
Sementara di sisi lain Jihan yang sedang kesal dengan sikap yang Rendy tunjukkan kepadanya memutuskan untuk tak berbicara kembali kepada Rendy.
"Claudya tolong beritahu dia kalau aku akan segera pindah divisi lain." Ucap Jihan kepada Claudya.
"Dia? Hanya ada aku sama Pak Rendy? Berati dia itu Pak Rendy?" Tanya Claudya .
"Mulai besok pagi kita sudah tak datang lagi kesini." Ucap Jihan.
"Loh kenapa? Kok mendadak?" Tanya Claudya.
"Turuti saja perintahku." Ucap Jihan.
***
Keesokan harinya Jihan dan Claudya membereskan barang-barangnya dari divisi Marketing.
"Jihan dari kemarin aku tuh bingung sebenarnya kita mau pindah kemana si?" Bisik Claudya.
"Jangan berisik Clau. Ikuti aku saja nanti." Ucap Jihan.
Rendy yang baru datang ke kantor pun terkejut melihat Jihan dan Claudya sedang membereskan barang-barangnya. Namun lagi-lagi gengsi dan ego mengalahkan semuanya.
Rendy enggan menanyakan kemana Jihan akan pergi. Meski hatinya memberontak ingin bertanya namun bibir dan lidahnya terasa kaku untuk berbicara kepada Jihan.
__ADS_1
Sementara Jihan yang mengetahui kedatangan Rendy sama sekali tak menyambut kedatangan Rendy. Ia lebih memilih untuk fokus mengemasi barang-barangnya daripada meladeni Rendy yang masih bersikap dingin kepadanya.
"Sudah semua Clau?" Tanya Jihan.
"Sudah Ji." Jawab Claudya.
"Ikuti aku." Ucap Jihan.
Claudya pun menuruti perintah Jihan. Mereka berdua kompak meninggalkan Rendy sendirian di ruangannya.
"Ya!" Teriak Rendy.
Seketika Jihan dan Claudya saat akan keluar dari pintu ruangan Manager Marketing menghentikan langkah kakinya.
"Aku tahu perusahaan ini adalah perusahaanmu. Aku juga tahu kau adalah atasanku. Tapi setidaknya kau datang ke divisi ini secara baik-baik, permisi. Apa pantas kau meninggalkan divisi ini tanpa pamitan?" Tanya Rendy.
"Ya aku memang anak pemilik perusahaan ini. Wajar dong kalau aku semena-mena. Seharusnya kau tidak mempermasalahkannya." Ucap Jihan.
"Oh ya begini kah caramu memperlakukan seseorang? Ternyata aku baru mengetahui sifat aslimu." Ucap Rendy.
"Terus kenapa? Mau marah? Kecewa? Kesal? Silahkan. Aku Jihan Pratama sama sekali tidak mempermasalahkannya." Ucap Jihan.
"Bukan masalah marah, kecewa, kesal. Tapi attitude dari seseorang yang harus di bentuk." Ucap Rendy.
__ADS_1
"Hey kau tak perlu repot-repot untuk mengajarkanku tentang attitude." Ucap Jihan.
"Baiklah. Silahkan. Aku persilahkan Anda keluar dari divisi Marketing." Ucap Rendy.
"Ya memang aku mau keluar tanpa kamu usir pun." Ucap Jihan.
"Usir? Aku mengusirmu? Kau saja yang duluan untuk keluar dari divisi ini. Kau memfitnahku?" Ucap Rendy.
"Hey siapa juga yang memfitnahmu." Ucap Jihan.
"Diiaaammmmmm!!!!!." Teriak Claudya.
Seketika Jihan dan Rendy pun terkejut mendengar teriakan dari Claudya. Tak hanya Jihan dan Claudya yang mendengar teriakan Claudya tetapi karyawan lain pun juga ikut mendengarnya saking terlalu keras Claudya berteriak.
"Udah? Udah puas belum bertengkarnya? Kalian ini kenapa sih? Pak Rendy. Bukan baru beberapa hari yang lalu Pak Rendy menembak Jihan? Kenapa bersikap seperti ini? Dan kamu Jihan. Bukankah kau bilang padaku mengenai kelebihan Pak Rendy menurut sudut pandangmu." Ucap Claudya kesal.
"Kalau kalian terus-terusan begini bagaimana nasib hubungan kalian?" Tanya Claudya setengah menahan amarahnya.
"Hubungan? Hubungan apa? Orang kita nggak ada hubungan apa-apa kok." Ucap Jihan.
"Oh jadi ini jawabanny?" Tanya Rendy.
"Jawaban apa lagi sih?" Tanya Jihan tak mengerti.
__ADS_1
"Ok fix. Aku anggap ini sebagai penolakan." Ucap Rendy lalu pergi meninggalkan Jihan.