
“Kau belum tidur Jihan sayang?” Tanya Bu Darmi memasuki kamar Jihan.
“Apa ini yang di namakan lika-liku kehidupan? Aku memang berkecukupan harta, namun aku tak bisa seperti anak lainnya setiap hari setelah melakukan aktivitas mereka bisa bersenda gurau bersama kedua orang tuanya. Sedangkan aku, berjarak antar benua. Sampai saat ini kondisi Papah belum menunjukkan peningkatan. Kadang Jihan merasa sangat lelah dengan semua ini Bu. Belum lagi urusan kantor. Aku merasa di dewasakan oleh waktu Bu. Dewasa sebelum waktunya.” Ucap Jihan dengan linangan air mata.
“Sebagai makhluk hidup, selama kita masih bisa bernafas, jantung berdetak yang namanya ujian dan cobaan pasti akan selalu datang menghampiri. Apa yang bisa kita lakukan? Yang bisa kita lakukan hanyalah menghadapi semua ujian dan cobaan itu jangan justru menghindarinya. Hanya akan menambah berat cobaan di hadapan kita. Percayalah selalu ada pelangi setelah hujan badai sekalipun, ada kebahagiaan setelah tangisan, semua sudah ada porsinya masing-masing Jihan.” Ucap Bu Darmi.
“Aku hampir lupa Bu, jika dalam cobaanku Tuhan menghadirkan Bu Darmi, Mario dan juga Claudya sebagai keluarga baru.” Ucap Jihan.
“Memangnya Ibu baru jadi keluarga baru kamu.” Ucap Bu Darmi.
“Hehehe Ibu segalanya bagi Jihan setelah Mamah dan Papah.” Ucap Jihan sembari memeluk hangat Bu Darmi.
“Kau tahu Jihan. Kita itu sudah di gariskan oleh Tuhan tentang kebahagiaan.” Ucap Bu Darmi.
“Maksudnya?” Tanya Jihan tak mengerti.
“Kita ambil contoh kehidupan seseorang itu sudah di gariskan Tuhan masing-masing sepuluh gelas kebahagiaan dalam hidupnya. Jika saat usia anak-anak kamu sudah menghabiskan dua gelas, maka yang tersisa delapan gelas. Saat kamu menginjak usia dewasa kamu menghabiskan enam gelas, maka hanya tinggal dua gelas yang tersisa. Bisa saja kebahagiaan itu berupa kesehatan, keluarga yang harmonis, pasangan yang setia, saudara-saudara yang ramah tamah, tempat tinggal yang nyaman. Intinya apapun itu hal pertama yang harus kita lakukan dalam menghadapi setiap cobaan kita harus menghadapinya jangan justru menghindar, kemudian kita harus ikhlas menerimanya itu yang paling terpenting. Nggak baik kalau kita mengeluh.” Ucap Bu Darmi panjang lebar menjelaskan.
“Wow penjelasan Ibu seperti penjelasan seorang profesor saja. Aku sampai tercengang mendengarnya.” Ucap Jihan.
“Lagi pada ngomongin apaan sih serius amat.” Ucap Claudya tiba-tiba datang menghampiri Jihan dan Bu Darmi.
“Lagi ngomongi siapa sebenarnya kekasih hati dari seorang Claudya Handoko yang cantik jelita bak permaisuri di dalam gelap gulita.” Ucap Jihan menggoda Claudya.
__ADS_1
“Tuh kan gitu. Giliran aku datang nggak mau terus terang ngomongin apaan. Serasa aku ini hanyalah anak tiri yang selalu meratapi keadaannya yang sangat menyedihkan.” Ucap Claudya merengek.
“Kamu Clau terlalu mendamalisir. Ibu sedang menyemangati Jihan yang sedang down menghadapi cobaan hidup.” Ucap Bu Darmi menjelaskan kepada Claudya.
