Proposal Hati Untuk Cinta

Proposal Hati Untuk Cinta
Are You Crazy?


__ADS_3

Mendengar itu Jihan memutar matanya tanda malas. “Oh I need you too.’’ Canda Jihan.


“Jihan bisa ke ruangan saya segera?’’ Tanya Pak Michael tiba-tiba membuat terkejut Rendy dan Jihan.


“Oh ya tentu.’’ Balas Jihan. Lalu mereka berdua menuju ke ruangan Direktur Utama.


“Apa ada sesuatu yang penting?’’ Tanya Jihan sesampainya mereka di ruangan Direktur Utama.


“Saya bisa jelaskan mengenai hal kemarin Jiha. Kamu jangan salah paham.’’ Ucap Pak Michael tiba-tiba.


“Sudahlah Pak Michael Purwadinata. Saya kan sudah menjelaskan. Anda tidak perlu repot-repot menjelaskan saya sudah tahu semua.’’ Ucap Jihan.


“Tidak Jihan. Kamu harus mendengarkan saya dulu. Apa kamu tahu kemana saya mentransfer uang itu?’’ Tanya Pak Michael.


“Kamu tidak tahu?’’ Tanya Pak Michael lagi sembari ia duduk di tempat kerjanya.


“Apa itu penting? Yang terpenting saat ini terbongkarnya akal bulus mu Michael Purwadinata.’’ Ucap Jihan sembari menatap tajam Michael. Mendengar perkataan Jihan, dengan sombongnya Michael menunggingkan senyuman smirk yang menakutkan dengan tatapan yang lebih tajam. “Mari kita lihat Nona Jihan Pratama sejauh mana kamu bisa memainkan peranmu untuk Pratama Foods Group ini. Ha ha ha.’’ Seringai Michael sembari memutar kursinya membelakangi Jihan. Jihan mengepalkan kedua tangannya perasaan marah, kecewa, benci dan penyeselan menjadi satu ingin rasanya ia melampiaskan perasaan itu terhadap si tua bangka yang menjengkelkan itu. Namun, ia tahan ada saatnya nanti untuk pembalasan.


“Lihatlah. Aku yang duduk di posisi Direktur Utama bukannya dirimu. Ha ha ha.’’ Imbuh Michael.


Saking kesalnya mendengar celotehan dari Michael diam-diam Jihan pergi meninggalkan ruangan Michael.


Mendengar tak ada jawaban dari Jihan, Michael memutar kursinya. Alangkah kagetnya ia mendapati Jihan sudah taka da di ruangannya.


“Dasar bocah ingusan. Awas saja kau nanti. Berani-beraninya kau mempermainkanku. Aku belum selesa bicara. Buggg.’’ Ucap Michael dengan kesalnya sembari menghantam tangannya ke meja kerjanya.


Di sisi lain Jihan menuju ke toilet untuk mencuci muka berharap siraman air ke wajahnya dapat menyegarkan pikirannya.


“Arrgghhh. Sialan. Awas saja kau ya tua bangka. Begini caramu berterimaksih.’’ Umpat Jihan dengan marahnya.


Setelah merasa agak baikan Jihan keluar dari toilet wanita dan tiba-tiba.


“Aow.’’ Pekik Jihan rupanya ia menabrak Rendy yang akan ke toilet juga.


“Sakit tahu. Kalau jalan tu pakai mata dong. Nggak lihat-lihat apa?’’ Ucap Jihan kesal sembari mengusap bahunya yang kesakitan harus beradu dengan bahu kekar Rendy.


“Ma”. Ucapan Rendy terpotong kala akan meminta maaf kepada Jihan karena ada seorang pria yang membuat ia berhenti bicara.


“Anda tidak apa-apa Nona?’’ Ucap seorang pria berstelan jas dan celana serba hitam serta menggunakan kacamata hitam pula.


“Tidak. Aku tidak apa-apa. Hanya saja bahuku sedikit sakit.’’ Ucap Jihan sembari mengelus-elus bahunya.

__ADS_1


“Lain kali kalau jalan tolong kehati-hatiannya. Sekali lagi kau membuat Nona Jihan kesakitan kau akan berurusan denganku.’’ Ucap Mario kepada Rendy. Rendy yang merasa tak terima dengan ucapan Mario hendak ingin membalas Mario.


“Sudah-sudah. Kalau kalian mau berantem silahkan. Aku duluan.’’ Ucap Jihan kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Namun buru-buru Mario mengejar Jihan di belakangnya. Rendy yang tadinya mau membalas perkataan Mario kehilangan kesempatannya. Ia mati kutu sendiri di hadapan Jihan dan Mario.


Siapa laki-laki itu. Sepertinya orang baru. Apa kekasihnya Jihan. Gumam Rendy.


Sedikit ada perasaan tak terima dari hati Rendy. Nafasnya mulai tersenggal-senggal. Padahal sebelumnya deru nafasnya normal-normal saja. Apa aku cemburu? Ha ha are you crazy Rendy? Tanya Rendy terhadap dirinya sendiri.


