Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Menunggu Jawaban...


__ADS_3

"Nggak usah di tambah-tambahin deh Bu." Ucap Rendy dengan nada kesal.


"Sini piringnya biar Ibu yang ambilin nasi." Ucap Bu Laras.


Baru pertama kali bertemu dengan Jihan, Laras pun merasa Rendy sangat cocok dengan Jihan. Tak bisa di pungkiri wajah Jihan dan Rendy memang terlihat mirip jika benar-benar dilihat dengan seksama.


Sepertinya jodoh. Hehe. Gumam Laras dalam hati.


"Wah. Opor paha ayam buatan Ibu enak banget. Meski buatan Bu Darmi juga enak. Tapi ini punya rasa khas yang berbeda." Ucap Jihan memuji masakan Bu Laras.


"Benarkah? Sebelumnya Ibu takut lho Nak Jihan. Kalau tidak sesuai dengan lidahnya Nak Jihan." Ucap Bu Laras.


Tok


Tok


Tok


"Biar Rendy aja yang buka. Kalian silahkan di lanjut lagi tentang opornya." Ucap Rendy.


Ceklek.


"Hai Kak Rendy. Ini Galuh bawain oleh-oleh buat Ibu. Kalau Kak Rendy mau juga nggak papa." Ucap Galuh.


"Galuh masuk ya Kak." Ucap Galuh. Meski Rendy tak menjawab namun Galuh tetap masuk melewati Rendy.


"Hay Bu...." Ucap Galuh terpotong melihat ada wanita lain yang tengah duduk di sebelah Bu Laras.


"Siapa Bu?" Tanya Galuh kepada Bu Laras sembari melirik ke arah Jihan.


"Oh ini Jihan. Atasannya Rendy." Ucap Bu Laras.


"Hai. Aku Jihan." Ucap Jihan.


"Galuh." Ucap datar Galuh memperkenalkan diri.


Jihan pun tetap tersenyum meski Galuh tak terlalu senang dengan kehadiran Jihan. Jelas terlihat di wajah masam Galuh. Rendy pun tahu situasi yang tengah terjadi saat ini.


"Katanya Galuh bawa oleh-oleh buat Ibu." Ucap Rendy memecah suasana canggung di ruang meja makannya.


"Oh ya Bu. Kebetulan Galuh abis dari kampung halamannya Gio. Terus Galuh inget kalau Ibu suka banget sama Tiwul Manis khas Gunungkidul." Ucap Galuh sembari memberikan oleh-oleh yang ia bawa.

__ADS_1


"Wah kamu habis dari Gunungkidul ya. Sempet nyicipin Walang (belalang) Goreng ndak?" Tanya Bu Laras yang tiba-tiba logatnya menjadi logat orang jawa.


"Nggih sampun Bu." Ucap Galuh ragu-ragu.


"Hehe. Pinter juga kamu Gal belajar bahasa jawanya. Makan bareng sekalian aja yuk." Ucap Bu Laras.


"Ehm enggak Bu. Takutnya Gio nunggu lama. Nggak enak." Ucap Galuh.


"Oh iya. Pengantin baru. Lupa. Ya sudah ati-ati ya. Bilangin ke Gio makasih banyak oleh-olehnya." Ucap Bu Laras.


"Galuh pamit dulu ya Bu, Kak, Mba Jihan." Ucap Galuh.


Jihan yang di panggil dengan sebutan 'Mbak' sedikit terkejut. Ia merasa aneh dirinya di panggil dengan sebutan khas orang jawa tersebut.


"Yuk Ibu antar. Nak Jihan di lanjutkan lagi ya makannya. Kalau keburu dingin nggak enak." Ucap Bu Laras.


"Iya Bu." Jawab Jihan.


Rendy pun menemani makan Jihan. Kini hanya ada mereka berdua di meja makan. Rendy tahu maksud Ibunya mengantar kepergian Galuh.


Dengan sekuat tenaga Rendy mengumpulkan keberanian.


"Iya?" Balas Jihan.


Namun Rendy kembali terdiam. Lidah dan bibirnya terasa kaku untuk meneruskan pembicaraan.


"Jihan?" Ucap Rendy lagi.


"Ehm. Apa?" Tanya Jihan.


Lagi-lagi Rendy kembali terdiam. Meski ia sudah memiliki banyak keberanian namun entah mengapa lidah dan bibirnya terasa berat untuk berucap.


"Jihan?" Ucap Rendy ketiga kalinya.


"Iya. Ada apa?!" Teriak Jihan saking kesalnya dengan sikap Rendy.


