Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Malu-Malu Kucing


__ADS_3

“Cateringnya udah siap kan ya?.” Tanya Jihan.


“Beres deh pokoknya.” Jawab Claudya.


“By the way mau tau nggak aku pesen cateringnya ke siapa?.” Imbuh Claudya.


“Ke siapa emang?” Tanya Jihan penasaran.


“Ibunya Pak Rendy. Nggak sengaja aku liat-liat profil Pak Rendy. Iseng aja aku save nomor keluarga dari Pak Rendy. Terus di bio nya tertera nama R&L catering. Terus pas kamu nyuruh aku buat pesenin makanan buat anak-anak panti ya udah deh refleks aja aku hubungi nomor itu. Tau nggak Ji itu nomornya siapa?.” Tanya Claudya.


“Udah deh Claudya dari tadi perasaan main tebak-tebakan mulu. Nggak mau tahu dan nggam mau cari tahu.” Ucap Jihan mulai kesal dengan Claudya.


“Hemmm. Yaudah deh.” Ucap Claudya


 


Akhirnya setelah perjalanan sekitar satu jam karena macet mobil yang Jihan tumapangi sudah sampai di Panti Asuhan Amanah, yang merupakan yayasan milik keluarga Jihan.


“Akhirnya sampai juga. 6 tahun nggak kesini rasanya kangen banget.” Ucap Jihan.


“Aku aja yang 1 bulan nggak kesini kangen apalagi kamu Ji.” Ucap  .


Claudya merupakan salah satu anak panti asuhan Amanah. Beruntung Claudya memeliki otak yang sangat cerdas, sehingga Paman Joe memberikan kesempatan untuk Claudya kuliah. Dan saat ini ia juga menjadi assisten pribadi Jihan sembari kuliah.


Secara kebetulan, sebuah mobil juga tiba di panti asuhan.


Kemudian turunlah seorang laki-laki tampan berpakaian kaos dan celana pendek. Tak lupa jam tangan melingkar di pergelangan tangannya.


“Rendy? Ngapain kamu kesini? Oh atau jangan-jangan kamu membuntutiku dari belakang ya?”. Tanya Jihan menuduh.


“Astaga. Nggak di kantor nggak di sini ketemu sama manusia satu ini lagi.” Ucap ketus Rendy.


“Pak Rendy yang mengantarkan makanannya?.” Tanya Claudya.


“Iya. Di pesanan tertulis Jihan Pratama.” Ucap Rendy.


“Maaf Pak sebelumnya. Sebenarnya saya bisa pesen catering Ibunya Pak Rendy, karena saya nggak sengaja menyimpan nomor keluarga yang dapat di hubungi di profil Pak Rendy , terus bionya R&L catering. Kebetulan juga Nona Jihan meminta saya untuk mencarikan catering untuk anak-anak panti. Yasudah daripada bingung-bingung saya memesam catering Bu Laras.” Ucap Claudya.


“Oh. Oke. Thanks sebelumnya.” Ucap Rendy Ketus.


“Saya bantu menurunkan makanannya.” Ucap Mario.


“Thanks.” Ucap Rendy datar.


“Jihan. Claudya.” Pekik Bunda Ratih. Bunda panti asuhan Amanah.


“Bunda.” Ucap Jihan dan Claudya secera bersamaan dan berlari menghampiri Bunda Ratih dan langsung memeluknya.

__ADS_1


“Ehem. Mentang-mentang udah ketemu Bunda Ratih, Bu Darmi di lupain nih.” Ucap Bu Darmi.


“HE HE. Enggal lah Bu. Sini ikut pelukan.” Ucap Jihan.


Mereka berempat berpelukan hangat.


“Sudah. Ayo masuk. Anak-anak udah dari tadi menunggu.” Ucap Bunda Ratih.


Merekapun masuk ke dalam Panti, termasuk Rendy sembari membawa kotak makanan di bantu Mario.


Anak-anak sangat antusias menyambut kedatangan Jihan dan yang lainnya.


“Hallo adek-adek. Apa kabar? Kangen nggak sama Kak Jihan?” Tanya Jihan.


“Kangen.” Ucap anak-anak panti serempak.


“Kali ini Kak Jihan mau ajakin kalian makan bareng nih sama Kak Jihan. Mau nggak?.” Tanya Jihan.


“Sayang.” Lagi-lagi ucap anak-anak secara serempak.


Sayang juga. Gumam Rendy tersenyum diam-diam.


Mario ikutan tersenyum melihat anak-anak begitu antusiasnya dengan kehadiran Jihan.


