
***
"Kau sudah makan Jihan?" Tanya Claudya
Jihan hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kok lesu gitu sih? Mikirin rapat final ya?" Ucap Claudya
Jihan kembali menggelengkan kepala.
"Hai Nona Jihan. Anda itu kenapa sih? Di tanya jawabannya geleng-geleng kepala terus." Ucap Claudya
"Nanti malam aku di ajak makan malam." Ucap Jihan
"Serius? Sama siapa kasih tahu lah." Rengek Claudya sembari menggoyangkan bahu Jihan.
"Aow sakit Clau. Kayak guncang pohon rambutan aja kamu. Nih ya kalau aku kasih tahu kamu aku jamin kamu bakalan shock, terkejut, excited, bingung dan pastinya nggak habis pikir." Ucap Jihan
"Siapa sih bikin orang penasaran aja. Jangan gitu dong." Ucap Claudya.
"Rendy." Ucap Jihan
"Sudah bisa di tebak." Ucap Claudya sembari menatap komputer di depan Jihan.
"Dan anehnya lagi nggak cuman Rendy saja." Ucap Jihan
"Whats? Siapa lagi." Tanya Claudya mulai penasaran.
"Mario." Ucap Jihan menahan rasa malunya terhadap Claudya.
"Oh my God. Bagaikan primadona di perebutkan pangeran saja kamu Ji " Ucap Claudya
Sebenarnya dalam hati kecilnya ia merasa iri terhadap Jihan. Pria yang ia sukai rupanya lebih menyukai Jihan daripada dirinya. Bahkan Mario sama sekali belum pernah mengajaknya makan berdua.
"Mario bukannya udah resign ya." Ucap Claudya
"Iya. Nanti malam pembukaan kafe nya. Dia membuka kafe bersama temannya. Dan grand openingnya dia mengundangku." Ucap Jihan menjelaskan.
"Terus kalau Rendy?" Tanya Claudya.
"Dia mau mengajakku untuk mencoba makanan sebagai bahan riset produk terbaru perusahaan. Dulu kita sempat mencoba makanan seblak. Dan aku sangat menyukainya. Entah mengapa kali ini dia ingin mengajakku lagi. Entah makanan apa lagi aku sendiri juga tidak tahu." Ucap Jihan
__ADS_1
"Wah. Bingung juga ya. Mau pilih makan sama siapa. Mario atau Rendy. Rendy atau Mario." Ucap Claudya sembari menepuk jidatnya sendiri.
"Cariin solusinya dong. Kalau aku memilih ke kafe nya Mario aku takut menyinggung perasaan Rendy. Begitu juga sebaliknya kalau aku memilih makan bersama Rendy, nanti Mario yang tersinggung. Dilema oh dilema nya hatiku." Ucap Claudya
"Sebentar. Fokus tenang. Fokus tenang. Fokus tenang. Pasti ada solusi di setiap masalah. Jangan panik. Jangan panik. Keep calm. Keep calm." Ucap Claudya yang justru seperti seorang guru menuntun anak didiknya.
"Apaan sih Clau. Nggak gitu juga kali. Bukannya bisa nemuin jalan keluar malah banyak ngomongnya." Gerutu Jihan.
"Ya terus gimana dong. Buntu nih." Ucap Claudya.
"Please help me somebody.!" Ucap Jihan.
"Aha. Aku punya ide. Gimana kalau kalian bertiga aja makan malam nya. Adilkan. Dengan begitu nggak ada pihak yang tersakiti perasaannya." Ucap Claudya
"Iya sih tapi kan masing-masing punya tujuan sendiri-sendiri. Tujuannya berbeda nggak sama. Si Rendy kan niatnya buat riset kalau Mario kan grand opening kafenya. Gimana sih kamu Clau. Malah tambah ribet aja saran dari kamu." Ucap Jihan
"Yey. Nggak di bantuin salah di bantuin pasti salah lagi." Ucap Claudya kesal.
