
"Clau aku duluan ya. Bye." Ucap Jihan kepada Claudya.
Kali ini ia di temani Pak Joko sopir pribadinya menuju Cafe tempat di mana Mario membuka usahanya.
Di dalam perjalananJihan sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya bimbang.
Drrtt
Drrtt
Drrtt
Nama Reyhan muncul di dalam layar ponselnya. Ia lalu menjawab panggilan itu.
"Hallo Rey. Ada apa?" Tanya Jihan
"Ada apa? Kesannya aku menganggu waktumu saja. Benarkah itu?" Ucap Reyhan sedikit kecewa dengan pembukaan percakapan yang Jihan ucapkan.
" Oh maksud aku bukan begitu. Ada apa malam-malam kamu menelpon ku. Itu saja." Ucap Jihan mencoba menjelaskan
"Kamu sedang apa? Ada acara malam ini? Aku mau mengajak kamu makan malam di luar. Are yoe ready? Harusnya sih kamu bisa. Berulang kali aku selalu mengajakmu makan di luar tapi lagi-lagi kau menolal ajakanku." Ucap Reyhan.
"Bukan begitu Rehan maksud aku tuh bukan nggak mau ketemu sama kamu emang waktuku lagi sibuk aja. Bukannya aku menolak ajakan makan malam kamu." Ucap Jihan
Ia merasa ilfil terhadap perlakuan Reyhan belum jadi apa-apa aja udah menuntut seperti itu apalagi kalau hubungan yang lebih jauh lagi. Gumam Jihan dalam hati.
"Terus Malam ini kamu mau alasan apalagi Jihan aku udah berulang kali ngajak kamu makan malam lho kali ini kamu mau menolak aku lagi." Ucap Reyhan dengan nada yang mulai marah.
"What's wrong Reyhan ada apa dengan kamu kenapa kamu malah jadi marah-marah gitu sama aku. Aku lagi sibuk. Bye." Ucap Jihan lale memutus pembicaraannya di telepon.
Aneh banget sih Reyhan belum jadi apa-apa udah kayak gitu posesif banget males aku sama dia jadinya. Gumam Jihan dalam hati.
"Ini benar alamatnya di ruko cendana Nona Jihan sesuai di aplikasi?" Tanya Pak Joko
"Iya Pak Benar nanti kalau nggak salah namanya Cafe Sayang apa kafe cinta gitu deh pokoknya nanti kalau ada Mario di situ berarti emang itu cafenya." Ucap Jihan
"Baik Nona." Balas Pak Joko
Akhirnya Jihan sampai di kafe.
"Hai Ji." Sapa Mario
__ADS_1
"Hai Mario. Apa kabar?" Ucap Jihan.
"Baik. Pak Joko nggak mau masuk sekalian?" Tanya Mario.
"Enggak. Dia cuma nganterin aja kok. Kebetulan ada saudaranya deket di sini mau mampir dulu katanya." Ucap Jihan.
"Hai. Gue Dirga. Temennya Mario." Sapa Dirga
"Hai. Aku Jihan." Ucap Jihan.
"Jihan? Nama yang sangat cantik. Silahkan duduk." Ucap Dirga
Mario merasa sikap Dirga kepada Jihan justru berlebihan ia merasa Dirga menaruh hati kepada Jihan. Gumam Mario dalam hati.
"Ehm Mario. Im so sorry sebelumnya. Aku mengajak Rendy juga datang kesini. Nggak papa kan?" Ucap Jihan.
"Nggak papa dong. Kita kan teman." Ucap Rendy tiba-tiba menyaut perkataan Jihan.
Mario pun terkejut dengan kedatangan Rendy. Ia merasa malam ini bukan malam yang tepat untuk menyatakan cintanya kepada Jihan. Padahal sudah seminggu lebih ia menyiapkan segala sesuatunya.
Dan malam ini adalah malam yang tepat.
"Okey. Ini nggak ada orang yang nongol lagi selain Rendy? Claudya, Bu Darmi, Paman Joe?" Ucap Mario.
Jihan hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Okey. Silahkan duduk. Tamu adalah raja." Ucap Dirga.
"Sorry bangey Ji. Karena suatu hal pembukaannya barusan kelar. Jadi kamu nggak bisa lihat pembukaannya." Ucap Mario.