Jihan memang gadis yang sangat cantik dan baik hati. Tak heran anak-anak pun juga sangat menyukai pribadi Jihan.


“Kak Jihan sudah punya pacar belum?.” Celetuh salah satu anal panti yang disambut dengan sorakan seluruh anak-anak panti.


“Kak pacar kakak yang itu atau yang itu?.” Tanya salah satu anak panti sembari menunjuk Rendy dan Mario.


Seketika Jihan langsung berwajah pucat pasi. Serangan tambahan dari anak-anak panti membuatnya salah tingkah sendiri.


Mario menghampiri anak yang menunjuknya tadi sembari membungkukkak tubuhnya agar sesuai denganl tinggi anak panti yang tengah duduk di kursinya masing-masing secara rapi.


“Menurutmu siapa pacar Kak Jihan.?” Tanya Mario yang seketika membuat Jihan terkejut. Terlebih Rendy. Ia kalah start kali ini dengan Mario. Namun apa dayanya dirinya masih belum mau mengakui perasaannya.


“Emmm. Sepertinya Kakak yang disana.” Ucap polos anak panti.


Rendy yang mendengar jawaban dari anak panti ia senang bukan main, meski bukan Jihan yang menjawabnya.


Mario hanya tersenyum kemudia ia mengelus-elus dengan lembut kepala anak panti itu.


Dan memberikan sebuah lolipop. “Ini untukmu. Sebagai hadiah atas keberanian mu berbicara di hadapan orang banyak.” Ucap Mario.


Jihan terkesima atas sikap Mario. Mario begitu dewasa pikirnya.


“Kau mencoba dekat dengan anak kecil ya meski masij terlihat sangat kaku.” Ucap Jihan.

__ADS_1


“Anggap saja begitu.” Jawab Mario.


Rendy merasa posisinya tersaingi. Mario sudah berhasil membuat Jihan terkesima. Sementara dirinya hanya sebagai penonton saja.


“Oke adik-adik. Kakak ada pertanyaan nih siapa yang berhasil menjawab, kakak akan memberikan uang 20 ribu.” Ucap Rendy.


“Rambut putih namany uban. Rambut merah namanya pirang. Kalo rambut hujau namanya apa?.” Tebak Rendy.


Anak-anak panti seketika berbisik satu sama lain mereka semua kebingungan.


“Rambutan belum matang.” Jawab Mario.


“Mana uangnya?.” Imbuh Mario.


“Huft. Dirimu menganggap sebagai anak-anak rupanya?.” Ucap Rendy kesal.


Seketika Rendy dan Mario saling melemparkan pandangan sengit diantara keduanya.


“Ayo-ayo. Ayo-ayo. Ayo-ayo.” Tiba-tiba anak-anak panti bersorak. Mereka meminta Rendy dan Mario bertarung.


“Hei kau memilih jagoan yang mana?.” Bisik salah satu anak panti.


“Aku kakak yang pakai baju putih(Rendy).” Jawab anak lainnya.


“Kalau aku sih udah pasti pilih kakak yang pakai baju hitam(Mario).” Jawab anak panti.


“Hei sudah-sudah. Kalian berdua udah besar tapi perilakunya kaya anak kecil aja. Nggak malu apa jadi tontonan anak kecil.” Ucap Jihan marah.


Rendy dan Mario pun saling jaga jarak satu sama lain.


Dengan kesalnya Rendy berpamitan. Karena tugasnya sudah selesai mengantarkan makanan.


Disisi lain Jihan merasa tak ingin Rendy pergi dari panti. Tetapi ia tak mampu untuk menahan Rendy. Dirinya malu-malu kucing untuk menahan Rendy agar tak pergi.


Rendy jangan pergi dulu. Batin Jihan.


Sementara Claudya justru berlari mengejar Rendy.


“Pak Rendy tunggu.” Ucap Claudya.


Rendy pun membalikkan tubuhnya.


“Ada apa Clau?” Tanya Rendy.


“Pak Rendy belum memaafkan kelancangan saya. Tolong di maafin saya ya Pak.” Ucap Claudya sembari menundukkan kepalanya.


“Astaga Claudya. Kamu ini kayak anak kecil aja. Justru aku berterimakasih sama kamu. Ibuku jadi dapat orderan.” Ucap Rendy dengan tersenyum.

__ADS_1


Sementara itu Jihan yang berniat ingin menahan Rendy, niatnya ia urungkan. Jihan melihat Rendy dan Claudya saling melemparkan senyum masing-masing.


Entah apa yang sedang Rendy dan Claudya bicarakan. Tapi itu mampu membuat Jihan terasa sakit dadanya.


__ADS_2