Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Siapa Tahu Jodoh


__ADS_3

Dikira gampang apa luluhin hati Pak Michael.


Berbulan-bulan ngajuin produk baru selalu saja di tolak, padahal aku ini senior di sini. Gumam Rendy.


“Ren bisa keruangan saya.” Ucap Beni.


“Ckckck. Tumben amat bahasanya formal gini. Abis keselek beton apa.” Ucap Rendy.


“Yah sekali-kali lah. Beneran nin kita bicara di ruangan ku aja.” Ucap Beni.


“Iya-iya. Bawel amat sih kayak nenek-nenek kehilangan gigi palsunya aja.” Ucap Rendy.


Rendy dan Benipun menuju ke ruangan Beni.


“Ada apa sih Ben? Kayaknya serius amat.” Tanya Rendy.


“Waduh sebenarnya bingung juga Ren. Kayaknya divisi marketing overload deh. Ketambaham Bu Jihan sama Claudya. Memang si secara teknis mereka nggak terdaftar di divisi Marketing. Tapi kan tetep aja status karyawannya mereka masuk ke divisi marketing. Gimana ya ngomong ke Pak Michael. Untuk Bu Jihan oke lah, tapi kalau untuk Claudya?” Ucap Beni kebingungan sebagai Manager Hrd.


“Iya juga ya. Ah itu kan urusan Anda. Ngopi yuk bentar.” Ucap Rendy.


“Gimana sih Ren. Kamu ku ajak kesini buat aku mintain solusi. Malah ngajak ngopi. Aneh.” Ucap Kesal Beni


“Tau ah. Aku sendiri juga lagi pusing kamu lagi nambah-nambahin. Pikir sendiri aja yah. Bye.” Ucap Rendy lalu meninggalkan ruangan Beni.


 


***


“Gimana kerja hari ini Ren? Lancar.” Tanya Bu Laras.


“Biasa aja sih Buk. Ibu kok tumben nanyain kerjaan Rendy. Ada apa?” Tanya Rendy penasaran.


“Ya nggak apa-apa. Emangnya salah kalau Ibu nanya tentang pekerjaan dari anak Ibu satu-satunya ini.” Ucap Bu Laras.


“Ya tumben aja Bu, nggak biasanya Ibu nanyain tentang pekerjaan Rendy.” Ucap Rendy.


“Ehmmm apa kamu belum ada calon Ren?” Tanya Bu Laras.


“Kalau masalah itu coba tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.” Ucap Rendy asal.


“Rendy. Ibu tuh nggak bercanda. Seusia kamu udah harusnya menikah. Ini diem-diem aja.” Ucap kesal Bu Laras.


“Hehehe. Masih ada 250 juta lagi yang harus kita bayar Bu. Apa ada wanita sekarang yang mau Rendy pinang sedangkan Rendy sendiri punya kewajibab bayar hutang sebesar itu.” Ucap Rendy.


“Apa kita jual rumah aja ya Ren buat lunasin hutang.” Ucap Bu Laras


“Hanya ini yang kita punya Bu. Biarlah daripada kita ngontrak atau nyewa rumah. Berdoa saja kita di berikan kesehatan dan kekuatan untuk melunasi hutang.” Ucap Rendy.


“Iya Ren. Ibu nggak nyangka kamu sedewasa ini. Ayahmu pasti bangga denganmu Ren.” Ucap Bu Laras.


“Sudahlah Bu. Nggak usah bahas-bahas ini lagi ya kasihan Ayah kalau kita terus-terusan membahas masalah hutang.” Ucap Rendy.

__ADS_1


“Iya Ren.” Balas Bu Laras.


Sementara di sisi lain, Jihan bersama Mario pergi ke suatu acara pernikahan teman Jihan.


“Mario ingat ya nanti kamu jangan terlalu deket sama saya.” Ucap Jihan.


“Baik Nona.” Jawab Mario datar.


“Duh kamu ini harus berapa kali sih bilanginnya. Jangam panggil aku Nona-Nona terus. Ngerti? Kan aku risih.” Ucap kesal Jihan.


“Baik.” Ucap Mario singkat.


Mobil pun melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Jihan, dibalik kaca jendela mobilnya tengah menikmati indahnya suasana malam hari. “ Mario apa kau pernah jatuh cinta?” Tanya Jihan tiba-tiba.


“Ya. Saat ini saya sedang jatuh cinta.” Balas Mario.


“Benarkah siapa wanita yang berhasil mengusik ruang hatimu itu?” Tanya Jihan penasaran.


“Kau tidak perlu tahu.” Ucap Mario datar.


“Wah aku nggak nyangka laki-laki seperti mu bisa jatuh cinta juga ternyata.” Ucap Jihan.


