Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Rinai Hujan


__ADS_3

***


Hari ini akhirnya Jihan di perbolehkan pulang, setelah melakukan pemeriksaan oleh dokter yang menanganinya. Sementara Paman Joe yang berada di Amerika tepatnya di kota New York memutuskan untuk pulang ke Indonesia mengingat keselamatan keponakan tercintanya sudah terancam.


“Hai Paman. Paman jadi pulang sekarang?’’ Ucap Jihan lewat sambungan telepon.


“Iya Ji. Tadinya Mamah kamu yang mau pulang tapi Paman berhasil membujuknya. Kemungkinan besok Paman baru sampai.’’ Ucap Paman Joe.


“Apa Paman akan mengungkap sekarang?’’ Tanya Jihan mulai kearah pembicaraan yang serius.


“Ya enggak lah Jihan. Paman mau sedikit bermain-main sebentar dengan si tua bangka itu.’’ Ucap Paman Joe.


“Apa Bibi Mira juga ikut dengan Paman?’’ Tanya Jihan.


“Biarlah Bibimu itu menemani Mamahmu di rumah sakit. Kasihan kalau Mamahmu sendirian menjaga Papahmu.’’ Ucap Paman Joe.


“Lalu bagaimana dengan bisnis Paman di New York?’’ Tanya Jihan.


“Sudahlah yang terpenting saat ini adalah keselamatan kamu. Bisnis Paman sudah Paman serahkan ke tangan yang tepat.’’ Imbuh Paman Joe.


“Baik Paman. Take care.’’ Ucap Jihan.


 


“Jihan. Ayo kita pulang sekarang.’’ Ajak Mario. Mario kini sudah tidak terlihat kaku seperti kemarin.


“Tapi aku mau langsung ke kantor. Ke rumahnya setelah dari kantor aja ya.’’ Pinta Jihan.


“Oke.’’ Ucap Mario datar.


“Taksi atau?’’ Tanya Jihan


“Saya yang menyetir. Tadi Saya meminta orang kantor untuk mengantarkan mobil. Lagi pula driver rumah saat ini sedang cuti istrinya sedang melahirkan.’’ Ucap Mario.


“Oh oke.’’ Ucap Jihan tanda mengerti


Mario dan Jihan pun segera meninggalkan rumah sakit dan menuju  ke kantor.


Mereka hanya terdiam di dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Manik Mario lurus kedepan fokus untuk mengemudi. Sedangkan Jihan bingung untuk memulai pembicaraan.


Hingga akhirnya mereka tiba di kantor.


“Sudah sampai. Saya akan menunggu di kantin. Nanti kalau ada apa-apa silahkan hubungi saya.’’ Ucap Mario.


“Oke.’’ Ucap Jihan.


Kemudian Jihan menuju ruangan lobi untuk menunggu antrian lift. Tanpa di sadari Jihan, Rendy berada tepat di sampingnya.


“Sudah baikan?’’ Tanya Rendy membuka topik pembicaraan.


“Oh ya. Kamu sendiri sudah berangkat kerja?’’ Tanya Jihan.


“Seperti yang kamu lihat.’’ Ucap Rendy. Ting. Pintu lift terbuka. Rendy mempersilahkan Jihan untuk masuk terlebih dahulu. Lady first.


Di dalam lift hanya ada mereka berdua. “Lantai berapa?’’ Tanya Rendy. “Mau lantai berapa memang. Kan aku kerjanya di divisi yang sama dengan kamu.’’ Jawab Jihan. Rendy hanya mengangguk pelan tanda mengerti.


“Nanti sore mau ikut denganku? Aku ada meeting dengan CEO sebuah Mall. Rencananya kita mau mengadakan sebuah event. Baru semalam aku di beri tahu sama staff ku. Dan aku langsung menyetujuinya. Begitu juga dengan Pak Michael.’’ Ucap Rendy.


