
"Kimora. Kakak pergi dulu ya. Kakak harus segere kembali bekerja. Kamu baik-baik ya disini. Nurut sama perkataan suster biar nanti kamu bisa cepet pulang.’’ Ucap Mario memotong pembicaraan antara Claudya dan Kimora.
“Eh iya Kimora. Nanti lain kali Kak Claudya main lagi ya sama. Bye.’’ Ucap Claudya
“Bye Kakak Claudya , Kak Mario.’’ Ucap Kimora tersenyum
Mario dan Claudya akhirnya menuju ke ruangan Jihan di rawat.
Mereka saling terdiam sepanjang perjalanan menuju ruangan Jihan. Mario dingin banget sih. Nggak nyapa aku sama sekali. Gumam Claudya.
“Hay Jihan. Aku khawatir banget sama kamu. Mulai sekarang kemanapun kamu pergi aku kudu, harus, wajib ikut kamu.’’ Ucap Claudya begitu sampai di ruangan Jihan.
“Terus kalau aku mau terjun ke laut kamu juga mau ikut?” Tanya Jihan dengan bercandanya.
“Ye. Kalau itu sih nggak lah ya. Aku gini-gini masih waras. Enak aja.’’ Sahut Claudya.
“Wah kok di rumah sakit ada bau opor ayam. Kayaknya enak nih.’’ Ucap Claudya melihat Jihan sedang melahap opor paha ayam kesukaannya.
“He he he itu Bu Darmi sudah siapin buat kalian bertiga. Ibu siapin sekarang ya.’’ Ucap Bu Darmi.
“Wah makasih Bu. Bu Darmi emang top markotop deh.’’ Sahur Claudya.
Terlihat Jihan, Claudya dan Mario menikmati masakan Bu Darmi. Di sisi lain Mario bisa merasakan sosok seorang ibu dari Bu Darmi. Seketika ia rindu dengan almarhumam ibunya.
“Enak Mario?’’ Tanya Bu Darmi.
“Oh iya Bu sangat enak.’’ Ucap Mario.
“Bu Darmi ini emang paling jago kalau bikin opor ayam. Dia juga tahu kalau aku paling suka paha ayam.’’ Puji Jihan.
Suasana hangat tercipta di ruangan rumah sakit. Karena kamar inap Jihan VVIP jadi cukup luas untuk mereka berempat.
Setelah selesai makan Bu Darmi berpamitan harus segera pulang untuk melanjutkan pekerjaan rumahnya. Meski kali ini ia sudah di bantu satu orang assisten rumah tangga namun Bu Darmi belum sepenuhnya percaya.
Sedangkan Claudya juga harus berpamitan sebentar untuk menggantikan posisi Jihan di perusahaan untuk sementara waktu. Informasi yang Claudya dapat akan langsung ia laporkan kepada Jihan.
Tinggallah Jihan dijaga oleh Mario. Hingga hari sudah menunjukkan malamnya Jihan dan Mario masih saja berdiam diri tanpa bersua.
Suasana yang tadinya hangat oleh kehadiran Claudya dan Bu Darmi kini berubah menjadi dingin sedingin kutub utara.
Jihan yang merasa kehausan ia ingin mengambil air minum di sampingnya. Saat hendak mengambil gelas tiba-tiba gelas itu terpeleset dari tangan Jihan dan jatuh. Mario yang mengetahui itu langsung menghampiri Jihan.
“Lain kali kalau butuh sesuatu bilang saja Nona.’’ Ucap Mario sembari membereskan tumpahan gelas.
__ADS_1
Lalu ia mengambil air minum lagi untuk Jihan. “Ini minumnya.’’ Ucap Mario.
“Terimakasih.’’ Ucap Jihan datar. Ia langsung menerima minuman dari Mario dan segera meminumnya.
Harusnya yang menjagaku itu Claudya atau kalau nggak Bu Darmi. Kenapa malah jadi Mario gini sih. Kan aku jadi canggung. Gumam Jihan.
“Emmm aku mau ke toilet sebentar.’’ Ucap Jihan tiba-tiba.
Mario yang duduk di sofa langsung segera bangun dari duduknya. “Mau saya antar Nona?’’ Tanya Mario canggung.
“Enggak. Aku bisa kok. Lagian aku juga udah baikan. Sepertinya infus ini juga udah nggak perlu-perlu amat.’’ Ucap Jihan
Lalu dengan perlahan Jihan menuju ke toilet. Entah mengapa saat bangun dari kasur nya Jihan merasakan sedikit pusing namun ia tetap melanjutkan ke toilet dengan sekuat tenaga nya.
Mario sedikit khawatir melihat gerak-gerik Jihan. Dan benar saja Jihan terpeleset namun beruntungnya dengan sigap Mario menopang tubuh Jihan. Hingga akhirnya tanpa di sengaja Mario memeluk tubuh Jihan dan mereka saling memandang satu sama lain.
Mario yang sedari awal sudah tertarik dengan Jihan merasakan getaran hebat dalam tubuhnya. Semakin ia lama memandangi wajah cantik Jihan semakin erat pelukannya. Jihan yang diam-diam juga terhanyut oleh ketampanan Mario semakin terbawa arus oleh pesona Mario. Karena semakin erat pelukan yang Mario berikan kepada Jihan, Jihan merasakan sakit pada genggaman tangan Mario.
