PUTRA SANG PENGUASA

PUTRA SANG PENGUASA
Episode 89 "Wanita Yang Tak Tahu Berterima Kasih"


__ADS_3

"BAM!..".


Dengan kesal Tang Lian menendang pintu kamar dan keluar dari sana. Kemudian pada saat ini juga diluar kamar itu Tang Lian telah ditunggu oleh kedua istrinya, Zhao Yu dan Wu Min yang juga telah memutuskan mengabdikan hidupnya pada Tang Lian. Tang Lian yang menendang pintu dengan kasar membuat semuanya terkejut.


"Suami?." Jia Li dengan bingung bertanya.


Namun alih-alih menjawab, kemudian Tang Lian menatap tajam Wu Min lalu berkata, "Wu Min, aku peringatkan agar kau mengajari kembali kakakmu itu cara berterima kasih!!."


"Ba-baik tuan..." Dengan gelagapan Wu Min menjawab.


Setelah itu Tang Lian pergi meninggalkan semua orang disana tanpa peduli bagaimana ekspresi semua orang menatapnya dengan bingung.


"Kenapa dengan suami?." Jia Li berkata dengan bingung.


"Dia sedang marah..." Seraya menggelengkan kepalanya, Yun Mei yang sedang mengelus-elus Wang Long yang melilit dilengannya menjawab.


Disisi Zhao Yu, dia tidak memperdulikan apa yang dibicarakan oleh kedua istri tuannya itu lalu masuk ke kamar itu dengan ekspresi wajahnya yang tetap saja datar dan dingin.


"Hm? Zhao Yu kau mau kemana?." Yun Mei dengan firasat buruk bertanya kepada Zhao Yu yang lewat dari depannya.


"Mewakili tuan untuk melampiaskan amarahnya.." Dengan dingin Zhao Yu menjawab dan terus berjalan.


Mendengar jawaban Zhao Yu kemudian kedua istri Tang Lian dan Wu Min semakin merasakan firasat buruk lalu menyusul juga masuk kekamar dimana Wu Sue sedang terbaring dengan bengong.


"Swosh...!."


Zhao Yu melemparkan tombaknya kearah kasur Wu Sue yang sedang terbaring dengan bengong.


Merasakan bahaya mendekatinya, Wu Sue kemudian dengan sigap melompat dari kasur itu.


"Bam...!."


Tombak Zhao Yu menghancurkan kasur itu.


"Siapa itu!?."


Karena tidak tahu siapa yang menyerangnya, Wu Sue bertanya dengan kesal seraya memegang perutnya yang terasa sakit karena luka dalamnya.


Namun bukannya menjawab, Zhao Yu malah mengeluarkan aura penindasan yang kuat dan difokuskan pada Wu Sue lalu bertanya kembali.


"Apa yang kau katakan pada tuanku?."

__ADS_1


Wu Sue yang tidak dapat menahan aura penindasan itu kemudian berlutut dengan terpaksa lalu menjawab.


"A-Aku tidak mengataka apa-apa.." Dibawah tekanan Zhao Yu Wu Sue dengan susah payah menjawab.


Mendengar jawaban Wu Sue yang bohong membuat Zhao Yu menguatkan lagi tekanannya.


"Jangan berbohong padaku!!." Dengan suara yang mulai agak meninggi Zhao Yu berkata seraya menguatkan tekanannya.


Disisi Wu Min yang baru saja menyusul bersama kedua istri Tang Lian, wajahnya sudah memutih seperti kertas dan merasa tamatlah sudah riwayatnya.


"Sudahlah Zhao Yu, kau tidak perlu mencampuri urusan seperti ini kan?." Yun Mei berkata.


Zhao Yu tidak membalas perkataan Yun Mei dan hanya menarik kembali aura penindasannya lalu berkata, "Kau beruntung karena nyonya muda pertama ada disini, perlu kau ingat bahwa kemarahan tuanku adalah kemarahanku!!."


Setelah berkata demikian, Zhao Yu lalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah yang masih datar. Sedangkan disisi Wu Min dia menghela nafas lega, berbeda dengan Wu Sue yang sekarang paham apa yang dimaksud oleh perkataan Tang Lian sebelumnya. Wu Sue berpikir entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika Yun Mei tidak menghentikan Zhao Yu.


"Kakak, apa yang kamu lakukan sehingga membuat tuan muda marah?." Wu Min bertanya pada kakaknya.


"Aku...."


Wu Sue bingung harus berkata apa.


"Aku..... Aku minta maaf..."


"Minta maaf? Apa kau tahu, jika kau adalah orang pertama yang dibuatkan obat secara pribadi oleh suamiku, dan setelah membuangnya kau dengan mudahnya meminta maaf? Hmph.. Dasar tak tau malu!!."Jia Li berkata dengan kesal.


