Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Sebuah Pelukan Hangat


__ADS_3

Jihan tak mau kalah dengan Rendy. Ia menuju ke toilet wanita. Di depan wastafel ia membasuh wajahnya yang sudah tak karuan. Awas kau Rendy. Kita lihat saja sejauh mana kemampuanmu mengulur-ulur waktu. Gumam Jihan.


Drrtt


Drrtt


Drrtt


“Hallo Mah. Sedang rindu? Bagaimana dengan Papah? Tidak ada kabar burukkan?” Tanya Jihan setelah mengangkat telepon dari Mamahnya.


“Bukan berita buruk tapi bukan berarti juga berita baik. Papah masih koma. Entah sampai kapan. Kau merindukan sosok Papahmu Ji?” Tanya Roshinta.


“Ehhmm. Sudah pasti Mah. Jihan selalu menunggku keajaiban itu datang. Waktu kita tinggal dua minggu lagi Mah. Itu yang akan menentukan lima tahun mendatang.” Ucap Jihan. Belum selesai dengan Rendy ia dihadapkan dengan masalah keluarga dan perusahaan.


“Jihan. Mamah percayakan semuanya kepadamu. Jangan telat makan. Kau mengerti?” Tanya Roshinta.


“Iya Mah. Always take care. Bye. Mmuuacchh.  Mom, I want you hug me now. I miss you so much Mom. I am tired. I want you in my day and in my sadness. Iam confused. Im lost my direction.” Ucap Jihan yang tak kuasa menahan air matanya keluar membasahi kedua pipinya. Ia sudah tak peduli lagi orang lain melihatnya.


Di seberang benua sana Roshinta mengerti akan keadaan putri semata wayangnya itu. Ia juga menangis merasa ujian hidup yang ia terima begitulah berat.


“Jihan are you okay? I know you are a very great an competent girl. That’s why you were born from my womb. I am very proud to have a daughter like you. You can it Jihan.” Ucap Roshinta memberikan semangat kepada Jihan.


Tangisan Jihan justru semakin terisak. Air mata yang selama ini ia pendam, kini ia tak mampu menahan bendungan air itu. Dalam satu waktu ia tumpahkan seluruh hasrat isi hatinya.


Roshinta yang tak tahan mendengar tangisan Jihan, dengan sengaja ia mematikan panggilannya. Ia pun juga menangis terisak di samping tubuh suaminya yang masih belum sadarkan diri. Roshinta menangis sembari memegang erat tangan suaminya.


Segeralah kembali Sayang. Kasian Jihan. Ia berjuang sendirian di sana. Sementara kita tak bisa berbuat apa-apa. Gumam Roshinta.


 


“Jihan.” Ucap Claudya dengan halus. Lalu ia membawa Jihan ke ruang istirahat wanita.


“Butuh pelukan hangat?” Tanya Claudya sesampainya mereka di ruang istirahat. Tanpa jawaban Jihan pun langsung memeluk erat Claudya. Saat ini yang ia butuhkan bukan lagi kata-kata semangat atau pujian melainkan sebuah pelukan yang hangat.

__ADS_1


Claudya hanya bisa mengusap punggung Jihan dengan perlahan. Ia kira selama ini anak yang memiliki orang tua hidupnya tak akan menemukan kesulitan, namun rupanya kehidupan tetaplah kehidupan mau kita memiliki banyak harta kita pasti akan menemukan sebuah rintangan sesuai porsinya masing-masing.


Setelah dirasa cukup ia memeluk Claudya, Jihan melepaskan pelukannya. “Thanks ya Clau.” Ucap Jihan lirih. Ia seperti sudah kehabisan energy.


“Bohong jika aku bertanya apa kau baik-baik saja dan juga kau menjawabnya aku baik saja-saja. Jus orange?” Tanya Claudya.


Jihan seketika tersenyum bahagia ia bersyukur Claudya hadir di kehidupannya, Jihan sudah menganggap Claudya sebagai saudarinya sendiri. Jihan hanya mengangguk.


“Tunggu sebentar. Pastikan kau tidak kabur. Akan susah payah aku mencarimu nanti.” Ucap Claudya coba menghibur Jihan.


Dengan kehadiran Claudya ia berpikir jika setiap rintangan, cobaan, ujian dalam hidup meski kita sangat membencinya akan ada hal baik yang menyertainya. Salah satunya Claudya.


Ia sangat bersyukur jika selama ini ia tak memiliki saudara, namun dengan adanya Claudya sisi kosong dalam hidupnya telah terisi.


