PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 178 "Harta Karun Itu Sudah Ada di Hadapanku..."


__ADS_3

"Baiklah, sudah saatnya kita pulang.."


Yan Feng mengangguk dan mulai berjalan, namun baru satu langkah ia tiba-tiba terjatuh. Tang Lian langsung membawanya kembali berdiri, ia heran apakah anak ingusan ini berpura-pura lemas?.


Tepat ketika dia ingin bertanya tiba-tiba perut Yan Feng bersuara karena lapar.


"Feng'er, apa kau sudah makan tadi siang?.." Tanya Tang Lian pada putranya yang kini berdiri saja gemetar.


"Tidak ayah, aku tidak makan apapun dari siang. Tidak ada satupun ikan yang bisa aku pancing..." Jawabnya jujur.


"Jadi kau kelaparan?.."


"Um..."


Melihat Yan Feng yang mengangguk, Tang Lian hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa bocah kecil itu bisa menahan lapar, karena di usianya yang masih ingusan itu seharusnya ia tidak boleh telat makan karena itu untuk pertumbuhannya. Untung saja Tang Lian pada saat itu sudah selesai berlatih, jika tidak putranya itu mungkin akan mati kelaparan.


Tidak ingin berpikir terlalu lama, Tang Lian lalu mengangkat Yan Feng dan mendudukkannya di atas lehernya, "Biar ayah bawa kau pulang..". Ujarnya lalu membawa Yan Feng turun dari mulut goa itu.


Disisi Yan Feng, kini ia duduk diatas leher ayahnya dan kakinya di jatuhkan diantara kedua pundak ayahnya. Perasaannya saat ini, ia merasa sangat senang duduk di atas sana.


Dibawah gelapnya malam yang sudah datang, Yan Feng dan ayahnya berjalan pulang ditemani dengan sinar bulan sabit dan jutaan bintang yang sangat terang.


Yan Feng memandang keatas, ia melihat suasana langit yang begitu indah, dan dia tersenyum senang melihat itu. Tang Lian yang melihat itu juga kemudian ikut tersenyum.


"Feng'er, dari mana kau tau jika ayah berlatih di goa itu?.." Tanya Tang Lian untuk memecah keheningan dalam perjalanan.


"Sebenarnya aku tidak tau sama sekali jika ayah berlatih disana.."


"Jadi apa yang membawamu kesana?.." Tanya Tang Lian kembali dengan wajah yang sedikit bingung.


"Harta Karun.." Jawab Yan Feng santai.


"Ha? Dari mana kau mendapatkan pikiran jika disana ada harta Karun?."


"Sebelumnya aku membaca, jika beberapa kultivator secara tidak sengaja menemukan goa, dan ketika mereka masuk mereka mendapatkan harta karun. Dan aku kira goa itu juga punya harta karun karena aku tidak sengaja menemukannya."

__ADS_1


Mendengar itu, kemudian Tang Lian tertawa, "Hahaha...."


"Kenapa ayah tertawa? Apakah ada yang salah dari ceritaku?.." Tanya Yan Feng heran.


"Tidak, tidak ada yang salah.." Jawab Tang Lian seraya menggelengkan kepalanya.


"Lalu? Apa jangan-jangan yang tertulis di buku itu bohong?.."


"Tidak juga... Memang benar, beberapa kultivator yang menemukan goa tersembunyi itu akan mendapatkan harta karun, tapi itupun jika mereka beruntung. Karena untuk mendapatkan harta karun juga memiliki rintangan.." Ujar Tang Lian menjelaskan.


"Ooohhh... Jadi aku adalah orang yang tidak beruntung ya..." Ucap Yan Feng sebelum ia memasang ekspresi wajah yang cemberut.


Melihat putranya yang cemberut dan kecewa, Tang Lian kemudian berkata, "Bukannya Feng'er tidak beruntung, hanya saja ayah sudah mengambil harta Karun itu duluan.."


"Oooh... Jadi gara-gara itu ya... Cuh!.." Yan Feng kemudian mendecihkan lidahnya kesal.


"Kenapa mendecih begitu?.." Tanya Tang Lian seraya terus melangkahkan kakinya dan menaikkan bola matanya.


"Aku kesal!.. Ayah sudah dapat harta Karunnya, tapi mengapa ayah tidak bilang sebelumnya?.."


Mata Yan Feng seketika berbinar ketika mendengar itu. Dengan tidak sabar ia bertanya pada ayahnya, "Jadi mana harta karunnya? Cepat ayah, aku ingin lihat!!.."


Ekspresi Yan Feng yang awalnya kesal, kini berubah menjadi ekspresi tidak sabaran seperti anak kucing kecil yang tidak sabaran ketika di beri makanan oleh tuannya.


