
"Terus gimana caranya kamu tahu kalau si A 51 si B 49?" Tanya Rendy yang mulai penasaran.
"Entahlah Pak. Saya jadi bingung. Saya permisi dulu. Lagian cinta saya ke Bapak bertepuk sebelah tangan." Ucap Sandra dengan nada ketus.
Arrggghhhh. Jihan awas kau ya!! Maki Rendy dalam hati.
Di sisi lain Jihan masih terkejut dengan pernyataan dari Mario.
"Kamu sedang tidak bercanda kan Mario?" Tanya Jihan.
"Tidak ada istilah bercanda dalam hal penting Jihan. Kau tahu seberapa besar rasa benci ku terhadap Michael. Tapi aku mengesampingkan rasa benciku untuk menemuimu di kantor. Dan ya tadi aku bertemu dengannya. Sesuatu yang sudah ku duga." Ucap Mario.
"Mario aku sungguh-sungguh nggak percaya dengan semua ini. Terus terang ada hati lain yang menyimpan perasaannya dalam-dalam untukmu. Aku takut akan melukainya." Ucap Jihan.
"Maksudmu?" Tanya Mario penasaran.
"Ada gadis lain yang menyukaimu." Ucap Jihan.
"Siapa?" Tanya Mario yang semakin kebingungan.
"Maaf tapi aku nggak bisa memberitahunya." Ucap Jihan.
"Memberitahu soal apa? Yang menyukaiku? Atau jawaban darimu." Tanya Mario.
__ADS_1
"Mario please lah. Aku saat ini sedang banyak pikiran. Jangan menekanku seperti itu." Kesal Jihan.
"Apa kau tak mendengarnya?" Tanya Rendy tiba-tiba.
Mario seketika marah melihat Rendy menguntit dirinya dan Jihan.
"Aku nggak ada urusannya sama kamu." Ucap Mario dengan nada dingin.
"Aku tahu. Tapi barusan aku mendengar jika saat ini Jihan merasa tertekan oleh mu. Apa kamu tidak bisa mengerti dengan kata-kata?" Ucap Rendy.
"Selama ini aku sudah menahannya Rendy. Apa kau tak bisa sebentar saja membiarkan aku bersama Jihan?" Tanya Mario.
Rendy yang semula hanya berdiri kini ikut duduk bergabung bersama Mario dan juga Jihan.
"Aku menahanmu? Aku sama sekali tidak merasa menahanmu. Hanya saja aku yang lebih aktif darimu." Ucap Rendy.
"Sudah ku katakan jangan menekannya!!." Teriak Rendy membuat semua orang yang berada di restoran terkejut dan melihat ke arah mereka.
"Aku sama sekali tidak menekannya!!." Balas Mario dengan nada yang sama tingginya.
"Kalau begitu kau bisa pergi sekarang juga. Aku tak ingin Jihanku merasa tak nyaman." Ucap Rendy.
"Ha apa? Jihanku? Omong kosong apa itu? Jihan saja belum memberikan jawaban. Kenapa kau selalu mencuri star yang tak semestinya kau lakukan." Ucap Mario.
__ADS_1
Sementara Jihan hanya bisa memegangi kepalanya tanda ia sedang merasa pusing. Memusingkan tingkah laku dua pria di hadapannya yang tengah memperebutkannya.
"Jihan cepat jawab!." Ucap Mario.
"Jangan sekali-kali membentaknya kau tahu!." Balas Rendy kesal.
"Aku hanya meminta sebuah jawaban." Ucap Mario.
"Jangan menekannya. Mario. Aku memintamu dengan sangat hormat." Ucap Rendy.
"Diam!!!!!." Teriak Jihan.
Dengan nafas yang tersengal-sengal. Mencoba menstabilkan emosinya.
"Kalian berdua pergilah. Pergi!! Pergi dari hadapanku sekarang juga." Ucap Jihan.
"Jihan. Aku minta maaf." Ucap Mario.
"Rendy memang benar. Apa kau tak mendengarkan kata-kata ku Mario? Harus berapa kali aku mengatakannya? Jangan menekanku Mario." Ucap Jihan.
"Kau tuli? Kau tak bisa mendengar?" Ucap Rendy.
Dengan muka kesal dan kecewa Mario pun bergegas meninggalkan Jihan dan Rendy di restoran.
__ADS_1
"Ji kita ke kan...." Ucap Rendy terpotong.
"Kau juga Rendy. Jangan menekanku." Ucap Jihan.