
"Kamu pikir aku peduli sama Claudya? Nggak sama sekali Jihan. Aku cuma cinta sama kamu nggak sama yang lain." Ucap Mario masih bersikeras.
"Mario. Cinta itu nggak bisa di paksakan. Jadi tolong please hargai keputusanku." Ucap Jihan.
"Kalau kamu mau aku menghargai keputusanmu. Kau harus menghargai keputusanku. Dan keputusanku adalah mencintaimu." Ucap Mario.
Jihan yang kesal dengak sikap Mario, ia menginjak kaki Mario. Saat Mario kesakitan ia buru-buru keluar meninggalkan Mario.
Awas kau ya Jihan. Gumam Mario dalam hati.
"Kamu kenapa?" Tanya Rendy. Ia melihat Jihan lari tergesa-gesa seketika ia menangkup tangan Jihan erat-erat.
Jihan secara refleks memeluk tubuh hangat Rendy. Tak terasa air matanya menetes di kedua pipinya dan membasahi kemeja Rendy.
"Kenapa Jihan?" Tanya Rendy sekali lagi. Namun bukannya mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang ia lontarkan justru Jihan hanya terdiam membisu.
Dari kejauhan Mario melihat Jihan dan Rendy saling berpelukan. Ia mengepalkan kedua tangannya. Aura kemarahan dan kebencian membaru menjadi satu.
"Aku butuh air." Ucap Jihan.
"Ayo kita ke kantin." Ajak Rendy.
__ADS_1
Perlahan Mario mengikuti Jihan dan Rendy. Ia tak terima jika Jihan berdekatan dengan Rendy.
Namun tiba-tiba dari arah belakang bahu Mario di tepuk oleh seseorang.
"Mario kau kenapa? Ada urusan yang sangat penting. Bisa ikut dengan Ayah? Ini tentang Jihan." Ucap Michael.
Mendengar nama Jihan, hati Mario sejetika terperanjat.
Ia langsung menyetujui untuk berbicara dengan Michael.
Sementara Jihan dan Rendy yang sudah sampai di kantin mereka memesan minuman. Jihan seperti biasanya memesan minuman orange jus kesukaannya. Rendy memesan secangkir kopi hangat.
"Dia menekanku." Jawab Jihan gugup.
"Mario?" Tebak Rendy.
Jihan hanya mengangguk sebagai jawaban.
Rendypun mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa Mario sudah sangat kelewatan batas kali ini.
"Tenang ada aku disini. Kalau boleh tahu sekarang kau di divisi apa?" Tanya Rendy yang di hantui dengan rasa penasaran yang teramat sangat.
__ADS_1
"Thanks Ren. Aku bisa gila kalau lama-lama begini. Kamu dan Mario sama-sama membuatku ingin memecahkan kepalaku sendiri." Ucap Jihan.
Rendypun perlahan menyentuh tangan Jihan. Sementara Jihan tak menampik sentuhan yang ia berikan. Perlahan ia mulai mengenggam tangan Jihan.
"Kau wanita yang luar biasa Jihan. Sehingga kau mendapatkan banyak cinta. Kau harusnya bersyukur akan hal itu. Kau hanya tinggal memilih di antara kami berdua atau sama sekali tidak memilih kami." Ucap Rendy.
"Entahlah Ren. Aku sendiri juga bingung." Ucap Jihan.
"Jika kau bingung berarti ada beberapa kemungkinan. Yang pertama kau menyukai salah seorang di antara aku dan Mario. Kedua kau tidak menyukai kami berdua. Ketiga kau menyukai kami berdua." Ucap Rendy.
"Kau benar Ren. Tapi kau tak perlu kemungkinan mana yang saat ini ku rasakan. Cukup aku saja yang tahu." Ucap Jihan.
"Ya aku mengerti. Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Kau sekarang di divisi apa?" Tanya Rendy.
"Aku, Claudya dan Mario berada di divisi production." Ucap Jihan.
"Mengapa Mario bisa bergabung disini?" Tanya Rendy.
"Entahlah mungkin karena ia anak dari Pak Michael mungkin." Jawab Jihan.
"Jihan. Ini saatnya kau bergerak. Kau adalah putri dari pemilik perusahaan ini. Apa hanya karena belum mendapatkan kemenangan kau tidak bisa mengendalikan perusahaan besarmu ini dengan kedua tanganmu? Cobalah berani berjuang." Ucap Rendy.
__ADS_1