
Sebuah mobil lain tiba di panti asuhan. Rupanya itu mobil Paman Joe. Segera ia masuk ke dalam panti dan mencari keberadaan Jihan.
“Jihan. Paman ada perlu sebentar sama kamu.” Ucap Paman Joe.
“Ada apa Paman?.” Tanya Jihan.
“Paman harus segera kembali ke New York Ji. Ada sedikit masalah di kantor cabang.” Ucap Paman Joe.
“Sekarang?.” Tanya Jihan.
“Iya Paman sudah memesan tiketnya. Kamu hati-hati disini selalu ingat pesan Paman.” Ucap Paman Joe sembari menepuk bahu Jihan dan berpamitan kepada semua orang.
Sementara Rendy pun juga meninggalkan panti. Hingga acara makan bersama anak-anak panti telah selesai, Jihan pun berpamitan pulang. Tak lupa ia memberikan amplop berisikan uang untuk keperluan panti.
“Terimakasih ya Jihan. Setiap hari kami selalu mendoakan kesembuhan Tuan Abdi Pratama. Kami juga rindu sosok hangat Tuan Abdi.” Ucap Bunda Ratih yang meneteskan air matanya kala teringat Abdi Pratama yang belum juga sadarkan diri.
“Terimakasih Bunda dan semuanya. Jihan pamit dulu ya.” Ucap Jihan dibarengi dengan Mario, Claudya dan Bu Darmi.
***
Senin. Hidup ini penuh dengan kebahagiaan. Perhatikan itu. Perhatikan lebah, anak kecil, dan wajah-wajah tersenyum. Menghirup aroma hujan dan merasakan angin. Jalani hidupmu dengan potensi penuh dan perjuangkan impianmu (Ashley Smith)
Begitulah gambaran kalimat bijak daei Ashley Smith yang Rendy selalu ingat.
Tekad bulatnya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri selalu dalam pikiran dan bayangannya.
Tinggal 250 juta lagi utang yang harus ku bayar. Astaga. Pening sekali memikirkan uang sebanyak itu. Gumam Rendy saat mengendarai sepeda motornya menuju ke tempat kerja.
Meski pagi hari bumi sudah basah oleh ribuan tetes air hujam tak mematahkan semangat berjuang Rendy. Andai saja dulu Ayahnya tak memakai nama ibunya sebagai jaminam hutang bank yang ayahnya gunakan untuk kelangsungan usaha bakerynya, mungkin Rendy tak akan semenderita ini.
Di sisi lain di sebuah mobil Mitsubishi X.pander 1.5 Sport Jihan beserta Claudya dan Mario berada menuju ke arah Pratama Foods Gruop.
“Jihan. Apa selama ini kamu tidak menaruh curiga dengan gerak-gerik Pak Michael?.” Tanya Claudya.
“Hanya sedikit.” Ucap Jihan.
“Kau tahu Clau? Aku paling tidak suka dengan seorang pengkhianat. Apapun itu alasannya. Aku akan lebih memaafkan seorang pencuri daripada seorang PENGKHIANAT.” Ucap Jihan dengan nada serius.
Mario menelan salivanya dengan kasar. Perkataan Jihan nampak seperti ditujukan kepadanya. Meski Jihan tak langsung mengarahkan perkataannya kepada Mario.
“Ji. Mengapa nada bicaramu semenakutkan itu? Aku jadi takut.” Ucap Claudya.
__ADS_1
Jihan. Andai kau tahu alasannya aku juga pasti tak akan pernah mengkhianatimu. Ini semua kulakukan demi nyawa adikku. Kimora. Gumam Mario.
“Benarkah?” Tanya Jihan tersenyum.
“Mario? Apa kau punya kekasih?.” Ucap Claudya tiba-tiba.
“Tidak.” Jawab Mario.
“Lelaki sepertimu mana ada yang mau mendekati. Terkecuali kau lah yang mendekati wanita. Jangan terlalu kaku. Nanti tak laku. Baru tahu rasa kau.” Ucap Claudya dengan seperti biasanya selalu bercanda di setiap waktu.
“Aku tak ada waktu memikirkan hal seperti itu. Bagiku saat ini yang terpenting adalah keselamatan Kimora.” Ucap Mario.
“Kimora? Who is?.” Tanya Jihan.
