Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Sebuah Fakta..


__ADS_3

***


Disisi bangunan lain, seorang Michael Purwadinata duduk di teras rumahnya, di genggamannya ia memegang erat sebuah cangkir berisikan the herbal kesukaannga. Hari minggu waktunya untuk sejenak menghilangkan kepenatan saat bekerja.


Entah mengapa pikirannya teringat akan masa lalunya sebelum ia menginjakkan kakinya di rumah mewah ini.


Bayangannya tertuju pada sesosok anak laki-laki dadah dagingnya..


“Ayah…Ayahh…Aayahhh jangan pergi Ayah..”. Teriak Mario kecil.


Tanpa disadari sebuah takdir mempertemukan mereka kembali. Mario adalah anak kandung dari Michael Purwadinata. Sebelumnya Nama Michael bukanlah Michael Purwadinata melainkan Yosua Edward. Sebelum menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang putri dari keluarga kaya raya Yosua mengubah namanya menjadi Michael Purwadinata untuk menutupi kisah masa lalunya. Hanya sebuah kekayaan duniawi mampun mengubah sifat dan karakteristik seseorang.


Flash Back…


“Lepaskan Mario.” Ucap Michael.


“Ayah…Ayah mau kemana? Ibu tidur di dalam tanah, dede bayi nangis terus, Mario gimana Yah?.” Tanya Mario menangis histeris memegangi kedua kaki Mario.


Tanpa memperdulikan rengekan Mario , Michael terus melangkahkah kakinya pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat dirinya dan anak istrinya berteduh.


Prang….


Lamunan Michael terbuyarkan. Cangkir yang ia pegang jatuh ke lantai. Membuat Michael tersadarkan dari memori masa lalunya.


Mario? Dimana kamu sekarang? Gumam Michael.


“Tuan ada yang mencari Anda.” Ucap pelayan di rumahnya yang bernama Guntur.


“Huft. Siapa yang sudah berani-beraninya mengusik hari liburku.” Ucap Michael dengan geramnya.


“Aku.” Jawab Paman Joe dengan lantangnya.


Seketika mendengar suara yang tak asing di telinganya , Michael segera bangkit dari tempat duduknya.


“Joe? Ada apa kau repot-repot kemari?.” Tanya Michael penasaran.


“Michael Purwadinata apa kau kenal denga sesosok pria miskin bernama Yosua Edward?.” Tanya Paman Joe mengintimidasi.


Wajah Michael berubah menjadi merah seketika ia mendengar nama masa lalunya di sebut. Matanya menatap tajam Paman Joe.


“Kau kenal?” Tanya Paman Joe mengulangi.


Michael hanya mampu menggelengkan kepalanya. Selama ini tidak ada yang pernah menyebut nama masa lalunya langsung di hadapannya. Bagaimana tidak Michael mengubah seluruh identitasnya serta bentuk wajahnya. Wajar saja bahkan Mario sama sekali tak mengenali wajah Michael.


“Coba kau ingat-ingat lagi. Mungkin kau mengingatnya.” Imbuh Paman Joe.


“ Jika kau sudah ingat hubungi aku.” Ucap Paman Joe langsung pergi meninggalkan Michael yang terdiam.


Bagaimana dia bisa tahu. Batin Michael tak percaya.


 


Paman Joe keluar dari kediaman Michael dan segera memasuki mobilnya. Mobil itu pun melaju meninggalkan area kediaman Purwadinata.


Mario, Michael. Kisah kalian unik juga. Gumam Paman Joe sembari mengukir senyum smirknya.


 

__ADS_1


Sementara di sisi lain, Rendy tengah membantu Ibunya memasak. Hari ini Bu Laras mendapatkan pesanan cateringnya. Meski seharusnya libur, Rendy tetap sibuk membantu Ibunya memasak.


“Ren. Ini nanti kalau udah siap semua langsung di kirim ke panti asuhan Amanah ya.” Ucap Bu Laras.


“Memangny ibu panti yang pesan Bu?” Tanya Rendy.


“Bukan. Yang pesen itu orang lain. Mereka ingin berbagi rejeki sama orang panti asuhan.” Jelas Bu Laras.


“Memangnya ibu panti yang pesan Bu?” Tanya Rendy.


“Bukan. Yang pesen itu orang lain. Mereka ingin berbagi rejeki sama orang panti asuhan.” Jelas Bu Laras.


“Lebij tepatnya lagi kalau nggak salah yang punya tempat kerja kamu. Namanya Jihan.” Ucap Bu Laras.


Rendy pun terkejut mengetahui Jihan memesan catering ibunya.


“Jihan?” Tanya Rendy memperjelas.