"Mari berkencan?" Pinta Rendy yang membuat Jihan seketika terperanjat kaget.


"Ha? Aa-pa? Ber-berkencan?" Tanya Jihan seakan tak percaya dengan apa yang barusan Rendy bicarakan.


Rendy pun menunduk. Dan hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Ia merasa lega sudah menyatakan niatnya yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Namun setelah perasaan lega kini justru perasaan malu dan takut mendapat penolakan menjadi satu. Keringat jagung membasahi wajah tampan Rendy.

__ADS_1


Di tambah pantulan sinar cahaya lampu semakin menampakkan wajah gugup Rendy yang sedang menunggu jawaban dari Jihan.


"Antar aku pulang sekarang." Ucap Jihan.


"Ke-kenapa? Maaf kalau aku sudah terlalu lancang sama kamu. Maaf kalau itu membuat kamu tersinggung Jihan. Tapi bener aku tidak berniat sama sekali untuk menyakiti hatimu." Ucap Rendy panik. Ia takut jika perkataannya tadi menyinggung perasaan Jihan.


"Kalau kamu nggak mau antar aku pulang aku bisa naik taksi online." Ucap Jihan. Jihan pun merogoh ponsel di tasnya lalu memesan taksi online.


"Udah. 10 menit lagi datang." Ucap Jihan sembari memperlihatkan layar ponsel ke arah Rendy.


Sebenarnya Jihan tidaklah marah atau tersinggung dengan perkataan Rendy. Hanya saja ia terlalu terkejut mendengar permintaan Rendy.


"Aku mencintai kamu Jihan. Selama ini aku menyimpan dan memendam perasaanku ini dari kamu. Tapi atas saran dari Ibuku sebagai laki-laki yang bertanggung jawab harus segera menyatakan perasaannya sebelum keduluan sama laki-laki lain." Ucap Rendy.


"Saat ini cinta pertamaku sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja Rendy. Mana mungkin aku dengan entengnya menerima cinta dari laki-laki lain." Ucap Jihan menjelaskan.


"Aku yakin Pak Abdi akan segera sembuh Jihan." Ucap Rendy.


"Memangnya kau Dokter? Dokter saja yang ahli medis pun tidak bisa berkata seperti itu." Ucap Jihan.


"Aku yakin jika pikiran kita positif maka itu juga yang akan terjadi." Ucap Rendy.


"Jangan mengalihkan pembicaraan." Ucap Jihan yang mulai jual mahal kepada Rendy.


"Kau tak mau menjawabnya dulu karena mau memikirkan jawaban terlebih dahulu atau suatu hal lainnya." Tanya Rendy.


"Entahlah." Jawab cuek Jihan.


"Aku masih sabar menunggu mu Jihan. Namun entah sampai kapan sabar ku ini menghadapi dirimu." Ucap Rendy.


Di sisi lain Bu Laras Sengaja menguping pembicaraan antara Rendy dan Jihan. Dalam hati kecilnya ia berharap Jihan mau menerima perasaan dari Rendy. Namun segala sesuatunya Bu Laras tidak mau ikut campur urusan hati antara Rendy dan Jihan. Sebab hati tidak bisa untuk dipaksakan harus mengalir apa adanya.


"Entahlah Rendy. Aku sendiri juga belum bisa mengatakan sebuah jawaban untuk kamu. akusangat mengucapkan terima kasih ke kamu karena sudah memberikan cintamu untukku." Ucap Jihan


"Baiklah. Aku terima semua keputusan nantinya apapun jawaban yang keluar dari kamu aku akan legowo menerimanya." Ucap Rendy.


"Ibu mana?" Tanya Jihan.


"Ibu disini Nak Jihan.Sebelumnya ibu dan Rendy minta maaf ya nak Jihan kalau sudah membuat nak Jihan merasa terganggu malam ini. Maaf kalau ibu terlalu ikut campur Ibu hanya tidak mau Rendy selalu menutup pintu hatiny untuk perempuan. Rendy belum pernah pacaran Nak Jihan. Bahkan untuk menyukai teman wanita saja ia tidak mampu. Makanya Ibu menyarankan dia menyatakan perasaannya kepada Nak Jihan setidaknya Nak Jihan mengetahui perasaan Rendy yang sesungguhnya.


Satu hal yang ibu mohon kepada kalian Jika Nak Jihan menolak cinta dari Rendy mohon jangan benci Rendy ya Nak Jihan. Kalian masih bisa berteman bukan?" Ucap Bu Laras.

__ADS_1


__ADS_2