
"Entahlah mungkin karena ia anak dari Pak Michael mungkin." Jawab Jihan.
"Jihan. Ini saatnya kau bergerak. Kau adalah putri dari pemilik perusahaan ini. Apa karena belum mendapatkan kemenangan kau tidak bisa mengendalikan perusahaan besarmu ini dengan kedua tanganmu? Cobalah berani berjuang." Ucap Rendy.
"Maksudnya?" Tanya Jihan tak mengerti.
"Kamu harus bisa memperjuangkan perusahaan Papamu ini Jihan. Seminggu lagi pemilihan Direktur Utama. Hanya ada dua kemungkinan. Pak Michael sebagai pemenangnya. Atau kau yang akan menggantikan posisinya." Ucap Rendy.
"Kau benar Rendy. Harusnya aku nggak boleh lengah sama sekali. Thanks sudah mengingatkanku. Aku harus kembali kepada awal rencana. Apalagi sekarang Mario sudah berpihak pada Ayahnya. Kini musuhku bertambah satu." Ucap Jihan.
"Bagus. Lupakan dulu masalah pribadimu. Yang terpenting sekarang adalah tujuan utamamu kembali kesini untuk menyingkirkan orang-orang jahat seperti Pak Michael. Nanti malam aku akan mengirimkan beberapa bukti yang bisa membuatmu menang. Hanya ini yang bisa ku lakukan untukmu." Ucap Rendy.
"Benarkah? Sampai sejauh ini kau membantuku Rendy? Aku sangat berterimakasih padamu." Ucap Jihan.
"Simpan dulu kata terimakasihmu itu. Perjuanganmu masih terlalu panjang. Kau bisa meminta bantuanku kapan pun kau mau aku selalu bersedia." Ucap Rendy.
"Tapi tunggu. Ini bener-bener kamu ikhlas kan nolongin aku. Bukan sebagai sogokan?" Tanya Jihan sembari mengernyitkan keningnya.
"Bisa jadi." Ucap Rendy sembari menampilkan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Benarkah?" Tanya Jihan.
"Hahaha tidak. Aku hanya bercanda. Mengapa kau jadi sangat polos begini." Ucap Rendy.
"Kau membuatku takut." Ucap Jihan.
"Benarkah? Di bagian mana yang membuatmu takut? Apa aku belum menyukur kumisku? Apa wajahku terlihat menyeramkan?" Tanya Rendy.
"Hahaha lupakan." Ucap Jihan.
"Hey tidak bisa begitu. Aku bertanya wajib hukumnya kau untuk menjawabnya." Ucap Rendy.
"No no no. Bye. Aku harus kembali bekerja. Ingat janji-janji mu ya. Jangan sampai kau ingkar janji. Awas saja. Akan ku patahkan lidahmu jika kau sampai mengingkarinya." Ucap Jihan.
"Iya aku mengerti pergilah." Ucap Jihan.
"Kau sangat cantik hari ini Jihan. Entahlah apa karena pandanganku kabur hehehe." Ucap Rendy.
"Rendy!!! Awas kau ya." Teriak Jihan sembari mengejar Rendy yang sudah bersiap-siap berlari saat selesai menggoda Jihan.
__ADS_1
Rupanya di ujung sana Mario melihat kedekatan antara Jihan dan Rendy. Perasaan cemburu menghampirinya. Ia tak terima jika Jihan berdeketan dengan Rendy.
"Claudya. Bisa kita bicara sebentar." Ucap Mario kepada Claudya.
"Ada apa?" Tanya Claudya.
"Sebaiknya kita bicara di luar saja." Ucap Mario.
"Ok. Aku ngabarin Jihan dulu ya." Ucap Claudya.
"Eh nggak usah. Biarin aja Jihan. Ini masalah kita berdua." Ucap Mario.
"Kita? Berdua?" Tanya Claudya penasaran.
"Ayo cepat. Kita bicara di kantin saja oke." Ucap Mario.
Sesampainya di kantin Mario dan Claudya memesan secangkir kopi hitam.
"Ada apa? Terkesan kau sangat buru-buru ingin berbicara padaku." Ucap Claudya.
__ADS_1
"Ini mengenai Jihan. Claudya aku tahu kau menaruh hati padaku. Tapi maaf aku sangat mencintai Jihan. Dan Jihan merasa tak nyaman denganmu. Kau bisa mengatasi itu bukan? Aku berterimakasih kau sudah mencintaiku tapi maaf aku tak bisa membalas rasa itu. Tolong mengerti dengan keadaanku." Ucap Mario.
"Seburuk apa aku Mario. Hingga kau tak bisa menerima perasaanku kepadamu?" Tanya Claudya