"Sudahlah adik Li, tidak usah repot-repot menjelaskan pada wanita yang tidak tahu cara berterima kasih, sebaiknya kita pikirkan cara agas suami tenang.." Yun Mei berkata pada Jia Li kemudian meninggalkan Wu Min dan kakaknya dikamar itu.


Sedangkan disisi Tang Lian saat ini, dia baru saja sampai didalam kamarnya dan ingin membaringkan tubuhnya namun pesan darurat dari Lao Hu tiba-tiba muncul dipikirannya.


"Tuan kami dikepung!!."


Begitulah pesan darurat dari Lao Hu.


Setelah itu Tang Lian kemudian melesat dengan cepat seperti kilat menuju tempat Lao Hu.


Disisi Lao Hu, satu jam sebelum pesan darurat dia kirimkan :


"Ibu, aku pulang!." Yan Feng berkata dan membuka pintu sebuah kamar, dan didalam kamar itu terbaring seorang wanita yang berusia dua puluh tujuh tahun, wajahnya pucat, bibirnya membiru seolah-olah dia kedinginan, namun meskipun begitu kecantikannya masih telihat jelas.


"Feng'er... Uhuk....uhuk...uhuk..."

__ADS_1


Ibu Yan Feng ingin menyambut anaknya yang baru saja pulang namun dia terlalu lemah dan merasa sakit yang teramat didadanya.


"Ibu, tidak usah memaksakan diri menyambutku, ibu masih lemah..." Yan Feng dengan cepat berlari kearah ibunya dan memegang tangannya.


Ibunya tersenyum mendengar perkataan Yan Feng kemudian mengelus lembut rambutnya.


"Ibu, lihat! Aku sudah membawakan obat untuk ibu!!." Dengan senang Yan Feng berkata.


Melihat pil embun yang dikeluarkan oleh Yan Feng, ibunya kemudian terkejut lalu berkata, "Feng'er dari mana kamu mendapatkan pil embun ini? Kamu tidak mencurinya kan?."


"Ibu, apa yang ibu katakan? Ibu yang mengatakan padaku jika mencuri itu perbuatan tercela, lalu mana mungkin aku mencurinya..." Yan Feng dengan sedikit ekspresi sedih berkata.


"Tapikan harga pil ini sangat mahal?."


"Ibu... Apa ibu tidak mempercayaiku?."


"Tentu saja ibu mempercayai putra kesayangan ibu, tapi tetap saja..." Ibu Yan Feng menghentikan kata-katanya.


Untuk beberapa detik keheningan terjadi disana, kemudian Yan Feng berkata, "Aku sudah menjual mansion warisan kakek ibu..."


Dengan sedih Yan Feng berkata seraya menundukkan kepalanya. Disisi ibunya yang mendengar itu kemudian dengan merasa bersalah, dia meneteskan air matanya.


"Maafkan ibu nak, maafkan ibu...." Seraya menangis dan membawa Yan Feng kepelukannya ibunya berkata.


"Tidak apa-apa ibu, tidak apa-apa, meskipun mansion itu diwariskan kakek untukku sebelum kepergiannya menyusul ayah, tapi kesehatan ibu lebih penting bagiku ibu..." Yan Feng membalas pelukan ibunya dan ikut menangis.


Disisi Lao Hu yang duduk diatas meja dan melihat semuanya kini menjadi paham mengapa anak ini begitu berharap agar Tang Lian membeli mansionnya, ternyata adalah karena ingin ibunya sembuh.


Yan Feng hanya tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya mati karena dibunuh, kakeknya mati karena sakit yang sama seperti ibunya, ibunya sudah enam bulan terbaring dikasur karena penyakitnya, jadi selama ini Yan Feng hanya berjuang seorang diri untuk menafkahi hidupnya dan ibunya.


Hanya melihat dengan sekilas, Lao Hu tentu saja sudah paham akan hal ini karena rumah yang Yan Feng tinggali bersama dengan ibunya juga sudah tua, bahkan ada beberapa bagian rumah itu yang sudah dimakan rayap, atap rumah juga memiliki cukup banyak bocoran.


Kemudian, Lao Hu juga teringat bahwa Tang Lin juga dulu sebelum menjadi sang penguasa juga mengalami kehidupan yang sama pahitnya dengan apa yang dia lihat saat ini, namun juga kehidupan tuan besarnya itu dimasa lalu juga jauh lebih menyedihkan dari ini, hingga tak sadar Lao Hu juga meneteskan air matanya mengingat bagaimana ini hampir sama dengan penderitaan tuan besarnya dimasa lalu.


"Fei Fei! Keluar kau!!!."


Seseorang berteriak dengan keras dari depan rumahnya Yan Feng.


*****BERSAMBUNG**


Kasih Like Dan Votenya Dong Kak, Bang, Om, Tante, Atau Apalah itu😣😣😣***

__ADS_1


__ADS_2