
Mario berlari ketika ia sudah berada di rumah sakit. Sementara Jihan tidak dapat mengimbangi kecepatan Mario berlari.
"Huh huh huh cepat sekali dia berlari." Monolog Jihan
Begitu sampai di ruangan tempat Kimora di rawat Mario seketika tercengang melihat pemandangan di depannya. Ia nampak tak asing melihat seorang pria paruh baya namun tetap terlihat segar dan berjiwa muda.
"Pak Michael?" Sapa Mario
"Maafkan Ayah nak. Maafkan Ayah. Bahkan Ayah tak pantas di sebut sebagai seorang Ayah. Maafkan Ayah nak." Isak tangis Michael menggema di ruangan Kimora.
Mario penasaran dengan apa yang di ucapkan oleh Pak Michael.
Mario dengan perasaan campur aduk ia menepuk pelan pundak Pak Michael.
"Mengapa Anda disini? Apa maksud dari perkataan Anda barusan?" Tanya Mario penasaran.
"Mario ini Ayah nak." Ucap Michael sembari memeluk erat Mario.
Mario terkejut dengan apa yang Tuan Michael katakan.
__ADS_1
Lebih mengejutkan lagi ia melihat Kimora sedang dalam keadaan lemas tak berdaya.
Seakan yang di rasakannya kini adalah langit sedang jatuh di atas kepalanya.
Segera ia melepaskan pelukan yang Michael daratkan.
"Saya masih tidak mengerti apa yang Anda katakan barusan " Ucap Mario sembari melepaskan pelukan.
Ia menghampiri tubuh lemas adik semata wayangnya.
"Kimora. Bangun sayang. Ini kakak. Apa kau marah kepada kakak karena dua hari ini tidak mengunjungimu? Tapi bukankah itu kemauanmu. Kau melarang Kakak untuk mengunjungi mu dua haei belakangan ini. Mengapa Kimora? Apa salah Kakak padamu? Apa pengorbanan selama ini yang Kakak berikan padamu kurang Kimora? Jawab Kimora! Kimora! Kimora!." Teriak Mario sembari membangunkan Kimora.
Dokter dan perawat pun berusaha memompa jantung Kimora atau biasa di sebut dengan istilah CPR.
Ada momen haru pada proses tersebut mata kanan Kimora meneteskan air mata. Jihan dan semua orang yang melihat peristiwa itu tak hentinya menangis. Mereka tahu apa yang akan terjadi.
Setelah proses CPR yang cukup menguras energi para dokter dan perawat dilakukan. Kenyataannya Tuhan berkehendak lain.
Monitor ICU yang memperlihatkan denyut jantungpun menunjukkan tidak adanya denyut jantung lagi.
__ADS_1
"Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Adik Kimora Edward sudah meninggal pukil 22.15 WIB." Ucap Dokter yang bertugas.
Isak tangis Mario tak dapat di bendung lagi. Ia berteriak dan menangis sekencang-kencangnya. Sembari menggoyankan tubuh lemas Kimora berharap Kimora akan kembali membuka kedua matanya dan senyuman manisnya menyambut kedatangan Mario. Kakak tercintanya dan harta satu-satu nya di dunia.
Kimora. Maafkan Ayah nak. Ayah belum sempat melihatmu ketika kau lahir di dunia. Dan sekarang Ayah melihatmu untuk terakhir kalinya kau berada di dunia. Ayah yakin saat ini kau sudah tidak merasakan sakit lagi. Ibumu telah menjemputmu Sayang. Maafkan Ayah Kimora. Maafkan Ayahmu ini Kimora sayang. Gumam Michael dalam hati. Ia mengutuk dirinya sendiri.
"Mario. Yang sabar." Ucap Jihan. Mario pun menumpukan kepalanya dalam pelukan Jihan. Saat ini yang Mario butuhkan hanyalah pelukan untuk bersandar diri.
"Mohon maaf untuk keluarga bisa mengurus administrasinya dan juga perawatan jenazahnya." Ucap salah satu perawat.
"Saya Ayahnya. Saya yang akan mengurusnya." Ucap Michael.
Mario yang mendengar perkataan Michael baru sadar. Pantas saja saat pertama kali ia bertemu dengan Pak Michael ia merasa bahwa dirinya tak asing dengan Pak Michael.
"Kau bahkan belum pernah melihat sekalipun Kimora saat Kimora lahir di dunia. Dan sekarang kau ingin melihatnya untuk terakhir kalinya Hah." Ucap Mario marah. Hampir saja ia memukul wajah Michael. Namun Jihan berhasil mencegah Mario.
"Mario sudah. Ini bukan saatnya saling menyalahkan. Kasian Kimora. Biar bagaimanapun dia Ayahnya Kimora Ayahmu juga. Kimora pasti bahagia sekarang."Ucap Jihan menenangkan Mario.
"Kau bahkan tak pantas disebut seorang Ayah!!" Maki Mario.
__ADS_1