Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Kau Merasakannya ??


__ADS_3

Jihan merasakan ada yang aneh dengan dirinya. Pandangannya terhadap pria seperti bercabang. Terlebih akhir-akhir ini sikap yang di tunjukkan Rendy, Mario dan Reyhan sepertinya sudah melampaui batas.


“Pikirkan kembali ucapanku Jihan.” Ucap Rendy.


“Soal?” Tanya Jihan.


“Terus terang aku tak nyaman kau berada di divisiku. Disini ada banyak divisi-divisi lain yang bisa kau pelajari.” Terang Rendy.


“Percuma kau mengatakan hal itu hingga berbuih Rendy. Aku tetap pada pendirianku. Aku tidak ingin meninggalkan divisi ini.” Ucap Jihan.


“Tidak ingin meninggalkan divisi marketing atau ada hal yang lain yang menggangu pikiranmu.?” Tanya Rendy.


“Aku nggak bisa menjawabnya.” Jawab Jihan.


“Nggak bisa menjawabnya atau malu untuk menjawabnya.” Tanya Rendy  mengintimidasi.


“Privacy. It is privacy.” Jawab Jihan.


“Apakah ada hubungannya dengan perusahaan? Atau emosional sesaat secara pribadi?’’ Cecar Rendy.


“Apa pentingnya untukmu. Terlalu jauh kau menanyakannya.” Ucap Jihan.


“Sudah kuduga?’’ ucap Rendy


“Tentang?’’ Ucap Jihan.


“Seorang wanita terlalu bertele-tele untuk memberikan jawaban yang pasti. Aku hanya meminta kau pindah divisi. Pasti dengan mudahnya kau menduduki jabatan Direktur jika mau bermain-main.” Ucap Rendy.


“Kau pikir aku orang yang tidak pandai melawan arus ombak?” Ucap Jihan menyerang.


“Seseorang bisa dikatakan pandai atau tidaknya semuanya berdasarkan hasilnya bukanlah prosesnya.” Ucap Rendy.


“Apa pentingnya sebuah hasil jika cara yang kita gunakan tidak sesuai dengan ekspetasi.” Balas Jihan.


Percakapan semakin intens dan mulai memanas keduannya saling tak mau mengalah satu sama lain.


“Apa pentingnya sebuah proses. Sebesar apapun sekuat apapun sekeras apapun suatu usaha dalam proses kalau hasilnya tidak bisa dibanggakan untuk apa. Hanya buang-buang waktu saja. Melelahkan.”


“Justru itulah seni di dalam perjuangan.” Balas Jihan.


“Seni? Tidak perlu adanya seni dalam sebuah perjuangan.” Balas Rendy.

__ADS_1


“Laki-laki memang selalu berpikiran logis tanpa memperdulikan sebuah seni atau rasa sama sekali. Egois sekali jadi manusia.” Balas Jihan.


“Apa pentingnya menggunakan perasaan. Setiap terjatuh saat sedang berjuang ketika mengalami suatu kegagalan atau kaki tersandung batu masalah yang bisa dilakukan hanyalah mengeluarkan air mata.” Balas Rendy.


“Setidaknya hal seperti itu akan membuat suasana dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada rasa yang di tahan. Semuanya bisa di curahkan melalui air mata dan sisi emosional dari sifat manusia itu sendiri.” Balas Jihan.


“Daripada membuang-buang waktu, energi dan juga pikiran akan lebih bermanfaat kita menggunakan waktu itu untuk terus melangkah maju ke depan. Jangan egois. Kita juga harus memikirkan masa depan. Lebih baik tak menghiraukan sama sekali duri yang menancap. Fokus ke depan untuk meraih keberhasilan.’’ Balas Rendy.


“Tidak ada yang menyalahkan kalau kita memilih mengobati terlebih dahulu rasa sakit yang bertamu. Jika sudah membaik kita bisa melanjutkannya lagi.” Balas Jihan yang  mulai berpikir keras untuk mengalahkan argumen yang keluar dari bibir Rendy.


“Aku pernah mendengar kalimat ‘Time Is Money’ dari seseorang. Itu jauh lebih baik daripada kita menghambur-hamburkan waktu hanya untuk rasa sakit yang tidak ada apa-apanya dibandingkan keberhasilan, kesuksesan dan suatu kebanggaan pada diri sendiri yang sedang menanti kita di ujung finish suatu perjuangan.” Balas Rendy.


“Suatu proses tetaplah suatu proses. Apa gunanya jika kita mendapatkan keberhasila, kesuksesan serta kebanggaan jika proses yang kita lalui itu di jalan yang salah.” Balas Jihan mulai melemas.


“Salah atau benar semua berdasarkan sudut pandang masing-masing setiap individu yang menjabarkannya.” Balas Rendy dengan masih tenang meladeni perlawanan Jihan.


“Kau menekanku?’’ Tanya Jihan.