Tang Lian menatap itu seraya tersenyum dan berkata, "Harta karun itu sudah kamu lihat, tapi tidak kamu sadari saja.."


"Dimana? Kapan? Aku tidak lihat apapun dari tadi?.."


Tang Lian kemudian berhenti kemudian berbalik ke arah air sungai yang mengalir dengan tenang. Ia berdiri di tepi kemudian menatap kebawah.


"Feng'er, apa yang kamu lihat di air itu?.."


Yan Feng yang sedari tadi bingung dan penasaran dengan apa yang dilakukan ayahnya, kemudian menatap ke air itu juga. Ia menatap dalam-dalam ke air itu, tapi tidak bisa melihat apapun kecuali pantulan bayangan ribuan bintang dan ayahnya yang berdiri bersama dia yang sedang duduk di pundaknya.


"Aku lihat bayangan bintang, ayah, dan aku...." Jawab Yan Feng dengan kurang yakin.

__ADS_1


"Tapi mengapa ayah tidak melihat itu sama sekali?.."


"Ha?.." Yan Feng kini semakin bingung.


"Di dalam air itu ayah melihat harta karunnya..." Ujar Tang Lian lembut.


Mendengar perkataan ayahnya, sekali lagi Yan Feng melihat ke arah air itu. Ia memperhatikan dengan seksama tentang harta Karun yang disebutkan ayahnya. Namun sekeras apapun ia berusaha, ia hanya melihat dirinya dan ayahnya di air itu.


"Ayah, Jika tidak mau menunjukkannya sudah tidak apa-apa. Aku benar-benar tidak melihat apapun selain bayangan ayah, aku, dan bintang saja.." Ucap Yan Feng yang kecewa.


"Itu tidak benar Feng'er, coba kamu perhatikan sekali lagi dan hilangkan tentang bintang yang kamu lihat dan itulah harta karunnya.."


Yan Feng pun melakukan apa yang dikatakan ayahnya. Ia kemudian menatap kembali ke air itu dan tidak menganggap bintang sama sekali, kini yang dia lihat hanyalah dia dan ayahnya.


"Ayolah!! Dimana sih harta Karun yang dikatakan ayah? Mengapa aku tidak melihatnya juga?.." Batin Yan Feng dan berusaha keras mencari harta Karun yang dimaksud ayahnya.


"Didalam buku itu dikatakan jika harta Karun itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Lalu apa yang kulihat berharga di air itu hanyalah..." Yan Feng kemudian terdiam, matanya terpaku pada dia dan ayahnya. Sedetik kemudian air matanya menetes.


Benar, apa yang dimaksud ayahnya dengan harta Karun itu adalah dirinya sendiri! Dirinya yang sedang duduk dipundak ayahnya! Dan ia baru saja menyadari itu!


Tang Lian menyadari jika Yan Feng meneteskan air matanya namu ia membiarkannya dan tersenyum.


"Sudah melihat harta Karun itu?.." Tanya Tang Lian lembut.


"Aku.... Aku.... Sudah melihatnya ayah!.." Jawab Yan Feng yang kemudian tidak bisa menahan lagi suara tangisannya.


Melihat itu, Tang Lian kemudian menurunkannya lalu ia berlutut mensejajarkan diri dengan Yan Feng. Ia memegang pundaknya dan berkata, "Harta Karun itu tidak selalu berbentuk benda. Sesuatu yang sangat berharga itu adalah harta Karun, dan bagi ayah kamu adalah harta Karun itu, harta Karun ayah yang harus ayah lindungi meskipun harus mengorbankan nyawa.."


"Tapi.... Tapi.... Tapi mengapa? Mengapa harus aku? Aku bukanlah putra kandung ayah!?.." Ujar Yan Feng dengan suara sesenggukan.


"Apa itu penting? Dengar Feng'er, meskipun kamu bukan putra kandungku, tapi aku menyayangimu seperti anak kandungku sendiri. Dan dimasa depan, kamu harus bangga dan berteriak kamu adalah putraku mengerti?.."


Mendengar itu, Yan Feng seketika melompat kedalam pelukan ayahnya, ia memeluknya sangat erat dengan air mata bahagia yang tidak pernah ia rasakan.


"Aku mengerti ayah! Aku mengerti!.." Jawabnya dengan keras dan semakin menangis.

__ADS_1


Tang Lian tersenyum dan membiarkannya terus memeluknya, ia pikir akan membiarkan Yan Feng sampai tenang baru melanjutkan kembali perjalanan. Ia membalas pelukan itu seraya tersenyum dan mengelus rambut anak itu dengan lembut.


__ADS_2