
“Ini.” Ucap Claudya menyodorkan ponsel Jihan yang tertinggal di ruangan kerja.
“Thanks.” Jawab Jihan.
“Hanya air mineral? Nggak mau pesan yang lain?” Tanya Claudya.
Jihan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Claudya mengamati Jihan yang sedang termenung. Jihan betapa beruntungnya kamu. Dua pria yang ku kagumi mereka sama-sama menaruh hati padamu. Maukah kau membagi satu denganku? Gumam Claudya.
“Hey. Anak perawan nggak boleh bengong sembarangan. Kerasukan baru tahu rasa kamu nanti.” Ucap Jihan membuyarkan lamunan Claudya.
“Ye yang ada situ kali yang bengong. Sini cuma merhatiin aja.” Ucap Claudya.
“Ji. Kamu pernah jatuh cinta? Atau suka sama pria?” Tanya Claudya tiba-tiba.
“Kenapa? Kamu sedang mengalaminya sekarang? Sama siapa Clau? Gimana orangnya?” Tanya Jihan balik.
“Huft. Aku tuh nanya Ji. Malah kamu nanya balik. Gimana sih?” Ucap Claudya kesal.
“Ya nggak ada hujan nggak ada petir tiba-tiba kamu nanya itu. Kirain kamu juga sedang jatuh cinta.” Ucap Jihan.
“Juga? Too? Berati kamu sedang jatuh cinta ya? Sama siapa Ji? Bisikin dong.” Ucap Claudya.
Jihan mengutuk dirinya sendiri pilihan katanya justru menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
“Siapa? Udah juju raja Ji. Sama siapa aja sih.” Ucap Claudya.
“Ehhmmm. Pokoknya kamu nggak kenal deh. Jauh. Orang,,,,Ehmmm orang Amerika. Teman kuliah.” Jawab Jihan berbohong. Ia terpaksa berbohong supaya Claudya tak terus menanyainya.
“Astaga. Benarkah? Bukan Pak Rendy? Mario? Bahkan Pak Reyhan?’’ Tanya Claudya.
Jihan kembali gelengkan kepala sebagai jawaban. Ia tak mau ambil pusing dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dari Claudya.
Syukurlah. Mereka bukanlah orang yang Jihan suka. Aman. Gumam Claudya sembari mengelus dadanya tanda lega.
“Sekarang kamu.” Ucap Jihan.
“Aku? Ngaco kamu Ji. Aku nggak ada waktu, tenaga, pikiran buat mikirin hal kaya gitu. Aku sedang fokus mengejar cita-citaku.” Ucap Claudya berbohong.
“Benar. Jika aku berhasil menduduki jabatan Direktur Utama hari itu juga akan ku pastikan kamu teken kontrak dengan PFG.” Ucap Jihan.
“Begini saja aku sudah sangat bersyukur Ji. Bisa kuliah bisa nemanin kesendirian kamu secara percuma-Cuma. Aku udah bersyukur banget.” Ucap Claudya.
“By the way kalian sudah resmi pacaran atau?” Imbuh Claudya.
“Ehhmm. Aku suka dia, dia suka sama aku. Just it.” Balas Jihan.
“Aku yakin Ji setiap pria yang bertemu dengan mu pasti akan menaruh hati padamu.” Ucap Claudya.
“Yuk ke ruangan.” Ajak Jihan.
__ADS_1
Di ruangan VVIP para pimpinan direksi tengah mempertimbangkan pilihannya masing-masing.
“Setidaknya kita butuh udara segar dan nuansa baru.” Bisik salah satu pimpinan direksi.
“Untuk apa nuansa baru kalau tidak bisa membuat perusahaan baru. Akan ku cabut semua sahamku jika Jihan sebagai pemenangnya.” Jawab pimpinan direksi yang lain.
“Setiap tahunnya kita hanya mendapatkan keuntungan yang tidak terlalu signifikan. Aku sudah muak sebenarnya hanya saja ku tahan selama ini.” Ucap pimpinan lainnya.
“Lebih baik sedikit tapi terus mengalir.” Ucap pimpinan lainnya.
“Baiklah waktu anda sekalian telah habis. Saatnya vote dari sekarang.” Ucap Hans.
Pemilihan suara pun berlangsung dengan sangat dramatis. Keputusan mereka kali ini menentukan PFG selama lima tahun mendatang.
Aku yakin kau akan kembali menjadi direktur utama. Gumam Tuan Hans. Yang ia maksud ialah Michael Purwadinata.
“Stop. Langsung saja kita lihat.” Ucap Hans.
Merekapun menatap layar besar di hadapan mereka dengan perasaan yang was-was.
Enter.
Michael Purwadinata 49%
Jihan Pratama 49%.
Mereka semua yang melihat hasil pemilihan suara pun tercengang. Bagaimana bisa hasil yang di dapat belum mendapatkan keputusan yang tepat.
Kemudian ia segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan rapat.
Semua orang terkejut. Michael dan Jihan mendapatkan suara yang seimbang.
“Sangat disayangkan. Hasil votenya tidak memenuhi harapan kita semua. Maka untuk itu rapat pimpinan direksi akan di lakukan satu bulan lagi.” Ucap Tuan Hans.
Akhirnya semua orang bergegas pergi meninggalkan ruangan rapat.
Isi pesan Tuan Hans kepada Michael.
