
Semenjak kejadian di Kafe antara Jihan, Rendy dan Jihan mereka ketiganya sama-sama menahan diri.
Mario tak lagi menghubungi Jihan seperti biasanya. Begitu juga Rendy meski dalam satu ruangan ia tak pernah menyapa Jihan.
Entah mengapa ini bisa terjadi. Jihan berpikir keras kesalahan apa yang telah ia lakukan. Sehingga Mario dan Rendy mengacuhkannya.
"Jihan bisa kita bicara sebentar." Ucap Pak Michael tiba-tiba memasuki ruangan divisi Marketing.
"Urgent?" Tanya Jihan
Michael hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Ke ruangan saya sekarang." Ucap Pak Michael
Jihan merasa ada sesuatu yang sangat penting terjadi entah itu apa Jihan tak bisa menebaknya.
"Jihan. Aku tahu kamu berhubungan dengan Mario aku tahu kalian menjalin hubungan lebih dari sekedar majikan dan bawahan. Kamu bisa membantu saya Jihan." Ucap Pak Michael ketika mereka sudah sampai di ruangan Pak Michael.
Oh jadi ini masalah urgentnya. Gumam Jihan dalam hati.
"Pak saya tahu apa masalah sebenarnya antara Anda dan Mario. Tapikan sebaiknya Anda berbicara empat mata dengan Mario. Tanpa adanya perantara apalagi saya yang baru mengenal Mario beberapa saat." Jelas Jihan yanb merasa muak dengan perbuatan Pak Michael.
Kenapa bisa sih Papa dulu merekrut Pak Michael. Penipu kelas kakap emang. Udah nipu semua orang. Sekarang masih bebas menghirup udara segar. Sedangkan Papah orang yang sangat baik hingga kini belum sadar juga dari komany. Kenapa nggak Pak Michael aja sih yang koma. Gumam Jihan dalam hati.
"Udah lah Jihan. Semua orang punya masa lalu masing-masing. Kayak kamu nggak punya masa lalu aja. Bantuin saya ya buat membujuk Mario. Sampai saat ini saya tidak dia tinggal dimana. Dia selalu menolak panggilanku dan tidak pernah membalas isi pesanku." Ucap Pak Michael.
"Im so sorry." Ucap Jihan dan segera keluar dari ruangan Pak Michael.
"Jihan!!!" Teriak Pak Michael menggema di ruangannya.
"Abis dari mana Ji. Tadi pas aku mau foto kopi kamu masih di ruangan. Begitu balik kamu udah nggak ada." Ucap Claudya
__ADS_1
"Abis dari ruangannya Pak Michael." Jawab Jihan
"What happened?" Tanya Claudya penasaran.
"Pak Michael meminta aku buat membujuk Mario. Dia yang sudah merusak hubungannya antara dia dan anaknya Tapi kenapa orang lain harus ikutan repot buat membantu hubungan yang sudah retak itu aneh kan Clau?" tanya Jihan.
"Iya itu dia sih ciri-ciri orang yang munafik lempar batu sembunyi tangan. Dia yang udah menelantarkan anak-anaknya. Tapu sekarang dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk membujuk anak-anaknya agar mau menerima kehadirannya. Kurasa sikap apa yang dilakukan oleh Mario saat ini adalah sikap yang paling benar. Biar tahu rasa. Kena karma itu." Ucap Caudya menggebu-gebu.
"Kok malah kamu yang kebakaran jenggot sih Clau." Ucap Jihan.
"Ya abisnya kesel bin males bin sebel bin nggak suka sama dia. Udah berumur tapi kok nggak dewasa pemikirannya." Ucap Claudya.
"Udah di ilangin marah-marahnya. Nanti cantiknya ilang lho. Yuk ke kantin. 15 menit cukup buat ngopi." Ajak Jihan.
"Eh by the way kok Pak Rendy hari ini sama sekali nggak nyapa kamu sih. Ada masalah?" Tanya Claudya penasaran.
"Enggak sih kalau menurutku. Udah nggak usah bahas soal itu. Yuk cabut." Ucap Jihan.
"Jihan tunggu." Ucap Rendy tiba-tiba menghentikan langkah kaki Jihan dan Claudya yang tadinya akan ke kantin.