Lantas Rendy bergegas ke toilet ia sudah tak sabar ingin segera BAK.


Sementara itu Mario yang masih setia mengekor pada Jihan hingga sampai ke ruangan Manager Marketing.


Saat Rendy sudah kembali dari toilet ia sangat terkejut melihat Mario berada di ruangannya. Ia mengernyitkan alisnya tanda penasaran siapa Mario sebenarnya.


“Ehem. Dia siapa?’’ Tanya Rendy meminta penjelasan kepada Jihan.


“Dia pengawalku.’’ Ucap Jihan datar sembari terus menatap layar laptop pribadinya. Rupanya Bu Diana sudah berada di kediamannya dan langsung mengirimkan file yang sudah dia janjikan untuk dikirimkan kepada Jihan.


“Baru aja soal Claudya selesai sekarang ada mahkluk lain lagi.’’ Ucap Rendy yang kesal dengan keberadaan Mario.


Mario yang hendak mendekati Rendy merasa tak terima dengan perkataan Rendy di cegah oleh Jihan.


“Iya-iya terserah kamu aja deh. Pagi-pagi kepalaku rasanya mau copot aja.’’ Ucap Rendy kesal.


“Mau di bantuin nyopot kepalanya?’’ Tanya Mario datar.


Seketika Rendy menatap lekat Mario layaknya dua orang yang saling memancarkan aura kebencian. Padahal ini kali pertamanya mereka bertemu. Jihan yang melihat situasi seperti itu hanya tersenyum di balik layar laptopnya. Lucu juga ya mereka. Gumam Jihan.


Akhirnya setelah pergulatan batin Rendy, Rendy terpaksa menerima kehadiran Mario dan Claudya. Ia menganggap mereka berdua tidak ada.


Drrtt


Drrtt


Drrtt


Panggilan masuk dari handphone Rendy.


“Ya hallo.’’ Jawab Rendy.


“Maaf Pak Rendy, ternyata klien asing yang ingin bekerja sama dengan kita yang tadinya di jadwalkan akan meeting dengan kita dimajukan jadi hari ini Pak. Karena urusan mendadak jadi klien tidak mengabari terlebih dahulu.’’ Ucap seseorang yang ternyata Tiara. Staff senior di divisi marketing. “Maaf Pak saya mengabari Pak Rendy melalui telepon karena saya sekarang berada di pabrik. Nanti saya akan kirimkan jam dan lokasi meeting nya Pak.’’ Imbuh Tiara.

__ADS_1


“Oke. Lebih cepat lebih bagus. Saya tunggu.’’ Ucap Rendy.


“Jihan hari ini kita akan meeting dengan klien asing.’’ Ucap Rendy kepada Jihan.


“Lho bukannya besok?’’ Tanya Jihan terkejut.


“Segala sesuatu di bisnis itu bisa berubah tanpa kita duga. Makanya kita harus selalu siap siaga.’’ Jelas Rendy.


“Oh oke.’’ Jawab Jihan.


Ting. Notifikasi dari handphone Rendy. Pesan dari Tiara yang mengirimkan jam dan lokasi meeting Rendy dengan klien.


“Jam 2 siang nanti kita meetingnya. Apa dia juga mau ikut?’’ Tanya Rendy sembari menunjuk Mario.


“Of course.’’ Jawab Jihan. Seketika Rendy menepuk jidatnya. “Dia bisa berjaga-jaga di luar nantinya.’’ Imbuh Jihan.


“Kamu bisa menyetir?’’ Tanya Rendy kepada Mario.


“Maaf tugas saya bukan menyetir kendaraan tetapi melindungi Nona Jihan.’’ Jawab Mario datar.


Sial. Mana driver kantor sudah ada jadwal semua lagi. Umpat Rendy dalam hati.


“Terus aku harus jadi sopir kalian gitu?’’ Tanya Rendy kesal.


Langsung ia menghubungi Tiara berharap meeting nya bisa diadakan di perusahaan. Sayangnya tidak bisa karena waktu klien sangatlah terbatas di Indonesia.


Arrgghhh. Sial sekali hari ku ini. Gumam Rendy.


Melihat itu Mario hanya menunggingkan senyuman nya yang manis.


***


Jam menunjukkan pukul 12.00 wib. Rendy, Jihan dan Mario bergegas menuju ke tempat meeting. Karena Jakarta sering macet jadi mereka berangkat lebih awal.


Saat Rendy hendak membuka pintu di kursi pengemudi Mario menampik tangannya dan mengambil alih kemudi. Rendy dan Jihan yang melihatnya terkejut atas sikap Mario. Kemudian Jihan memilih duduk di kursi belakang sedangkan Rendy di samping Mario yang menyetir.


“Sambungkan lokasi nya ke mobil.’’ Ucap Mario kepada Rendy. Rendy langsung menyambungkan tujuan lokasi ke maps mobil.


Setelah mereka keluar dari pabrik, tanpa mereka sadari ada mobil lainnya yang mengikuti mereka dari arah belakang.


Mario yang mengetahui itu hanya menampilkan senyuman smirknya.

__ADS_1


__ADS_2