“Aoww.’’ Pekik Jihan.
“Aku nggak jadi jatuh tapi sama saja aku merasakan sakit dari cengkramanmu itu.’’ Ucap Jihan dengan kesal. Ia beralibi untuk mencairkan suasana canggung antara dirinya dan Mario.
“Maaf Nona.’’ Ucap Mario datar. Ia lalu mundur beberapa langkah untuk berjaga jarak dengan Jihan.
“Aoww.’’ Pekik Jihan.
“Kenapa Nona?” Tanya Mario penasaran. “Sekarang kaki ku kesemutan. Mana aku udah kebelet lagi.’’ Ucap Jihan.
Mendengar penuturan Jihan tanpa pikir panjang Mario lalu membopong Jihan ala bridal seketika Jihan terkejut.
“Hei mau ngapain kamu. Turunin saya secepatnya. Awas ya kalau kamu mau macam-macam.’’ Ancam Jihan.
Tanpa jawaban Mario langsung membawa Jihan ke toilet. Begitu sampai di dalam toilet Mario menurunkan Jihan. Dan ia segera keluar dari toilet.
Melihat itu Jihan malu sendiri. Harusnya ia berterimakasih bukannya malah marah-marah terhadap Mario.
Setelah selesai dari panggilan alamnya, Jihan masih belum juga keluar dari toilet. Ada perasaan malu dari dirinya terhadap Mario.
Duh kenapa jadi gini sih. Kan aku jadi malu mau keluar. Gumam Jihan yang masih berdiam diri di toilet.
Mario yang sudah menanti keluarnya Jihan mulai sedikit menaruh curiga mengapa Jihan belum juga keluar setelah setengah jam Jihan berada di dalam toilet.
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
“Nona apa Anda baik-baik saja?’’ Tanya Mario yang sudah mulai khawatir
Mendengar itu Jihan sedikit kaget dan bingung untuk menjawabnya.
“Oh iya aku baik-baik saja. Cuma kakiku tiba-tiba kesemutan lagi.’’ Ucap Jihan berbohong. Jihan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia mengutuk dirinya sendiri karena perkataannya.
Tanpa aba-aba Mario langsung membuka pintu toiletnya. Melihat Jihan yang berdiri didepan cermin toilet Mario langsung menggendong Jihan untuk kedua kalinya. Jihan terkejut untuk kedua kalinya. Dengan tangan satunya yang memegangi selang infus, sedangkan tangan satunya memegang bahu Mario. Sentuhan hangat dari tubuh Mario memberikan kehangatan tersendiri untuk Jihan.
Padahal kan aku nggak apa-apa kenapa malah di gendong lagi sih. Gumam Jihan.
Mario lalu menidurkan Jihan ke kasur dengan perlahan.
“Terimakasih….lagi.’’ Ucap Jihan
“Sama-sama.’’ Ucap Mario datar. Meski tanpa ekspresi sebenarnya Mario merasakan getaran yang sangat hebat dalam dirinya. Hanya saja ia pandai menutupi perasaannya. Mario kembali duduk di sofa. Ia menyenderkan kepalanya di dinding dingin rumah sakit itu. Sejenak ia memejamkan mata. Ia mencoba mencerna perasaan yang saat ini ia rasakan.
“Mario?’’ Ucap Jihan. Seketika Mario membuka matanya mendengar Jihan memanggil namanya.
“Ya Nona.’’ Balas Mario. “Bisa kamu tanyakan kapan aku bisa pulang. Aku udah nggak betah lama-lama disini.’’ Ucap Jihan.
“Baik Nona. Saya permisi dulu.’’ Ucap Mario.
“Emmm tunggu.’’ Ucap Jihan tiba-tiba. Langkah kaki Mario tiba-tiba terhenti. “Aku ingin sekali minum orange jus. Bisa sekalian kamu carikan untukku.’’ Sambung Jihan. “Pasti.’’ Ucap Mario dengan menyunggingkan senyuman manisnya. Melihat itu Jihan seketika terpana dengan senyum manis Mario. Ia baru menyadari bahwa pengawalnya itu ternyata sangat manis.
Tak butuh waktu lama untuk Mario pergi ke bagian administrasi dan ke kantin untuk membelikan Jihan orange jus. Minuman kesukaannya.
“Nona berdasarkan info dari petugas keputusannya ada pada dokter yang menangani Nona Jihan. Besok pagi dokter akan berkunjung. Jika kondisi Nona sudah lebih baik kemungkinan besok juga Nona boleh pulang.’’ Ucap Mario setibanya ia di ruangan Jihan.
“Ini pesanan Nona.’’ Imbuh Mario sembari memberikan minuman pesenan Jihan.
“Boleh aku minta tolong lagi padamu?’’ Ucap Jihan
“Tentu.’’ Jawab Mario. “Panggil aku Jihan saja. Hilangkan kata Nona itu. Aku sama sekali nggak suka.’’ Ucap Jihan
Mendengar itu Mario sedikit terkejut. “Baik Nona. Ah maksud saya Jihan.’’ Ucap Mario canggung.
Jihan melemparkan senyuman manisnya melihat sikap Mario. Mariopun terkesima dengan senyuman indah Jihan.
__ADS_1