“Ya ampun Jihan. Baru aja kena cobaan seperti itu lihat dong aku. Kamu masih mending banget masih punya kedua orang tua, rumah bagus, perusahaan besar, wajah cantik. Sedangkan aku, aku yatim piatu. Aku hanya tinggal di panti asuhan. Aku belum pernah merasakan belaian kasih sayang dari kedua orang tua kandung. Kuliah saja dari belas kasihan keluargamu. Wajah nggak cantik kaya kamu. Banyak-banyakin bersyukur aja deh.” Ucap Claudya.
“Tumben kamu ngomong bener Clau.” Goda Jihan sembari tertawa.
“Ye baru tahu ya kalau aku ini otaknya pintar.” Ucap Claudya.
“Sudah-sudah. Anak gadis nggak boleh tidur malam-malam nanti kena mata panda jadi nggak cantik lho. Besok kalian harus berangkat ke kantor. Mau request sarapan apa besok?” Tanya Bu Darmi.
“Emmm roti panggang bosen. Gimana kalau nasi uduk Bu, kayaknya mantep deh.” Ucap Claudya.
“Siap 86 ladies girl.” Ucap Bu Darmi sembari mengelus lembut rambut Jihan dan Claudya bergantian.
Bagi Bu Darmi sendiri, Jihan juga sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Meski tak lahir dari rahimnya namun ikatan batin di antara keduanya sangatlah kuat.
***
__ADS_1
“Coffee?” Tanya Rendy. Ia menawarkan satu cup kopi untuk Jihan.
“Thanks. Rendy bisa nemenin aku lagi nggak makan seblak di tempat kemarin. Rasanya bener-bener nagih banget, meskipun abis itu aku harus diet kalori. He he he.” Ucap Jihan.
“Jangan terlalu sering itu juga nggak bagus buat kesehatan. Ya minimal dua atau tiga minggu sekali lah.” Ucap Rendy.
“Apa kita coba menawarkan produk Seblak Instant aja ya. Siapa tahu laku keras.” Ucap Jihan.
“Sebelum kamu mengusulkan ide itu aku juga udah kepikiran dari awal-awal seblak viral. Cuman belum di acc aja sama Pak Michael. Katanya Ia ingin fokus saja sama mie instant dan bumbu instant.” Ucap Rendy.
“Justru itu Ren, kita harus membuat wajah baru untuk perusahaan kita. Seperti negara Korea dengan tteokbokkinya atau ramennya kita juga bisa viral ke luar negri dengan seblaknya. Nanti kita bisa pasang iklan di film-film, promosiin di sosial media. Nanti bisa saja kan masyarakat luar negeri tertarik dengan seblak.” Ucap Jihan.
“Itu juga sudah masuk ke dalam list ide-ide ku Nona Jihan Pratama.” Ucap Rendy sembari mencubit kecil pipi Jihan.
“Aow sakit tahu.” Ucap kesal Jihan sembari mengelus-elus pipinya.
“Lagian kamu tuh seakan-akan sedang membual di hadapan seorang pawang. Ya jelas lebih ngerti aku lah.”Ucap Rendy.
“Tapi yang jadi heranku kenapa Pak Michael kenapa nggak mau meng acc semua ide-ide mu. Padahal ini bisa menjadi sebuah terobosan baru.” Ucap Jihan.
“Makanya aku mau menantang kamu. Kalau kamu bisa membuat satu produk baru di perusahaan ini, aku berjanji aku akan mengabulkan semua permintaan kamu.” Ucap Rendy.
“Are you serious? Kau tahu itu hal yang sangat gampang bagi seorang Jihan Pratama pewaris tunggal Pratama Foods Group. Kau meragukan ku Rendy Sudibjo?” Ucap Jihan.
__ADS_1
“Jangan sombong dulu. Buktikan lebih dulu baru kau bisa menyombongkannya di depanku.”Ucap Rendy lalu pergi meninggalkan Jihan begitu saja di ruangannya.
Kamu sudah berani menabuh perang dengangku Rendy? Oke. Akan ku pastikan kau akan mengakui semuanya. Gumam Rendy.