Haruskah aku membujuk Mamah dan Papah untuk mengadopsi Claudya sebagai adikku. Sayangnya dia bukanlah seorang bayi lagi. Gumam Jihan,


“Kau sudah bisa tertawa? Perasaan Cuma butuh waktu 10 menit aku membawakanmu jus orange.” Ucap Claudya.


“Eiiittsss. Tidak bisa, tidak mungkin dan mustahil. Seorang Claudya Handoko tidak pernah mau dan tidak pernah sudi menjadi adik dari Jihan Pratama yang super double ini. Udah dulu ah, sebentar lagi aku mau ke kampus. Bye Jihan. Cerita setelah nyaman ya.” Ucap Claudya lalu meninggalkan Jihan sendiri di ruang istirahat wanita.


Hoammmm. Menangis ternyata juga bisa membuat seseorang mengantuk dan ingin tidur. Tidurdulu deh 15 menit saja. Gumam Jihan.


 


***


“Nggak sarapan dulu Ren?” Tanya Bu Laras.


“Nanti saja di kantin Bu. Udah telat ini Rendy.” Ucap Rendy tergesa-gesa.                       


“Anak sekarang memang susah sekali untuk makan, beda dengan masa dulu. Sebaliknya untuk makan mereka mengalami kesusaha.” Monolog Bu Laras.


“Rendy kerja dulu ya Bu. Dah. Hati-hati di rumah.” Pamit Rendy.

__ADS_1


“Ibulah yang seharusnya mengucapkan itu.” Ucap Bu Laras dibarengi dengan tawa kecilnya. Bagi seorang ibu seberapa besar atau dewasanya anak-anak mereka, dimatanya anak-anak itu akan terlihat sebagai anak kecil.


 


“Kau tidak sarapan Mario? Kau harus banyak makan agar tetap selalu di sampingku dan terus menjagaku.” Ucap Jihan.


Mendengar itu Mario terkejut sekaligus senang. Ia tak mengira Jihan akan mengatakan hal seperti itu.


Tanpa balasan Mario mengambil roti panggangnya dan langsung lahap memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya.


“Hati-hati Mario. Kau bisa tersedak.” Ucap Claudya.


Claudya tahu Mario tertarik dengan Jihan. Itulah sebabnya ia bisa merasakan Mario salah tingkah dengan ucapan Jihan.


Andai Mario juga tahu, bahwa Claudya juga menyukai dirinya.


Tinggal seminggu lagi acara rapat pimpinan direksi di gelar. Jihan melawan Michael memperebutkan posisi Direktur Utama.


“Kau yakin Ji akan menang menghadapi serangan licik Pak Michael?” Tanya Claudya.


“Entahlah Clau. Aku juga bingung. Kadang semangatku menyala namun kadang juga padam. Saat ini yang ku lakukan hanya bisa berdoa, segala upaya telah aku lakukan. Aku hanya bisa pasrah.” Ucap Jihan.


“Kau tau Ji. Hukum karma di dunia ini. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita panen. Aku percaya kebaikan-kebaikan yang kau tabur akan memberikan dampak positif kedepannya. Tak peduli itu soal jabatan karena bisa saja datang dalam bentuk hal lain seperti kesehatan atau rejeki yang lain.” Ucap Claudya.


“Ciye. Udah jadi penasehat aja. Iya-iya BU Claudya terimakasih banyak atas wejangan Anda di pagi hari ini.” Ucap Jihan yang gemas dengan sikap Claudya.


“Jangan salah sangka dulu aku begini ada maksudnya. Nanti jabatanku pasti juga ikutan naik. Kamu kan jadi Direktur Utama. Nanti aku jadi Assisten Direktur Utama. Wuih aku sendiri aja nggak bisa membayangkan betapa kerennya jabatan itu.” Ucap Claudya mengkhayal.


“Iya-iya. Puas-puasin mengkhayalnya.” Ucap Jihan sembari melirik kearah Bu Darmi.


“Tapi aku udah memperingatkan kamu di awal-awal ya. Aku nggak bisa menjanjikan kamu menjadi bagian Pratama Foods Group. Tapi sudah pasti kamu menjadi asisten pribadiku Clau. Karena kita semua harus patuh akan peraturan perusahaan. Selama ini kamu dan Mario bekerja atas nama pribadi bukan merupakan bagian Pratama Foods Group. Berbeda dengan Rendy, kalau Rendy benar-benar menjadi karyawan PFG dan sudah melakukan teken kontrak.” Jelas Jihan panjang lebar.


“Tak masalah bagiku Ji, fokusku sekarang aku bisa berbalas budi dengan keluarga Pak Abdi Pratama. Itu sudah lebih dari cukup.” Ucap Claudya meski rasa kecewa menghiasi wajahnya ia tetap legowo.

__ADS_1


__ADS_2