"Its okey. No problem. Aku bisa menyempatkan diri ke sini aja udah bersyukur banget." Ucap Jihan.
"Mau mesen apa?" Tanya Dirga
"Ehm menu yang paling spesial disini." Ucap Rendy.
"Kita punya menu Mocha Java. Perpaduan antara kopi Yaman dan Jawa. Aku yakin kalian bakal suka banget sama kopi ini oh ya ada juga roti bakarnya yang super yummy. Di tunggu ya." Ucap Dirga sembari mencuri pandang ke arah Jihan.
Mario melihat kelakuan Dirga yang semakin menjadi. Dia dengam berani mencuri pandang ke arah Jihan.
Mario pun bergegas mendekati Dirga ditempat pembuatan kopi.
__ADS_1
"Dirga gue mau ngomong sebentar sama lu. Jadi sebenarnya itu..." Ucap Mario terpotong.
"Gila. Asli. Parah. Tuh cewek cantiknya nggak ketolong sumpah. Bisa kenal dari mana sih kamu Bro. Bilang-bilang dong kalau ada temen cantik secantik Jihan. Bisa-bisa malam ini Gue nggak bisa tidur lagi mbayangin wajah cantiknya dia terus." Ucap Dirga
Ingin rasanya Mario mengepalkan tangannya dan meninju pipi Dirga. Namun itu hanyalah sebuah khayalan. Ia tahu diri dan situasi.
"Buruan kerjain menu pesenannya. Nggak usah banyak ngomong." Ucap ketus Mario. Ia memilih menghampiri Jihan dan Rendy.
Tak rela rasanya jika membiarkan Jihan dan Rendy hanya berduaan saja di kafenya.
"Ji. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."Ucap Rendy
"Oke. Silahkan. Mau ngomong apa? Nggak usah terlalu formal gitu lah. Santai aja. Kayak ama siapa aja sih." Ucap Jihan
"Ehm jadi gini Ji sebenarnya aku tuh..." Ucap Rendy terpotong
"Seru banget ngobrolnya. Ngomongin apa an sih." Ucap Mario.
Belum juga mau ngomong udah kamu potong duluan. Gumam Rendy dalam hati yang merasa kesal atas sikap Mario.
Rendy juga berniat ingin menyatakan cintanya kepada Jihan.
"Ah iya. Gimana sekarang setelah keluar dari jeratanku Mario." Tanya Jihan basa basi.
"Bukan jeratanmu yang ku hindari Jihan. You know lah siapa ayah kandungku. Aku hanya mencoba menghindari dia saja bukan kamu." Jawab Mario.
"Bukannya masalah itu di hadapi ya bukan justru di hindari." Ucap Rendy
"Kau tak tahu letak permasalahannya jadi jangan berkomentar yang tidak kamu tahu." Ucap Mario.
"Hey Bung santai saja lah. Aku juga punya masalah setiap orang juga punya." Ucap Rendy
"Ya kau memang benar. Tapi juga nggak sepantasnya kamu mengomentari setiap masalah orang lain hanya karena kamu juga punya masalah. Kecuali masalah yang kamu hadapi itu sama persis dengan apa yang aku alami." Ucap Mario kesal.
Entah mengapa dirinya sangat kesal sekali terhadap Rendi dan juga Dirga pada malam hari ini. Mario merasa bahwa Dirga dan Rendy mengacaukan rencana malam ini yang sudah sangat lama ia nanti-nantikan untuk menyatakan cinta kepada Jihan.
Enyahlah kalian berdua di hadapanku sekarang Aku hanya ingin berdua bersama Jihan. Aku ingin sekali menyatakan perasaan yang selama ini aku pendam kepada Jihan. Tuhan tolong aku kali ini saja aku ingin menyatakan perasaan yang selama ini aku pendam. Kesempatan yang datang kepadaku saat ini adalah kesempatan yang selalu kunantikan sepanjang waktu aku tidak ingin menyia-nyiakannya. Gumam Mario dalam hati.
"Sudah-sudah kenapa jadi ribut gini sih " Protes Jihan.
"Setiap manusia itu pasti memiliki masalahnya masing-masing kita harus bisa menghadapinya. Apa yang dikatakan Rendy itu memang benar Mario masalah itu kalau bisa jangan kita hindari tapi kita harus mencoba untuk menghadapi."Ucap Jihan
__ADS_1