“Tidak. Hanya sedikit membuka pemikiranmu yang ku perhatikan sudah tidak sama seperti dahulu.” Ucap Rendy.


“Hah? Sejauh mana kau mengenalku? Kita hanya beberapa bulan bersama. Itu tak cukup sebagai penilaian.” Balas Jihan.


“Kau mau aku mengenalmu lebih lama?” Tanya Rendy dengan sorot mata yang lebih tajam namun seberapa tajamnya sorotan mata itu tak kan mampu menembus pikiran Jihan yang masih menggebu-gebu.


Rendy pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Jihan. Rendy duduk di meja Jihan. Sembari terus menatap lekat Jihan tanpa mengalihkan pandangannya ke sudut manapun.


“Kau mau itu?’’ Tanya Rendy.


“Sudah ku bilang fokus saja pada intinya. Tak usah berkelit seperti ini.” Ucap Jihan mulai kesal dengan sikap Rendy yang sudah panas ini.


“Kau mau pindah divisi lain?’’ Tanya Rendy sekali lagi.


“Kau sudah tahu jawabannya.” Balas Jihan.


“Sudah kuduga. (lagi). Kau masih saja menyembunyikan perasaanmu.’’ Ucap Rendy.


“Hah? Siapa? Aku? Menyembunyikan perasaan?” Tanya Jihan.


Rendy hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Apa kau pamanku? Ayahku? Saudara lelakiku? Iparku? Kakekku? Suamiku? Anakku? Kekasihku?’’ Tanya Jihan yang matanya mulai menampakkan butiran-butiran air mata yang enggan keluar dari sarangnya.

__ADS_1


“Yang terakhir.” Balas Rendy.


“Jangan mengada-ngada.” Ucap Jihan membuang muka dengan kesalnya.


“Eight day again. Kuharap kau menang melawan semua musuh-musuhmu termasuk dirimu sendiri. Maka aku bisa dengan leluasa menghirup udara di ruanganku tanpa harus berbagi denganmu.” Ucap Rendy yang diiringi dengan langkah kakinya menuju ke meja kerjanya lagi.


“Kau? Terbuat apa sebenarnya hati nurani mu itu? Batu? Es? Sehingga kau tak pernah memikirkan lawan bicaramu.” Ucap Jihan dengan tak kuasanya ia menjatuhkan air matanya yang sudah sangat basah. Ruang matanya tak mampu lagi menampung butiran-butiran air yang memberontak ingin membasahi kedua pipi Jihan.


“Jangan menangis. Semenjak kepergian ayahku aku paling tidak suka melihat wanita menangis di hadapanku.” Ucap Rendy.


Jihan terkejut Rendy mengetahui dirinya menangis. Tubunya membelakanginya. Bagaimana bisa mengetahui jika ia sedang menangis.


“Sudah kukatakan kepadamu berulang kali Rendy Sudibjo. Aku adalah orang yang sangat menghargai suatu proses. Saat ini aku sedang beristirahat sejenak. Tolong biarkan aku menyapu sampah-sampah yang sudah memenuhi ruang hatiku. Aku menginginkan hatiku bersih dari debu-debu yang hinggap dan membuat dadaku terasa sesak.” Ucap Jihan.


Tak tahan dengan cuitan yang keluar dari bibir mungil Jihan, Rendypun berbalik arah dan menghampiri Jihan.


“Kau tahu aku sedang menahan diriku sendiri saat ini untuk tak memelukmu.” Ucap Rendy dengan suara beratnya dan tubuhnya yang gemetar.


Ditengah-tengah keputusasannya Jihan seketika terperanjat dengan perkataan Rendy. Dengan air mata yang masih membasahi kedua pipinya dengan derasnya Jihan terus menatapi Rendy.


“Kau menahannya?’’ Tanya Jihan.


Rendy kembali mengangguk sebagai tanda jawaban. Kedua tangannya mengepal.


“Apa itu sulit?’’ Tanya Jihan kembali.


“Tidak mudah dan sangat sulit.” Jawab Rendy.


“Kau merasakannya? (perpaduan rasa cinta, sayang, rindu, takut kehilangan, cemas)” Tanya Jihan.


“Sejak kali pertama kita bertemu.” Ucap Rendy.


“Kau penipu handal.” Ucap Jihan masih tak percaya.


“Sudah kukatakan aku paling membenci wanita menangis di hadapanku. Seakan-akan aku ini pria yang sangat konyol.” Ucap Rendy.


“Kau masih saja mengunggulkan keangkuhanmu. Bahkan dihadapanku.” Ucap Jihan.


Rendy seketika hanya terdiam. Ia kembali membalikkan badannya. Kini Rendy benar-benar duduk di meja kerjanya. Ia fokus menatap layar komputer di hadapannya. Tanpa bersua kembali dengan Jihan dan nampak mengacuhkan keadaan Jihan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2