“Iya. Yang kemarin ngadain event di mall bareng kami Ren. Ibu nggak nyangka secantik itu pemilik perusahaan tempat kamu kerja.” Ucap Bu Laras.


“Emangnya dia cantik ya Bu?.” Tanya Rendy.


Bu Laras membalas dengan anggukan kepala sembari tersenyum manis. “Andai calon menanti Ibu secantik dia ya Ren.” Ucap Bu Laras.


“ Aamiin.” Jawab Rendy.


“Aamiin? Artinya kamu juga suka kan sama Jihan? Udah cantik,kaya, baik hati lagi.” Puji Bu Laras.


 “Terserah Ibu aja lah.” Ucap Rendy. Diam-diam ia menyetujui pendapat ibunya. Jihan lain dari wanita lain.


Tok


Tok


Tok


Rendy pun membuka pintu rumahnya.


“Galuh? Ada apa?.” Tanya Rendy.


“Ehmmm. Aku Cuma disuruh Mamahku buat ambil uang bulanan.” Jawab Galuh canggung.


Rendypun lalu mengeluarkan dompetnya.


“Ini.” Ucap Rendy sembari menyodorkan uang satu juta rupiah.


“Siapa Ren? Eh Galuh. Masuk dulu Gal.” Ucap Bu Laras. “Nggak usah Bu , Galuh sudah di tunggu Gio. Galuh permisi dulu.” Ucap Galuh.


 Rendy dan Galuh sudah seperti orang asing.


Mereka canggung satu sama lain. Ada rasa yang belum tersampaikan namun sudah pupus harapan.


“Oke Rendy?.” Tanya Bu Laras.


“Oke lah Bu “ Jawab Rendy dengan percaya dirinya.


"Bagus. Ayo Ren. Kerjaan Ibu masih banyak. Keburu Nona Jihan marah-marah." Ucap Bu Laras.

__ADS_1


“Santai aja kali Bu. Semarah-marahnya dia tetep lebih galak Rendy kalau marah.” Ucap Rendy.


“Ya tapi kan dia tetap atasan kamu Ren.” Ucap Bu Laras.


“Oh ya kok ibu bisa kenal Jihan. Darimana?. Tanya Rendy penasaran.


“Nggak tahu. Tiba-tiba aja ibu di telpon. Dan dia pesan makanan buat di kirim ke panti asuha.” Jawab Bu Laras.


 


 


Sementara di kediaman Jihan semuanya sibuk mempersiapkan diri untuk mengunjungi panti asuhan milik keluarga Jihan.


“Udah siap semuanya?.” Tanya Jihan


“Sudah Paman. Berangkat sekarang?” Ucap Claudya


“Ya kalau sudah berangkat sekarang. Claudya hubungi cateringnya ya. Bilang kita akan segera menuju ke panti.” Ucap Jihan.


“Paman Joe?” Tanya Claudya.


“Dia sedang ada urusan. Nanti dia langsung menyusul ke panti.” Jawab Jihan.


“ Oh ya Ibu kemana?.” Tanya Jihan.


“Disini Jihan. Ibu juga udah siap. Oh ya hari ini sopirnya sudah masuk.” Ucap Bu Darmi.


“ Oke Bu. Biar dia yang nyetirin. Nanti Mario duduk di samping pak sopir.” Ucap Jihan.


“Rasanya aku dah nggak sabar pengen cepet-cepet sampai. Udah kangen berat sama Ibu Panti.” Ucap Claudya.


“Kamu mau balik lagi ke panti emang?” Tanya Mario tiba-tiba.


“Yee ikut nimbrung aja kamu.” Ucap Claudya kesal.


“ Udah-udah yuk ah berangkat.” mvy y bUcap Jihan.


Mereka pun akhirnya berangkat menuju ke panti asuhan.


Perjalanan pun semakin menyenangkan dengan tingkah lucu Claudya.


“Clau kayaknya kamu cocok jadi pelawak deh. Daftar audisi lawak gih..” Ucap Jihan.


"Siap Ji. Tapi setelah aku lulus dulu ya." Ucap Claudya


" Lulus? Lulus dari apa?" Tanya Jihan Penasaran.


"Ya lulus dari jeratan mu lah Ji." Ucap


"Yey awas kau ya. Ku potong gaji kau nanti." Ucap Jihan.


" Eitsss tidak bisa. Paman Joe yang menggajiku bukan kamu." Ucap Claudya.


" Hmmmm. Baiklah kalau begitu. Kamu jadi asisten pribadinya Paman Joe aja kalau gitu." Ucap Jihan kesal.


" Wah putri sedang merajuk. Ha ha." Goda Claudya.

__ADS_1


 


__ADS_2