“Emm sebenarnya aku baru aja dari rumah sakit dan belum pulang. Aku kesini hanya mau menemui Claudya untuk meminta laporan yang aku minta. Tapi menurutku itu ajakan yang sangat disayangkan untuk aku tolak.’’ Balas Jihan.

__ADS_1


Seketika Rendy memerhatikan pakaian Jihan dari atas ke bawah. “Tapi tidak mungkin kamu berpakaian seperti ini?’’ Ucap Rendy.


Jihan lalu melihat pakaian yang melekat pada tubuhnya. Ia  rasa tak pantas jika bertemu dengan klien dalam keadaan seperti ini.


“Nanti aku ke salon dulu sekalian beli baju. Oh ya bagaiman dengan klien kita yang dari Korea itu?’’ Tanya Jihan.


“Karena insiden penculikan dari pewaris tunggal akhirnya mereka membatalkan kerja sama dengan kita. Makanya anak buahku memberikan sebuah ide untuk kita mengadakan event di salah satu Mall. Ini juga sebagai bentuk pengendalian isu publik yang beredar. Dan nantinya kamu juga harus berpartisipasi dalam event itu. Are you ready?’’ Ucap Rendy.


“Oh ya. Ide yang sangat cemerlang itu. Yes, im ready.’’ Ucap Jihan. Ting. Pintu lift terbuka. Jihan dan Rendy keluar dari lift bersamaan.


Senyum indah menghiasi di keduanya.


“Dimana Claudya?’’ Tanya Jihan kepada Carla staff Rendy.


“Oh aku belum melihatnya hari ini.’’ Jawab Carla.


Jihan mengernyitkan alisnya. Harusnya ia datang ke kantor hari ini. Gumam Jihan.


“Nyariin aku ya.’’ Ucap Claudya yang mengejutkan Jihan dan yang lannya.


“Kamu ini. Mana laporan yang aku minta. Awas ya kalau sampai belum selesai.’’ Ucap Jihan mengancam.


“Sabar Nona Jihan yang cantik. Baru aja pulang dari rumah sakit udah marah-marah aja. Nanti nggak laku lho.’’ Goda Claudya.


“Ini Nona.’’ Ucap Claudya sembari menyodorkan ponselnya bahwa ia telah mengirim file ke telegram Jihan.


“Kerja bagus anak pintar.’’ Ucap Jihan sembari mengusap kepala Claudya.


“Ye emangnya aku anak TK.’’ Ucap Claudya protes. Jihan membalas dengan tawa kecilnya. Rendy memerhatikan Jihan dari ruangannya.


Cute. Gumam Rendy yang diam-diam mulai mengagumi Jihan.


 


“Jihan dua jam lagi kita meeting ya.’’ Ucap Rendy


“Kita berangkat sekarang aja ya. Aku harus ke salon sama ganti baju.’’ Jawab Jihan.


“Jihan please lah. Aku ini manager disini. Pekerjaan ku sangat banyak.’’ Ucap Rendy.


“Rendy please lah. Aku ini pemilik perusahaan ini. Kamu tidak berhak untuk menolak perintahku.’’ Ucap Jihan.


Huft. Rendy menghela panjang nafasnya. Biar bagaimanapun posisinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jihan.


“Oke kita pergi sekarang.’’ Ucap Rendy.


“Tunggu. Aku belum menghubungi Mario.’’ Ucap Jihan.


“Apa dia juga ikut?’’ Tanya Rendy.


“That’s right.’’ Ucap Jihan.


Drrtt


Drrtt


Drrtt


“Halo Mario. Siapkan mobil sekarang ya.’’ Ucap Jihan.


“Kita mau kemana?’’ Tanya Mario.

__ADS_1


“Udah siapin aja mobilnya. Ini perintah’’ Ucap Jihan.


“Baik.’’ Ucap Mario.