"Oke." Ucap Jihan
Claudya pun segera meninggalkan Jihan dan Rendy berdua di ruangan cetak. Terdapat mesin foto kopi, mesin printer dan sebagainya.
Rendy semakin melangkahkan kakinya mendekati Jihan yang berdiri tidak jauh dari mesin foto kopi.
"Ji aku mau minta maaf sebelumnya. Aku mau bicara sesuatu sama kamu. Tapi aku mohon dengan sangat maaf kalau kamu sedikit atau bahkan banyak tersinggung dengan perkataan yang akan aku ucapkan nanti. Sekali lagi aku mohon pengertian dari kamu." Ucap Rendy panjang lebar di samping menahan rasa gugupnya.
"Yaelah panjang amat kayak kereta aja sih. Mau ngomong apa an si?" Tanya Jihan yang mulai penasaran apa yang akan Rendy katakan.
"Ehm iya maaf Ji. Grogi tahu. Di tambah gugup. Di tambah khawatir. Di tambah..." Ucap Rendy terpotong karena berpikir
__ADS_1
"Di tambah tauge, wortel sama kubis. Jadilah bakwan." Ejek Jihan yang mulai kesal dengan sikap Rendy.
Rendy semakin cemas untuk mengatakan bahwa ia ingin menjadikan Jihan sebagai pasangan kekasih hatinya . Bukan karena paksaan dari ibunya yang memaksa dan meminta Rendy agar segera menikah dan memberikan cucu kepada nya. Tetapi itu adalah perasaan yang selama ini Rendy pendam.
"Aku sebenarnya." Ucap Rendy terjeda
"Iya apa Rendy Sudibjo. Kamu sebenarnya apa. Jangan di putus-putus gitu dong." Ucap Jihan yang mulai kesal kepada Rendy.
"Aku sebenarnya mau ngomong sesuatu kalau aku ehmmm.." Lagi-lagi Rendy gagu dalam berucap
"Iya Ren. Ada apa.!" Nada Jihan mulai meninggi
"Aku sebenarnya. Eh maaf ya nanti Lain waktu aja ya aku ngomongnya bye aku lupa kalau ada rapat urgent sama pimpinan Divisi." Ucap Rendy sembari berlari kecil meninggalkan Jihan.
Ya Tuhan itu orang sebenarnya Kenapa sih udah ngomongnya panjang lebar kayak kereta nggak jelas bikin orang jadi marah aja. Gumam Jihan dalam hati.
Di sisi lain Rendy mengutuk atas perbuatanny sendiri yang tidak berani mengungkapkan rasa cintanya kepada Jihan. Ia menyesal tidak bisa menyatakan perasaannya kepada Jihan.
Entah mengapa lidah dan bibirnya tidak mampu mengucapkan bahwa dia sangat dan sangat mencintai Jihan dan ingin menjadikan Jihan adalah pilihan terbaik sebagai pasangan kekasihnya.
Jihan Lihatlah di depanmu saja Aku tidak berani mengungkapkan perasaanku kepadamu. Gimana ini Jihan gimana kalau aku keduluan sama Mario sama Rehan. Aku tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi Tuhan bantu aku ya Tuhan. Gumam Rendy dalam hati.
"Eh Ji. Gimana Pak Rendy ngomongin apaan jadinya?" Tanya Claudya penasaran.
"Nggak tahu orang ngomomgnya aja nggak bener. Keseleo kali lidahnya. Yuk ah cabut. Ini kopi ku kan." Ucap Jihan sembari menyedot es kopi nya.
"Huft. Udah penasaran banget aku padahal. Yuk ke ruangan." Ajak Claudya.
Sementara di Iain benua. Abdi Pratama mengalami kemajuan. Jari tangannga mulai bergerak.
"Astaga Papah. Jari papah bergerak. Apa ini artinya Papah udah baikan." Ucap Roshinta bahagia. Air mata bahagia menghiasi wajahnya.
__ADS_1
Selama 10 bulan terakhir dan selama itu pula ia tak hentinya mendoakan kesembuhan untuk suami tercintanya. Dan hari ini Tuhan mengabulkan doanya.
Bukalah matamu sayang. Gumam Roshinta dalam hati.