“Kau sendiri?” Tanya Mario.


“Entahlah.” Jawan singkat Jihan.


Tak berselang lama mereka sampai ke hotel tempat acara pernikahan Sandra teman Jiham sewaktu SMA di gelar.


“Reyhan?” Tanya Jihan terkejut. Rupanya yang memanggil Jihan adalah Reyhan.


“Kau sedang apa disini?”  Tanya Reyhan.


“Aku menghadiri undangan pernikahan. Bagaimana dengan Tuan CEO yang ganteng ini?” Ucap Jihan asal namun rupanya membuat Reyhan tersipu malu.


"Wow rupanya dunia ini sangat sempit sekali ya. Kau temannya Sandra atau Fino?" Tanya Reyhan.


"Aku temannya Sandra sewaktu SMA dulu." Balas Jihan.


"Sandra adalah adik sepupuku. Dia anak dari tanteku. Kebetulan sekali ya apa mungkin ini suatu pertanda..." Ucap Reyhan terpotong.


"Pertanda apa?" Tanya Jihan penasaran


 “Ah sudahlah. Ayo masuk. Dia siapa? Kekasihmu?.” Tanya Reyhan


“Dia pengawalku. Pamanku yang menugaskannya untuk menjagaku.” Ucap Jihan.


“Apa kamu sedang dalam masalah sehingga kamu memerlukan pengawal untuk menjagamu?” Tanya Reyhan penasaran.


“Ceritanya panjang Reyhan. Mau ikut denganku?” Tanya Jihan.


“Of course.” Balas Reyhan.

__ADS_1


Jihan, mengapa dengan mudahnya kau membuka hatimu untuk orang lain kau terlalu polos atau kau sama sekali tak menyadari bahwa dengan kecantikanmu para pria dengan mudahnya jatuh hati padamu. Gumam Mario. Mario pun mengawasi Jihan dari kejauhan. Sesuai permintaan dari Jihan sendiri.


“Eh lihat ada cowok ganteng sendirian aja tuh kita samperin yuk.” Bisik Bianca pada Sita.


“Wah parah kamu Bianca. Nggak bisa lihat cowok ganteng dikit aja pasti langsung kegatelan.” Ucap Sita.


“Mumpung ada kesempatan. Yuk.” Ucap Bianca.


“Yaudah yuk siapa tahu jodoh. Hehehe.” Jawab Sita.


 


“Hey? Aku Bianca dan ini temanku Sita. Boleh kenalan?” Tanya Bianca.


Mario yang tengah duduk di meja sendirian hanya menatap sekilah Bianca dan Sita setelah itu ia kembali meneguk jus orange di hadapannya.


Melihat Mario tak merespon ucapannya, Bianca merasa lebih tertantang.


“Ehmmm. Apa kamu tidak bisa mendengarku?” Tanya Bianca.


“Apa harus aku menjawabnya.?” Tanya Mario.


“Wow. Suaramu indah sekali. Bagaimana dengan namamu. Aku penasaran apa juga seindah seperti suaramu.” Ucap Sita.    


"Mario." Jawab singkat Mario.


"Sudah ku duga. Namamu seindah suaramu. Boleh kita bergabung denganmu. Ku lihat-lihat kau dari tadi hanya sendirian disini." Ucap Bianca.


Bianca lebih agresif bertanya dibanding dengan Sita. Sita hanya menjadi pendengar setia saja.


"Kau teman dari Sandra atau Fino?" Tanya Bianca.


"Tidak keduanya. Aku hanya menemani seseorang kesini. Aku bahkan tidak punya undangannya. Namum petugas keamanan memperbolehkan aku masuk." Jawab Mario datar.


Sebenarnya ia sangat merasa risih dengam kehadiran Bianca dan juga Sita. Dilihat dari cara pakaian dan juga nada bicara serta sikap beraninya menghampiri lelaki menandakan mereka bukanlah wanita baik-baik. Seketika Mario membandingkan kedua wanita ini dengan Jihan dan Claudya.


Sungguh sangat berbeda sekali. Jihan dan Claudya tak akan pernah lebih dahulu menghampiri lelaki dan menyapanya duluan. Bagi seorang wanita itu akan menjadi nilai plus sendiri.


"Apa itu kekasihmu?" Tanya Bianca.


"Bukan." Jawab datar Mario.


"Lalu siapa seseorang itu?" Tanya Bianca penasaran.


Baginya baru kali ini ia bertemu dengan pria sedingin Mario. Biasanya laki-laki akan langsung sangat welcome ketika ia menyapanya.


Sungguh sangat berbeda dengan yang lainnya. Gumam Bianca.


                       


 

__ADS_1


__ADS_2