PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 54 "Membunuh Chao Peng"


__ADS_3

Disuatu tempat yaitu kediaman pemimpin kota singa api sedang terlihat Chao Peng yang sedang meminum darah seorang wanita yang baru saja dia setubuhi. Wanita itu terlihat masih berusia dua puluh tahun tapi sekarang mati dengan mengenaskan setelah Chao Ping menyetubuhinya dan membunuhnya kemudian meminum darahnya.


"Bar..bar..bar...."


Seorang prajurit mengetuk pintu kamar Chao Peng dengan keras sehingga membuat Chao Peng kesal.


"Siapa yang begitu berani mengganggu ketenanganku!!" Chao Peng berteriak marah dan membuka pintu.


"Pemimpin kota, maafkan aku tetapi ini sangat gawat..." Prajurit itu berbicara dengan gagap karena takut.


"Katakan...!!" Chao Peng masih berkata dengan teriakan marah.


"It...itu..."


"Itu apa? Berbicaralah dengan jelas..!!!" Chao Peng semakin berteriak dengan keras.


"Gi...giok jiwa tuan muda telah hancur..." Ketika prajurit itu selesai berbicara disitulah kepalanya hancur seketika karena dihajar oleh Chao Peng dengan senjata berbentuk palu besar.


"Bajingan!!! Siapa yang telah berani membunuh putraku!!!" Chao Peng berteriak sangat marah.


Karena teriakan Chao Peng yang sangat keras hingga hampir seluruh kota mendengarnya kemudian ada yang bersyukur didalam hati mereka karena babi bajingan yang telah menodai anak perempuan mereka telah mendapatkan balasan yang lebih, namun juga ada yang ketakutan karena begitu Chao Peng mengamuk maka banyak nyawa yang akan melayang.


Setelah itu Chao Peng bergerak membawa lima ratus pasukannya kearah penginapan singa api dengan cara mengikuti jejak aura anaknya yang tersisa.


Sedangkan disisi Tang Lian dia begitu tenang dan melanjutkan acara makannya setelah mayat Chao Peng dan para bawahannya telah dikumpulkan disatu tempat dan membersihkan bekas darahnya.


"Tuan muda, yang barusan adalah teriakan pemimpin kota aku harap tuan segera pergi dari kota ini.." Pelayan yang sebelumnya ditolong oleh Tang Lian berkata dengan khawatir.


Namun Tang Lian beserta istri dan para bawahannya seolah-olah tidak peduli dan hanya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Oh? Mengapa?" Tang Lian berkata sambil menyunggingkan senyumnya dan itu menandakan dia sama sekali tidak takut apapun.


"Itu karena jika pemimpin kota telah marah maka tidak ada yang pernah selamat darinya.." Pelayan itu berkata lagi sambil terus berusaha menyuruh Tang Lian menyelamatkan diri.


"Benarkah?" Tang Lian bertanya lagi dengan santai dan terus menyantap makanannya.


"Itu benar tuan muda.."


"Maka hari ini kamu akan melihat kebalikannya..." Tang Lian berkata sambil terus menyantap makanannya dengan santai.


"Maksud tuan muda apa?" Pelayan itu bertanya dengan bingung.


"Aku akan membunuh pemimpin kota ini" Tang Lian berkata dengan santai dan lapang.


"Tapi tuan muda..."


"Sudahlah, kamu tenang saja dan tidak perlu khawatir karena aku sudah memikirkan semuanya.." Tang Lian berkata demikian sebelum Pelayan itu menyelesaikan perkataannya.


"Aku sangat senang dan bersyukur ketika pemuda itu dengan berani membunuh babi sialan itu, tetapi pada akhirnya dia tetap akan mati mengenaskan juga..."


"Itu benar saudara, aku juga merasakan hal yang sama, hais...dunia ini sungguh tidak adil.."


"Ya, dunia ini sungguh tidak adil saudara, karena orang-orang yang baik seperti pemuda itu ditakdirkan mati dengan mengenaskan..."


Orang-orang berbisik-bisik dan membicarakan Tang Lian karena menyayangkan ini. Disisi Tang Lian tentu saja dia mendengarnya dengan jelas namun dia hanya diam sambil tersenyum misterius. Sebenarnya Yun Mei ingin berdiri dan menampar orang yang sedang membicarakan suaminya karena seperti sedang mendoakan suaminya mati dengan mengenaskan, namun Tang Lian menghentikannya.


