
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Panggilan masuk dari Paman Joe.
Mario seketika memperlihatkan layar ponselnya kepada Michael. Michael menyuruh Mario untuk menjawab panggilan itu.
“Halo Tuan.” Jawab Mario.
“Mario bisa kamu segera menemui saya. Saya ada di ruangan Michael.” Ucap Paman Joe.
"Anda di ruangan Pak Michael. Baik saya segera kesana Tuan.” Jawab Mario.
“Ada apa?” Tanya Michael.
“Paman Joe sekarang di ruangan Anda. Sebaiknya Anda lebih dahulu kesana. Nanti saya menyusul. Jangan sampai Paman Joe mencurigai keterlibatan kita Pak.” Ucap Mario.
“Rupanya kamu cerdik juga Mario.” Ucap Michael sembari menepuk bahu Mario.
Mau ngapain lagi manusia satu itu. Sudah satu minggu lebih dia mengacaukan urusanku. Gumam Michael kesal.
Sementara di sebuah bangunan Mall megah di kawasan Jakarta tepatnya di sebuah ruangan dengan papan bertuliskan CEO, duduklah seorang Reyhan Rahendra. Reyhan akhir-akhir ini pikirannya dihantui oleh sosok perempuan cantik bernama Jihan Pratama.
Ahhh sial. Aku harus segera menemui Jihan. Aku sudah lelah menahan gejolak ini. Apapun balasan dari Jihan akan aku terima. Jika dia menolak perasaanku, maka aku akan terus berusaha sampai dia menerimaku. Gumam Reyhan.
Ia bergeming mengapa Jihan belum juga menghubunginya. Padahal event sebentar lagi akan segera di gelar.
Ahh ia lupa jabatannya sebagai CEO tak mungkin Jihan akan berurusan dengannya. Jihan akan pasti lebih memilih menghubungi Manager Generalnya. Nona Felicya.
Reyhan memutuskan untuk menghubungi Felicya untuk meminta kontak Jihan. Jika meminta kepada Rendy, Reyhan takut Rendy akan tahu modusnya.
Drrtt
Drrtt
Drrtt
“Halo Pak Reyhan. Ada yang bisa saya bantu.” Ucap Felicya setelah menjawab panggilan dari Reyhan.
“Felicya. Bisa kamu mintakan kontak Jihan Pratama dari Pratama Foods. Saya tahu mereka akan mengadakan event di Mall kita.” Ucap Reyhan.
Sejenak Felicya mengernyitkan dahinya. Ada apa dengan pria yang secara diam-diam ia menaruh hati kepadanya.
“Oh Nona Jihan Pratama. Kebetulan saya langung berhubungan dengan beliau Pak untuk event yang akan diadakan besok lusa.” Ucap Felicya.
“Oke. Langsung segera kamu kirim ya.” Ucap Reyhan yang sudah tidak sabar menghubungi Jihan.
__ADS_1
Di sisi lain Rendy dan Jihan masih dalam keadaan canggung satu sama lain. Meski berada dalam satu ruangan, keduanya enggan untuk bersua.
“Ji.” Ucap Rendy terpotong karena Jihan tiba-tiba menjawab panggilan ponselnya.
“Halo. Maaf ini siapa ya?” Ucap Jihan.
“Hei Jihan. Aku Reyhan. Do you remember me?”. Tanya Reyhan.
“Of course. Apa kabar Reyhan?” Tanya Jihan basa-basi.
“Sangat baik. Malam ini kamu ada acara?”. Tanya Reyhan langsung to the point.
“Malam ini?” Ucap Jihan terhenti karena ia sedang mengingat-ingat.
Begitu mendengar percakapan antara Reyhan dan Jihan, Rendy buru-buru menulis di kertas.
Nanti malam kita ada rapat urgent tentang event lusa. Tulis Rendy.
“Oh maaf Rey. Nanti malam aku ada rapat final mengenai event yang mau di adakan di Mall mu besok lusa.” Ucap Jihan.
“Oh begitu ya. Kalau begitu sampai jumpa di event ya.” Ucap Reyhan bersemangat.
“Memangnya nanti malam rapat finalnya? Bukannya besok pagi ya.” Ucap Jihan protes kepada Rendy.
“Besok pagi? Kamu nulisnya besok pagi ya. Ini apa hah?” Protes Jihan sembari menyodorkan kertas yang tadi Rendu tulis.
“Oh maaf. Mungkin tadi jari ku tersandung jadinya salah nulis.” Ucap Rendy.
Memangnya ada gitu kasus jari tersandung.” Ucap Jihan sembari tertawa kecil. “Yang ada kaki kesandung.” Imbuh Jihan. Rendy yang melihat Jihan tertawa lepas ikut senang. Jihanpun semakin terlihat cantik.
“Oh ya tadi pas di ruang rapat kamu mau ngomong apaan Ren?” Tanya Jihan yang teringat akan kejadian di ruang rapat.
Rendy tiba-tiba menjadi bingung. Apakah ia akan melanjutkan pernyataannya atau justru malah memendam perasaannya.