Sial. Apa hebatnya Jihan. Rupanya mereka sudah membuat keputusan yang salah. Gumam Michael kesal.
“Ji are you okey?” Tanya Claudya setelah mengetahui hasil perolehan suaranya.
“Sudah ku duga Clau. Jalanku akan tidak mulus. Sudah ku duga semuanya di persulit.” Ucap Jihan sedih.
“Ji. Kau harus kuat. Aku yakin semuanya akan indah pada waktunya.” Ucap Claudya.
Jihan aku tahu kau wanita yang sangat hebat. Bertahanlah. Aku selalu ada di pihakmu apapun yang terjadi. Gumam Mario.
__ADS_1
Jihan kau tahu mengapa aku mengagumi mu karena kau adalah wanita yang sangat luar biasa. Akan ku pastikan aku akan selalu berada di sisimu. Gumam Rendy.
Isi pesan Rendy kepada Jihan
Ting. Notifikasi pesan dari ponsel Jihan.
Begitu melihat Rendy yang mengiriminya pesan ia tersenyum. Terlebih saat membuka isi pesannya.
Balas Jihan.
Balas Rendy.
Balas Rendy. Imbuh Rendy. Balas Jihan. Balas Rendy. Balas Jihan.Jihan pun merasa senang ini kali pertamanya ia menaiki motor. Sebab kedua orang tuanya dulu selalu melarangnya mengendarai motor. Dalam hati kecilnya ia juga ingin seperti anak-anak seusianya mengendarai sepeda motor dan nongkrong bareng. Tapi mustahil ia lakukan. “Pria Amerika?” Tebak Claudya.“Iya.” Jawab Jihan berbohong.“Kalian nanti pulang duluan ya. Aku masih ada perlu sama Rendy.” Ucap Jihan.“Kalau aku sih oke-oke aja. Tapi Mario kan di tugaskan untuk menjaga kamu dimanapun kamu berada Ji.” Ucap Claudya.“Benar juga sih. Gampang lah nanti aku bujuk si Mario.” Ucap Jihan bersemangat. Ia tak sabar lagi menaiki sepeda motor bersama Rendy.“Maaf Nona saya tidak bisa meninggalkan Anda begitu saja.” Ucap Mario tiba-tiba.“Astaga Mario. Bikin jantungan aja. Sejak kapan kamu disini.” Ucap Claudya terkejut.“Kali ini saja Mario. Rendy mengajakku untuk makan malam di luar. Lagi pula aku bersama Rendy.” Ucap Jihan memelas.“Terserah Nona. Saya hanya menjalankan tugas.” Ucap Mario tegas. Sebenarnya selain menjalankan tugas, Mario juga tak ingin Jihan berdeketan dengan Rendy. Sesama pria ia tahu bahwa Rendy diam-diam menaruh hati kepada Jihan.“Okey. Kau ikuti aku dari belakang. Aku akan naik motor sama Rendy.” Ucap Jihan.“Naik motor? Jihan kau serius?” Tanya Claudya.“Iya. Lagi pula ini yang ku tunggu-tunggu.” Ucap Jihan.Yang kau tunggu-tunggu. Naik motornya atau bisa berdekatan dengan Rendy. Gumam Mario merasa kesal.
Balas Rendy.
Imbuh Rendy.
Balas Jihan.
Balas Rendy.
Balas Jihan.
Jihan pun merasa senang ini kali pertamanya ia menaiki motor. Sebab kedua orang tuanya dulu selalu melarangnya mengendarai motor. Dalam hati kecilnya ia juga ingin seperti anak-anak seusianya mengendarai sepeda motor dan nongkrong bareng. Tapi mustahil ia lakukan.
“Pria Amerika?” Tebak Claudya.
“Iya.” Jawab Jihan berbohong.
“Kalian nanti pulang duluan ya. Aku masih ada perlu sama Rendy.” Ucap Jihan.
“Kalau aku sih oke-oke aja. Tapi Mario kan di tugaskan untuk menjaga kamu dimanapun kamu berada Ji.” Ucap Claudya.
“Benar juga sih. Gampang lah nanti aku bujuk si Mario.” Ucap Jihan bersemangat. Ia tak sabar lagi menaiki sepeda motor bersama Rendy.
“Maaf Nona saya tidak bisa meninggalkan Anda begitu saja.” Ucap Mario tiba-tiba.
“Astaga Mario. Bikin jantungan aja. Sejak kapan kamu disini.” Ucap Claudya terkejut.
“Kali ini saja Mario. Rendy mengajakku untuk makan malam di luar. Lagi pula aku bersama Rendy.” Ucap Jihan memelas.
“Terserah Nona. Saya hanya menjalankan tugas.” Ucap Mario tegas. Sebenarnya selain menjalankan tugas, Mario juga tak ingin Jihan berdeketan dengan Rendy. Sesama pria ia tahu bahwa Rendy diam-diam menaruh hati kepada Jihan.
“Okey. Kau ikuti aku dari belakang. Aku akan naik motor sama Rendy.” Ucap Jihan.
“Naik motor? Jihan kau serius?” Tanya Claudya.
“Iya. Lagi pula ini yang ku tunggu-tunggu.” Ucap Jihan.
Yang kau tunggu-tunggu. Naik motornya atau bisa berdekatan dengan Rendy. Gumam Mario merasa kesal.
__ADS_1