"Kan kamu ini orang yang sangat cerdas. Makanya aku pasrahin deh ke kamu ngasih solusi terbaik dari yang terbaik." Ucap Jihan
"Ehhmm wait wait." Ucap Claudya sembari memegang keningnya. Menandakan ia sedang berpikir keras.
"Aha. Gimana kalau kamu mendingan nggak usah nerima ajakan kedua-duanya. Itu lebih adil dong." Ucap Claudya.
"Yaampun ini sih lebih sulit dari ujian mata kuliahku namanya. Duh Ji ribet banget sih jadi kamu. Untung aku dibayar jadi asisten pribadi kamu. Kalau nggak mana mau aku ikit mikir hal sesusah ini."Ucap Claudya.
"Alasannya gimana kalau mau makan malan bersama Claudya." Ucap Claudya
"Claudya Handoko. Awas kau ya." Maki Jihan.
"Ya terus gimana dong. Tau ah gelap. Bye. Pikir aja sendiri." Ucap Claudya marah lalu meninggalkan Jihan sendirian di kamarnya.
"Benar juga ya apa kata Claudya. Mendingan makannya bareng bertiga aja." Monolog Jihan.
Isi pesan Jihan kepada Rendy
Balas Rendy
Matilah aku. Terus gimana dong ini. Gumam Jihan dalam hati.
Balas Jihan
__ADS_1
Disisi lain Rendy yang mengetahui Jihan juga di undang untuk makan malam di kafe nya Mario ia merasa kesal. Kenapa juga momennya bisa barengan gini. Kayak nggak ada lain hari aja sih. Gumam Rendy dalam hati.
Balas Rendy
Yah kenapa rasanya jadi kayak di putusin gini sih. Gumam Jihan dalam hati.
balas Jihan
Balas Rendy
Meski kekecewaan melanda Rendy ia harus tetap menerima. Biar bagaimanapun ia tak bisa memaksakan kehendaknya kepada Jihan.
Setelah ia berpikir keras akhirnya ia berusaha untuk tetap bertemu dengan Jihan malam ini.
Isi pesan Rendy
Balas Jihan
Ia pun langsung memberikan alamat kafe Mario.
Di sebuah kafe bertuliskan Kafe Sayang. Mario bersama temannya Dirga tengah sibuk menyiapkan kafenya.
Drrtt
Drrrr
Drrtt
Sebuah panggilan di layar ponselnya tertera nama pak Michael namun Mario enggan untuk menjawabnya.
Iya lebih memilih menyibukkan diri di cafenya daripada mengangkat telepon dari orang yang akhir-akhir ini baru ia ketahui bahwa dia adalah Ayah kandungnya yang telah menelantarkannya bersama adiknya waktu dulu.
Masih tersisa perasaan sedih kecewa marah dalam hatinya setiap kali mengingat nama Michael yang mana Mario sendiri ketahui bahwa nama Michael adalah nama pengganti ayahnya dulu bernama Yosua Edward.
Ingin rasanya ia menumpahkan segala amarah emosi kekecewaan yang selama ini ia pendam berpuluh-puluh tahun kepada orang yang tidak sepantasnya disebut sebagai seorang ayah.
"Dari tadi ponselmu bergetar terus Mario. Apa kau tidak ingin menjawab panggilan itu?" Tanya Dirga.
"Menyiapkan Grand Opening untuk Cafe ini adalah hal yang paling penting daripada menjawab panggilan telepon darinya." ujar Mario.
"Oke Bung semoga malam ini acara kita sukses dan kedepannya banyak para pengunjung yang mampir ke cafe kita. Aku berharap ini akan menjadi titik awal yang bagus untuk usaha kita." Ucap Dirga
__ADS_1
"Oh ya sebelumnya aku minta maaf aku diam-diam mengundang salah satu temanku di tempat kerja dulu nggak papa kan.?" Tanya Mario
"Yaelah kayak ama siapa aja sih bro ya nggak papa lah usaha ini kan tempat kita berdua. Jadi lo mau ngundang temen lu ya silakan gue ngundang temen gue juga sama nggak papa. Santai aja lah Bro." Ucap Dirga