Kemudian sepuluh menit setelah teriakan marah dari Chao Peng sekarang dia telah tiba didepan penginapan singa api itu.


"Orang yang telah membunuh putraku keluarlah!!!" Chao Peng berteriak memanggil didepan penginapan itu.

__ADS_1


Tang Lian yang mendengar itu kemudian tersenyum kemudian mengambil tubuh Chao Ping yang ada di bawah kakinya dan berjalan keluar diikuti oleh istri dan para bawahannya kemudian diikuti oleh orang-orang dari dalam penginapan itu.


"Aku disini.." Tang Lian berkata kemudian menjatuhkan tubuh Chao Ping dan menginjaknya dengan suara dan raut wajah yang meremehkan.


Chao Peng yang melihat itu kemudian tidak bisa menahan rasa amarahnya lagi karena tindakan Tang Lian barusan sama seperti menginjak dirinya juga. Lalu menyuruh para prajuritnya menyerang dan membunuh Tang Lian.


Peperangan tidak bisa dihindari lagi, Lao Hu juga sudah mengubah dirinya menjadi harimau setinggi tiga meter dan Wang Long tetap menjadi ular putih namun tubuhnya membesar menjadi sangat besar, Tang Lian juga mengeluarkan pedang darah penghakimnya.


Pertempuran lima orang melawan lima ratus orang telah pecah dikota singa api itu. Sebenarnya ini tidak bisa disebut sebagai pertempuran, ini seharusnya disebut pembantaian massal. Orang-orang yang menonton itu hanya bisa membelalakkan matanya tidak percaya.


Karena setiap ayunan pedang Tang Lian setidaknya sepuluh orang akan mati, kemudian semua para bawahan Tang Lian juga sama, Tang Lian dan para bawahan dan istrinya yang sedang bertempur hanya tersenyum sambil terus mengayunkan senjata mereka seolah-olah sangat menikmati pertarungan ini.


"Ini... bagaimana mungkin..." Chao Peng berkata seolah tak percaya menatap prajuritnya dibantai dengan mudah oleh kelompok Tang Lian.


"Pemimpin kota, sepertinya kita harus bergerak sekarang atau prajurit kita akan dibantai habis oleh para bajingan itu..." Salah satu komandan dari enam komandan yang ada disamping Chao Peng mengusulkan pendapatnya.


"Ya, kamu benar....baiklah semuanya bunuh mereka semua tetapi wanita itu harus ditangkap hidup-hidup karena aku ingin menikmati tubuhnya terlebih dahulu..." Chao Peng berkata dengan wajah mesumnya dan menjilati bibirnya, dia tidak sadar lagi bahwa putranya mati ditangan kelompok itu.


Namun sesuatu yang mencengangkan tiba-tiba terjadi, keenam komandan yang ada disampingnya sebelumnya tiba-tiba kepala mereka terpisah dari lehernya dan mati dalam kebingungan tentang sejak kapan mereka dapat menatap tubuhnya sendiri tanpa kepala.


Chao Peng yang melihat itu menjadi tertegun dan sejenak kemudian merinding ketakutan, keenam komandan sebelumnya berada diranah jendral perak tingkat menengah kemudian dapat dibunuh dengan mudah oleh seseorang, sedangkan Chao Peng sendiri berada diranah jendral perak tingkat puncak.


Chao Peng tidak tau siapa yang membunuh keenam komandannya sampai pada akhirnya dia juga tiba-tiba menatap tubuhnya sendiri tanpa kepala dengan seorang pria muda memegang pedang berwarna merah sepanjang tiga meter didepan tubuhnya.


"Sungguh lemah..." Tang Lian berkata dan meludahi mayat Chao Peng.


***BERSAMBUNG***


Halo para pembaca yang Budiman, terimakasih telah mampir di novel ini jangan lupa klik tombol like dan terus dukung author juga dengan kasi vote novel author terima kasih.....

__ADS_1


tunggu ada yang bilang hadiah? Author mau dong 😁


**********SAMPAI JUMPA***************


__ADS_2