
“Jadi?” Tanya Rendy.
“Jadi dong.” Ucap Jihan.
“Mario?” Ucap Rendy.
“Dia akan mengawasi kita dari jauh.” Ucap Jihan.
“Sudah kuduga. Ini helmnya.” Ucap Rendy.
“Helm baru. Kau sengaja memberikan ini untukku?” Tanya Jihan.
“Tidak. Itu untukku ibuku. Aku sengaja membelikannya untuknya. Sudah pakai saja nanti keburu malam.” Ucap Rendy.
“Caranya gimana ini?” Ucap Jihan kebingungan mengunci pengaman helm.
Kemudian Rendy memakaikan pengunci helm. Dari jauh Mario melihat adegan itu membuatnya sedikit sesak di dada.
Seharusnya aku yang memakaikan helm itu Jihan bukan Rendy. Gumam Mario.
Mario juga mengenderai sepeda motor demi menjaga Jihan dari kejauhan.
Setelah selesai menggunci pengaman helm Rendy dan Jihan pun segera bergegas menuju ke tempat yang Jihan sendiripun tak tahu kemana Rendy membawanya.
Suasana malam kota Jakarta yang indah dan pastinya pemandangan kendaraan yang sedang terkena macet adalah pemanjangan yang sangat lumrah untuk kota besar itu. Dengan sabarnya Rendy mengenderai sepeda motor hingga akhirnya mereka tiba di suatu kafe.
“Waw kafe. Baru kali ini kakiku menginjakkan di kafe.” Ucap Jihan.
“Serius? Kau tak pernah kesini bersama teman-temanmu?” Tanya Rendy penasaran.
“Tidak. Mereka sangat over protektif. Namun aku masih tetap menyayangi mereka.” Ucap Jihan.
Merekapun segera masuk ke dalam kafe. Di susul oleh Mario. Perjanjian sebelumnya antara Mario dan Jihan, Mario di perbolehkan mengikuti Jihan dari belakang asalkan jaraknya tidak terlalu berdekatan. Kali ini Jihan ingin merasakan hidup bebas seperti teman-temannya dulu waktu sekolah. Jika dulu ia tak bisa mewujudkannya kali ini ia tak ingin kehilangan kesempatan itu lagi.
Jihan juga ingin merasakan bagaimana bersosialisasi dan mendatangi tempat-tempat pada umumnya yang sering orang-orang datang untuk menghabiskan malamnya.
“Pesan menu.” Ucap Rendy.
“Seblak? Apa ini?” Tanya Jihan penasaran. Selama enam tahun hidup di luar negeri ia belum pernah mencicipi makanan yang sangat viral akhir-akhir ini.
“Khasnya makanan ini cita rasanya pedas, gurih, ada aroma kencurnya yang menjadi daya tariknya tersendiri. Berbeda dengan bakso, mie ayam atau laksa.” Ucap Rendy menjelaskan.
“Topingnya bebas milih?” Tanya Jihan lagi.
“Yups. Yang paling spesial ada kerupuknya yang kalau kamu makan pasti ketagihan. Sebagai pewaris tunggal perusahaan makanan instant kau harus wajib coba makanan satu ini. Bisa nanti menjadi tambahan ide produk.’’ Ucap Rendy.
__ADS_1
“Makanan ini berasal dari mana?” Tanya Jihan.
“Jawa barat. Aku sendiri juga belum tahu. Mungkin bogor, bandung atau lainnya. Intinya dari daerah yang setiap harinya selalu di guyur hujan. Makanya mereka menciptakan makanan ini sebagai makanan penghangat. Lebih jelasnya lagi cek ada di google.” Ucap Rendy.
“Oh I see. Oke setelah mencicipi ini nanti di rumah aku akan research. Bingung nih kamu aja yang mesenin. Tapi jangan terlalu pedes ya.” Ucap Jihan.
“Seblak itu ada beberapa levelnya. Menu ori nggak pedas sama sekali, level satu level dua biasanya itu mereka menggunakan sendok atau yang lainnya sebagai penentu levelnya.” Ucap Rendy.
“Emm oke level satu. Topingnya aku terserah saja.” Ucap Jihan.
“Oke. Aku pesenin topingnya mie, macaroni, jamur, ceker, cilok, siomay, sayurannya aku pilihkan sawi dan juga wortel.” Ucap Rendy
“Wah baru dengerin topingnya aja udah ngiler duluan. Minumnya?” Tanya Jihan.
“Karena ini makanan pedas sebaiknya aku pesenin milk shake. Karena kamu suka jus orange aku pesenin milk shake orange.” Ucap Rendy.
“Terimakasih banyak.” Ucap Jihan sembari tersenyum. Ia tak mengira rupanya Rendy bisa ramah juga sama wanita.