 


Hingga akhirnya Jihan, Rendy dan Mario berada dalam satu mobil lagi.


Mengingatkan kejadian sebelum Jihan di culik. Sayangnya Claudya juga tidak bisa ikut lagi.


“Astaga. Cantik sekali bunga itu.’’ Ucap Jihan ia seketika melihat kearah toko bunga. “Berhenti sebentar Mario.’’ Imbuh Jihan.


“Mau ngapain?’’ Tanya Rendy.


Setelah Mario menepikan mobilnya. Jihan langsung keluar dari mobil dan segera menuju ke toko bunga.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Rendy.


Jihan sangat suka dengan bunga mawar putih. Begitu ia melihat mawar putih ia pasti langsung membelinya.


Sementara di sisi lain, Rendy dan Mario hanya bisa mengamati Jihan dari mobil.


Mereka membiarkan sejenak Jihan menghabiskan waktu untuk memilih bunga kesukaannya.


Setelah puas memilih dan membayar mawar putih kesukaannya Jihan lalu kembali menuju ke mobil.


Tiba-tiba hujan memeluk bumi. Membasahi tubuh Jihan. Bukannya segera berlari kearah mobil justru Jihan berdiam diri.


Ia menikmati setiap tetesan air hujan yang mengguyur badannya.


Rendy dan Mario yang melihat Jihan tidak segera beranjak, mereka berdua secara refleks keluar dari mobil dan menghampiri Jihan.


Rendy menarik tangan kanan Jihan, sementara Mario memayungi tubuh Jihan menggunakan jas yang sudah ia lepaskan dari tubuhnya sembari memeluk tubuh Jihan.


Jihan seketika terkejut dengan sikap Rendy dan Mario. Mereke bertiga terdiam sejenak. Bahkan derasnya tetesan air hujan tak membuat mereka beranjak.


“Hei. Kalian kenapa?’’ Teriak Jihan memecah di tengah derasnya hujan yang mengguyur.


Rendy seketika melepas genggaman tangannya dan membiarkan Jihan berada di pelukan Mario.


Rendy memilih segera menuju ke mobil. Di susul Jihan bersama Mario.


Bugg. Mario menutup pintu mobil dengan keras. Rendy merapikan rambutnya yang basah. Sementara Jihan masih dalam keadaan terkejut dengan perbuatan Rendy dan Mario.


“Maaf gara-gara aku kalian berdua jadi kehujanan.’’ Ucap Jihan lirih merasa bersalah.


“its oke. No problem.’’ Balas Mario.


“Kalau tahu hujan tuh langsung berteduh, bukannya malah sengaja hujan-hujannan. Kamukan abis pulang dari rumah sakit. Kalau sakit lagi gimana coba’’ Ucap Rendy dengan sedikit rasa kesalnya. Padahal ia bukan mempermasalahkan Jihan hujan-hujanan melainkan ia kesal dengan sikap Mario yang ikut-ikutan menghampiri Jihan.


Jihan yang merasa Rendy marah kepadanya, Ia hanya diam tanpa membalas perkataan Rendy.


Mario yang melirik Jihan dari kaca depan mobil, tahu kalau Jihan merasa tidak nyaman dengan perkataan Rendy.


“Sebaiknya kita segera menuju ke Mall saja. Nanti disana kita bisa berganti pakaian.’’ Ucap Mario mencairkan suasana.


Jihan masih terdiam. Entah mengapa dadanya terasa sesak saat Rendy memarahinya.


Jihan hanya melihat kearah samping memandangi jendela kaca yang basah oleh tetesan air hujan.


Mengembun dan menetes ke bawah membawa kesejukan.

__ADS_1


Kenapa kamu memarahiku Rendy, sedangkan tadi kamu berusaha untuk mengajakku berteduh. Kamu jahat Rendy.


Gumam Jihan sedih. Tak terasa butiran embun menetes dari kedua mata Jihan.


__ADS_2