Disisi lain ia merasa takut dengan keberadaan Mario dan Reyhan yang ia rasa juga menaruh hati untuk Jihan.
Tapi ia kini justru malah gengsi untuk mengungkapkan perasaannya.
“Oh tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengingatkan saja sebentar lagi rapat direksi. Rapat ini lah yang akan menentukan diterima atau tidaknya kamu menjadi direktur utama.” Ucap Rendy.
Sebenarnya dalam pikirannya ia ingin mengutarakan perasaannya, namun anehnya ia justru berkata lain. Lain di lidah lain di hati. Begitulah kira-kira pepatah mengatakan.
“Oh aku kira apa.” Ucap Jihan dengan perasaan kecewanya. Ia mengira Rendy akan berkata hal lain. Rupanya hanya mengenai rapat direksi. Jihan pun tak terlalu memperdulikan rapat direksi. Karena ia yakin ia akan berhasil menjadi direktur utama. Mengingat ia sudah memiliki cukup bukti untuk menyingkirkan Michael Purwadinata.
“Oh ya aku hampir lupa. Kamu sebaiknya berhati-hati dengan Reyhan.” Ucap Rendy.
“Memangnya kenapa? Dia pria yang baik, ramah, sopan, kaya dan juga sangat tampan. Pasti banyak wanita yang menyukainya.” Ujar Jihan yang membuat Rendy hatinya panas terbakar.
__ADS_1
“Kamu bisa ngomong seperti itu karena baru pertama kali bertemu. Coba kalau sudah tau sifat asli nya.” Ujar Rendy yang semakin menyudutkan Reyhan.
“Oke kalau begitu. Sepertinya aku harus mengenal Reyhan lebih jauh lagi supaya tahu sifat aslinya.” Ucap Jihan memancing Rendy.
“Jangan.” Ujar Rendy.
“Kenapa?” Tanya Jihan.
“Kamu pasti akan menyesal kalau menjalin hubungan sama dia.” Ujar Rendy.
“Kamu tuh kenapa sih Ren. Apa hak kamu melarangku untuk berteman dengan Reyhan. Lagipula Reyhan kan temen kamu sendiri. Harusnya kamu mensupport dong bukannya malah merendahkan Reyhan.” Ujar Jihan.
“Kok kamu malah jadi sewot gitu sih. Seakan-akan kamu tuh membela Reyhan seperti kamu membela pacar kamu sendiri.” Ujar Rendy dengan kesal. Lalu ia pergi meninggalkan Jihan sendirian di ruangannya.
Jihan pun bingung dengan sikap Rendy. Sebentar-sebentar ramah sebentar-sebentar marah.
“Jihan bisa kita bicara sebentar.” Ucap Paman Joe tiba-tiba sudah berada di ruangan Rendy.
“Paman. Bikin jantungan aja.” Ujar Jihan terkejut.
“Cepat Jihan. Ini urgent.” Ujar Paman Joe.
“Iya-iya.” Balas Jihan.
Akhirnya Jihan dan Paman Joe ke ruangan pribadi Abdi, Papah Jihan.
“Ada apa paman? Seperinya urusan yang sangat penting.” Tanya Jihan.
“Si tua bangka itu sudah bergerak lebih depan daripada kita. Dia sudah terlebih dahulu membujuk para investor untuk lebih memilih dirinya tetap sebagai Direktur Utama. Dan mereka meragukan kemampuanmu Jihan. Apalagi selama ini kamu hanya bekerja di divisi Marketing. Ini akan semakin memojokkanmu Jihan.” Ucap Paman Joe mode serius
"Apa itu akan mempengaruhi hasil rapat direksinya Paman?" Tanya Jihan.
"Sudah pasti Jihan. Tapi kita harus tetap pada rencana awal untuk saat ini. Dan pastikan kamu tidak dalam keadaan citra yang buruk. Hindari club dan juga menjalin suatu hubungan. Paman khawatir itu akan mempengaruhi elektabilitasmu sebagai calon Direktur Utama." Jelas panjang lebar Paman Joe.
"Ayolah Paman. Memangnya aku ini pernah menginjakkan kaki di club. Dan untuk yang satunya lagi. Aku punya kekasih? Untuk saat ini itu bahkan belum pernah aku pikirkan. Membayangkannya saja rasanya belum pernah." Ucap Jihan.
"Bagus. Paman serahkan semua kepadamu Jihan. Kamu harus bisa mengambil alih jabatan itu." Ucap Paman Joe.
"Oke Jihan. Oh ya satu lagi, aku baru saja berbicara empat mata dengan Mario. Aku meminta dia untuk lebih ketat lagi menjagamu." Imbuh Paman Joe.
Sebelumnya Mario berhadapan dengan Paman Joe diruangan Michael. Paman Joe sendiri sengaja menggunakan ruangan Michael sebagai tempat untuk dirinya dan Mario berbincang.
"Mario? Kamu pikir aku ini orang yang bodoh?" Ujar Paman Joe begitu Mario memasuki ruangan Michael.
"Maksud Tuan?" Tanya Mario terkejut.
__ADS_1