“Dia adiknya Mario. Kimora sedang di rawat di rumah sakit karena suatu penyakit keturunan. Ibunya Mario meninggal sesaat setelah melahirkan Kimora.” Ucap Claudya menjelaskan.
“Clau. Aku tanya sama Mario. Kok kamu yang malah menjawab. Mau pindah kerja kamu.?” Tanya Jihan kesal.
Claudya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. “Apa yang dikatakam Claudya memang benar Jihan.” Imbuh Mario. “Boleh lain kali aku bertemu dengan Kimora?.” Tanya Jihan.
“Dengan senang hati.” Jawab Mario.
Tak terasa mobio mereka sudah sampai di kantor. Jihan tak sengaja tak memakai sopir keluarganya. Ia lebih memilih Mario yang menjadi sopir sekaligus pengawal pribadinya.
Saat memasuki ruang loby, Jihan di sapa resepsionis.
“Dari?” Tanya Jihan penasaran.
“Entah Nona. Tapi ada ada sepucuk kertas di dalamnya.” Jawab Resepsionis.
“Oke. Terimakasih.” Ucap Jihan.
“Wah hari senin yang indah. Pagi-pagi udah dapat kiriman bunga aja. Ciye.” Ledek Claudya.
Jihanpun hanya tersenyum tersipu malu. Sementara Mario merasakan rasa sesak didadanya. Namun ia tahan.
Begitupun Rendy yang juga mendengar percakapan antara resepsionis dan Jihan. Rasa cemburupun tak terhindarkan.
Segeram mereka menunggu antrian lift terbuka. Ting. Pintu lift terbuka dan merekapun segera masuk lift.
Hanya ada empat orang. Jihan, Claudya , Mario serta Rendy yang menyusul belakangan.
“Selamat pagi Pak Rendy.” Sapa Claudya.
“Hmmmm”. Rendy membalas dengan sebuah deheman.
__ADS_1
Aneh waktu di panti Pak Rendy sangat ramah tapi kenapa di kantor jadi cuek bebek gitu. Gumam Claudya.
Ting. Mereka telah sampai di lantai tempat dimana divisi markerting berada.
“Jihan bisa kita bicara sebentar.” Ucap Rendy.
“Oke. Dengan senang hati.” Jawab Jihan.
“Sampai kapan kau terus berada di divisiku?”. Tanya Rendy to the point.
“Sampai rapat pimpinan direksi di gelar. Dan aku memenangkannya.” Ucap Jihan santai.
“Kau kan bisa belajar di divisi lainnya. Mengapa harus di divisi marketing sih.” Kesal Rendy.
“Ya karena bagiku Marketing adalah ujung tombak suatu perusahaan.” Jawab enteng Jihan.
“Huft. Kau mau menolongku.?” Tanya Rendy.
Jihan menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
“Aku sibuk”. Bisik Jihan tepat di telinga Rendy. Seketika tubuh Rendy merinding. Jihanpun lalu beranjak ke mejanya. Sementara Mario menunggu di luar ruangan. Dan Claudya tengah asyik berbincang dengan staff marketing lainnya.
Jihan seketika melirik Rendy. Ia melihat Rendy begitu terkejutnya atas sikapnya. Astaga apa yang sudah ku lakukan. Bodohnya aku ini. Umpat Jihan mengutuk dirinya sendiri.
Jihan. Inilah alasanku untuk mengusirmu dari divisiku. Semakin lama aku melihatmu semakin aku tak bisa mengendalikan diriku. Gumam Rendy. Ia lalu duduk di kursinya. Ia menatap layar komputer yang masih belum menyala.
Jihanpun merapikan bunga yang ia dapatkan dari seseorang. Setelah membaca sepucuk kertas ia barulah tahu pengirim bunga tersebut. Reyhan. Rupanya laki-laki itu terobsesi dengan dirinya. Jihanpun mengambil ponselnya dan mencari nama Reyhan di telegramnya segera ia menulis ucapan terimakasihnya.
send. Isi pesan Jihan kepada Reyhan.
Disisi bangunan lain di sebuah ruangan yang sangat menawan. Reyhan tersenyum saat membaca telegramnya. Jihan mengucapkan rasa terimkasih atas bunga pemberiannya.
balas Reyhan
balas Jihan
balas Reyhan
balas Jihan
Balas Reyhan.
balas Jihan.
__ADS_1
Reyhan pun tersenyum puas.