sama anak kecil. Gumam Mario. 

__ADS_1


__ADS_2