
Jihan memutus panggilannya sebelum mengucapkan penutupan panggilan.
Rendy? Apa kamu senang sekarang bisa berduaan sama Rendy tanpa aku ganggu Jihan? Haruskah aku kembali menjagamu agar aku bisa menghabiskan seluruh waktu ku hanya untuk menjagamu Jihan?
Tidakkah kau bisa merasakan perasaanku kepadamu Jihan? Harus dengan cara apa lagi aku menunjukkannya.
Gumam Mario dalam hati.
Di sisi lain Claudya tengah berada di dalam ruangan istirahat bagi karyawan.
Tanpa ada yang mengetahui keadaan hatinya Claudya hanya bisa memendam perasaannya selama ini.
Ia menaruh hati kepada Mario sejak pertama kali Mario hadir di kehidupannya.
Namun ia tahu Mario sangat tertarik dengan Jihan. Orang yang sangat berjasa dalam hidupnya.
Mana mungkin ia bersaing dengan orang yang sudah membantunya hidup.
__ADS_1
"Clau. Kamu disini rupanya. Aku cari kemana-mana juga." Ucap Jihan.
"Bukannya tadi kamu ada urusan sama Pak Rendy." Ucap Claudya.
"Iya sih tapi Rendy sekarang lagi ada rapat sama tim produksi terus aku kepikiran deh sama kamu. Kirain kamu ke kantin." Ucap Jihan.
"Aku lagi nggak enak badan kok. Kecapekan kali. Sebentar lagi aku udah mulai bikin skripsi." Ucap Claudya.
"Clau. Kamu kalau ada sesuatu jangan di pendam sendiri ya. Ingat kita ini udah menjadi saudara tanpa ikatab darah. Aku bersyukur banget kamu hadir di kehidupanku. Emang iya sih awalnya aku sempet nggak suka ke kamu. Tapi makin ke sini aku justru bersyukur bisa punya kamu." Ucap Jihan sembari menepuk bahu Claudya.
"Uluh uluh Claudya Handoko yang cantiknya kelewatan ini kok malah nangis sih. Sini peluk-peluk." Hibur Jihan.
"Thanks ya Ji. Karena kamu udah bikin seorang Claudya yang anak yatim piatu di tinggal kedua orang tuanya meninggal dunia bisa punya saudara." Ucap Claudya dengan tangisnya yang sesegukan.
"Janji ya mulai hari ini saat ini detik ini kalau ada sesuatu kamu nggak boleh memendamnya sendiri. Because ada aku." Ucap Jihan.
"Janji." Ucap Claudya dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Jadi ada apa?" Tanya Jihan.
Claudya yang terkejut dengan pertanyaan Jihan yang seolah-olah Jihan tahu kalau dirinya menyimpan sesuatu.
"Ehm nggak papa kok Ji. Aku sedang gugup aja mikir skripsi ku terus nanti kalau pas sidang terus nanti kalau wisuda terus nanti kalau nyari kerja aakkuu.." Ucap Claudya terhenti.
"Stttttt. Berpikir boleh tapi tetep santai. Aku dulu waktu kuliah di Amerika juga sama kaya kamu. Kuliah juga sambi kerja. Karena didikan kedua orang tuaku militer banget. Dan kamu tahu hasil konsistenku. Aku mendapatkan nilai yang bagus di tempat kuliahku. Nggak cuma itu aja Clau, di tempat kerja aku juga meraih sebagai karyawan magang terbaik. Padahal ada 10 orang yang bekerja sebagai karyawan magang seperti aku. Mereka juga kuliah. Jadi intinya aku bisa kamu juga harus bisa." Ucap Jihan.
"Wah hebat banget kamu Ji. Aku bangga sama kamu. Thanks ya udah ngasih pencerahan." Ucap Claudya.
"Tapi aku kecewa sama kamu Clau. Kamu belum bisa jujur sama aku." Ucap Jihan.
"Hah maksudnya?" Tanya Claudya.
"Yang saat ini mengganjal hatimu itu bukan masalah kuliah mu Clau. Aku tahu. Ada hal lain. Benarkan?" Ucap Jihan.
Claudya tercengang ia tak menyangka Jihan mampu mengetahui yang sebenarnya. Haruskah ia berkata jujur?
__ADS_1