Sedangkan Mario dari kejauhan hanya bisa mengamati Jihan dan Rendy yang sedang asyik mengobrol.
Sebenarnya ia juga merasa risih hanya dia seorang yang duduk sendirian. Sedangkan yang lainnya memiliki partner. Karena tempat ini biasanya di datengi oleh sekelompok teman sekolah, teman kerja atau juga kerabat.
“Baru sepuluh menit sabar aja. Kamu nggak lihat seramai apa pengunjung disini. Bersabarlah sedikit.” Ucap Rendy.
“Ehmm baunya enak banget udah nggak sabar.” Ucap Jihan.
Rendy hanya bisa tertawa melihat Jihan yang seperti anak kecil tak sabar menunggu makanannya datang.
Setelah penantian 20 menit akhirnya pesanan Jihan dan Mario sudah datang.
“Menu yang sama ya Kak. Hanya beda level saja.” Ucap pelayan kafe.
“Terimakasih.” Ucap Jihan.
Jihan mencoba milk shake orange nya.
“Jangan minum dulu. Makan dulu nanti kalau kepedesan minumnya udah habis duluan.” Ucap Rendy.
“Ah ya bener.” Ucap Jihan.
Jihan pun mencicipi seblaknya.
__ADS_1
“Wah gila sih ini. Ku kira opor paha ayam nggak ada tandingannya.” Ucap Jihan.
“Kita sama.” Ucap Rendy.
“Maksudnya?” Tanya Jihan penasaran.
“Aku juga sangat suka opor paha ayam. Itu adalah makanan kesukaanku. Ibu ku kalau membuat opor ayam selalu paha yang ia masak.” Ucap Rendy.
Seketika Jihan terkejut atas pengakuan Rendy yang sama sepertinya sangat suka opor paha ayam. Bagian paha ayam memang memiliki penggemarnya sendiri.
“Aku setuju. Kebanyakan orang-orang menyukai bagian paha apalagi aku. Tapi kalau di masakan opor mungkin mereka akan lebih suka bagian dada ayam. Hanya sedikit yang menyukai paha.” Ucap Jihan.
“This is selera.” Ucap Rendy.
“Dan selera kita sama.” Imbuh Jihan.
“Lain kali kau harus mencoba masakan opor paha ayam ibuku.” Ucap Rendy.
“Lain kali kau juga harus mencoba masakan opor paha ayam ibuku.” Ucap Jihan menirukan Rendy.
“Ibu?” Tanya Rendy penasaran. Setahunya Ibunya Jihan berada di luar negeri menemani ayahnya yang sedang sakit akibat kecelakaan dan sampai saat ini belum juga sadarkan diri.
“He he kamu pasti bingung. Maksud aku Bu Darmi. Dia asisten di rumahku sejak aku kecil. Karena sudah terbiasa makanya aku memanggilnya dengan sebutan Ibu.” Ucap Jihan menjelaskan.
“Oh aku kira ibumu yang di luar negeri.” Ucap Rendy.
“Sudah. Beri aku waktu untuk menikmati seblak ini. Diamlah sesaat.” Protes Jihan.
Ehhmmm seenak ini ternyata makanan sekarang. Dulu aku hanya bisa berandai-andai bisa mendatangi ke tempat seperti ini. Sekarang aku bisa mewujukannya. Gumam Jihan.
Kau memang gadis yang unik Jihan. Kau berasal dari keluarga berada. Tetapi perilaku sangat sederhana sekali. Kau tak merasa risih mengendarai sepeda motor bahkan kau sangat menyukainya. Di luaran sana banyak gadis yang bahkan dengan teganya menghina pasangannya hanya karena menggunakan motor saat jalan-jalan. Tapi sebaliknya denganmu. Gumam Rendy mengagumi Jihan.
Ting. Notifikasi dari ponsel Mario yang ternyata dari Michael.
Isi pesan dari Michael.
Jawab singkat Mario.
Di sisi lain Michael tengah merenung di kamarnya. Ia tak menduga kejadian masa lalunya akhir-akhir ini menghantui pikirannya. Bayangan istri pertamanya yang sangat ia cintai hingga saat ini selalu ada di dalam pikirannya. Meski ia telah menikahi wanita lain, namun rasa cinta hanya ia berikan untuk istri pertamanya.
“Melinda. Apa kau merindukan aku di sana? Aku tak pantas kau rindukan. Aku telah menelantarkan dan meninggalkan dua buah cinta kita. Apa aku ini masih pantas di sebut dengan manusia. Aku sangat menyesal Melinda. Maafkan aku. Jika mereka masih hidup bantu aku untuk segera bertemu dengan mereka. Jika mereka sudah tiada aku siap untuk meninggalkan dunia ini selama-lamanya sebagai hukuman untukku.” Monolog Michael.
__ADS_1